Transportasi Penumpang Singkil-Kuala Baru Menanti Tergerus Zaman - Waspada

Transportasi Penumpang Singkil-Kuala Baru Menanti Tergerus Zaman

  • Bagikan
TRANSPORTASI Penumpang Singkil-Kuala Baru, di lokasi tambatan perahu Desa Kilangan, Kecamatan Singkil hendak menyeberang ke Kecamatan Kuala Baru, Senin (20/9). Waspada/Arief H
TRANSPORTASI Penumpang Singkil-Kuala Baru, di lokasi tambatan perahu Desa Kilangan, Kecamatan Singkil hendak menyeberang ke Kecamatan Kuala Baru, Senin (20/9). Waspada/Arief H

SEJAK 2004 silam, Kuala Baru resmi menjadi sebuah kecamatan defenitif di Kabupaten Aceh Singkil, setelah dimekarkan dari Kecamatan Singkil, yang ditetapkan berdasarkan Qanun Kabupaten Aceh Singkil Nomor 02 tahun 2004.

Sebelum resmi menjadi kecamatan defenitif, Kuala Baru juga sempat ditetapkan sebagai kecamatan pembantu di Kabupaten Aceh Singkil.

Sejak 17 tahun silam aktifitas masyarakat harus memanfaatkan perahu mesin yang hendak menuju kawasan Ibukota Kabupaten Aceh Singkil.

Awal mulanya masyarakat hanya memanfaatkan transportasi pribadi hendak menuju Ibukota Kabupaten. Namun populasi yang semakin meningkat dan daerah itu mulai banyak dikunjungi masyarakat dari luar, termasuk PNS dan pekerja lainnya yang bertugas di wilayah itu.

Sehingga masyarakat pun berinisiatif membuat transportasi perahu bermesin dengan ukuran lebih besar, yang akan dimanfaatkan sebagai angkutan penumpang pulang pergi membawa masyarakat menyeberang dari Kecamatan Singkil menyusuri Sungai Singkil selama sekitar 1 jam perjalanan menuju Kecamatan Kuala Baru dan sebaliknya.

Kini, perahu mesin yang bermuatan sekitar 20 orang penumpang itu, menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Singkil dan Kuala Baru.

Bagaimana tidak, selama melayani penumpang menjadi angkutan transportasi Singkil-Kuala Baru, meski tidak banyak, namun mereka mampu menghidupi keluarga serta menyekolahkan anak-anak mereka, kata salah satu nakhoda Perahu Mesin, Riduan, 47, saat dikonfirmasi Waspada, Jumat (17/9).

Riduan menyebutkan, saat ini mata pencaharian mereka hanya dengan menyediakan transportasi penumpang.
Ada 15 tranportasi perahu mesin yang beroperasi saat ini. Sebelumnya mereka menghidupi keluarga dengan melaut mencari ikan.

Mereka terpaksa beralih profesi dari nelayan menjadi nakhoda transportasi penumpang. Sebab sering dihantam badai dan tidak ada hasil dibawa pulang. Belum lagi banyak korban yang tenggelam di dekat Kuala sehingga, menyebabkan sebagian nelayan mulai takut melaut.

Dan bahkan para anak dan istri kerap khawatir saat kepala keluarga mereka tak kunjung pulang saat mencari nafkah ditengah laut. “Akhirnya mereka juga lebih mendukung jika menjadi nakhoda angkutan penumpang, karena tidak harus merasa kecemasan seperti saat melaut,” ucap ayah tiga anak itu.

Begitupun kata Riduan, zaman terus berkembang dan daerah itu juga semakin maju. Apalagi saat ini jembatan yang menghubungkan Desa Kilangan dengan Kuala Baru terus dipacu pembangunannya.

“Kami juga menyadari, kami juga menginginkan daerah kami maju dan berkembang dengan dibangunnya jembatan dan jalan menuju Kecamatan Kuala Baru. Tidak ada pilihan lain, kami harus siap untuk kehilangan mata pencaharian kami beberapa tahun mendatang. Namun, kami juga sangat berharap, ke depannya setelah pembangunan jembatan dan jalan tuntas, Pemkab Aceh Singkil bisa mencarikan solusi untuk lapangan kerja kami akan datang. Yang terpenting kami tidak lagi harus ke laut bertaruh nyawa siang dan malam,” sebut Riduan.

Disebutkannya, pekerjaan sebagai nakhoda transportasi sudah di jalani selama 8 tahun. Dari pekerjaan yang digelutinya itu Riduan mengaku mendapat Rp100 ribu perhari.

“Rata-rata Rp100 ribu per hari, kalau Robin (perahu) jalan semua ada 15 Robin, hasilnya bisa tidak sampai segitu. Alhamdulillah tidak banyak, tapi cukup untuk makan dan sekolah 3 anak saya,” tandasnya.

Mantan Camat Kuala Baru tahun 2012-2018, Gusrianto saat berbincang dengan Waspada, Senin (20/9) di Singkil mengatakan, Kuala Baru menjadi kecamatan defenitif sejak 2004 berdasarkan Qanun Aceh Singkil nomor 02 tahun 2004.

Sebelum itu, pada 2003 daerah itu sebagai Kecamatan Pembantu selama 1,5 tahun yang dipimpin Adam Yoes sebagai Camat Pembantu.

Kemudian setelah defenitif, Kecamatan Kuala Baru dipimpin Amir Hasan sebagai Camat pertama.

Dilanjutkan Azman, kemudian Ahmad Rivai, Abdul Manaf, Gusrianto, Syam’un Nasution dan saat ini dijabat Juardin.

Dulu transportasi penumpang tanpa tenda, dan hanya memanfaatkan perahu, tapi ada yang menumpang menunggu banyak dulu baru berangkat.

Sejak beberapa tahun terakhir karena sudah menjadi khusus transportasi penumpang maka dibuat tenda oleh nakhoda biar nyaman.

Banyak potensi yang dimiliki di Kuala Baru, selain kerajinan tangannya Kasab Sulam Emas yang sudah dikenal, ada potensi sumberdaya alamnya, yakni Madu Hutan, hasil kelautan dan objek wisatanya jika dikelola dengan baik.

“Termasuk kawasan rawa Singkil yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Selatan,” terang Gusrianto. Arief Helmy

  • Bagikan