Waspada
Waspada » Ubi Racun Bernilai Ekonomis Tinggi, Dinas Tanaman Pangan Anjurkan Alih Fungsi Lahan
Aceh Headlines

Ubi Racun Bernilai Ekonomis Tinggi, Dinas Tanaman Pangan Anjurkan Alih Fungsi Lahan

KEBUN ubi racun yang dikelola kelompok masyarakat Desa Lae Butar, memasuki usia 8 bulan memasuki masa panen. Waspada/Ist
KEBUN ubi racun yang dikelola kelompok masyarakat Desa Lae Butar, memasuki usia 8 bulan memasuki masa panen. Waspada/Ist

SINGKIL (Waspada): Masyarakat di Kecamatan Gunung Meriah secara swakelola mengembangkan tanaman ubi kayu atau jenis ubi racun dia atas lahan seluas sekitar 30 hektar, di masa pandemi Covid-19.

Tanaman ketela atau yang selama ini disebut sebagai ubi racun secara umum, selama ini tidak banyak yang tau bisa dikelola dan dimanfaatkan.

Namun ternyata, ubi kayu dengan jenis pohon dan batang lebih besar dan usia panen yang lebih lama ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan Kabupaten Aceh Singkil, H Kuatno kepada Waspada, Rabu (2/12) mengatakan, ternyata ubi kayu jenis ubi racun memiliki nilai ekonomis tinggi.

Tanaman perdana masyarakat ini akan dilakukan panen perdana langsung secara besar-besaran pekan depan oleh Bupati Aceh Singkil Dulmusrid.

“Hama juga tidak mau makan. Ubi kayu jenis ini kalau orang bilang ubi racun. Padahal jika direbus lebih lama, kandungan racunnya yang bisa menyebabkan mencret, hilang. Jadi ubi ini bisa dimanfaatkan,” ucap Kuatno.

Untuk nilai ekonomisnya, Kuatno menjelaskan, nilai jual ubi bisa mencapai Rp1,500 per kilogram.

Dari penjualan setiap satu kilo bisa mencapai keuntungan diperkirakan bisa mencapai Rp300 sampai Rp700.

Sementara ubi kayu yang dihasilkan, bisa mencapai 15 kilogram setiap satu batang tanaman ubi.

“Ini laporan petani yang sudah menanam dan sudah mencoba memasarkan, dijual ke pabrik di Siantar Sumatera Utara (Sumut) untuk dikelola menjadi tepung tapioka,” ucap Kuatno.

Kuatno juga memastikan, dengan kondisi tanah dan gambut yang subur di Aceh Singkil tanaman ubi lebih memiliki nilai ekonomis ketimbang tanaman sawit.

Dan dipastikan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Sudah jelas, hasilnya setelah kita hitung lebih menguntungkan ubi kayu dari pada kelapa sawit. Dan bisa untuk mencoba alih fungsi lahan ke tanaman ubi, bagi tanaman sawit yang sudah tidak produktif,” ujarnya.

Ini merupakan tanaman perdana masyarakat bersama salah satu anggota dewan Al Hidayat.

Selanjutnya karena keberhasilan mereka, melalui aspirasi Al Hidayat, petani akan mendapatkan biaya bantuan tanam sekitar 10 hektar di Desa Gunung Lagan dan Desa Tanah Bara, dengan nilai anggaran sekitar Rp148 juta. (b25)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2