Waspada
Waspada » Tragedi Gas Beracun Di Madina, Warga Tabagsel Di Qatar Sebut Ada 3 Faktor Penyebab
Headlines Sumut

Tragedi Gas Beracun Di Madina, Warga Tabagsel Di Qatar Sebut Ada 3 Faktor Penyebab

P SIDIMPUAN (Waspada): Tragedi gas beracun di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang mengakibatkan 5 orang tewas dan puluhan lainnya kritis, mendapat perhatian dari Muhammad Anhar (foto), warga Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang tinggal dan 40 tahun bekerja pada bidang minyak, gas dan petrochemical di negara Qatar.

Lewat telepon kepada Waspada di Padangsidimpuan, Selasa (26/1), Anhar menyebut ada tiga kemungkinan faktor penyebab warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Madina, terpapar gas berbahaya dari aktifitas PT SMGP.

“Kelalaian mitigasi, kesalahan prosedur dan tidak berfungsinya alat detektor gas. Ini tiga kemungkinan yang menjadi faktor penyebabnya,” kata Anhar.

Pria yang lahir dan besar di Kelurahan Ujung Padang, Kecamatan Sidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, mengaku sudah 40 tahun bekerja di bidang migas dan petrochemical.

Sudah memiliki pengalaman dalam bidang pemurnian gas mentah atau gas yang diambil langsung dari perut bumi.

Seputar tragedi gas beracun di Madina, Anhar dikirimi rekannya video berdurasi 30 detik.

Menunjukkan bagaimana lokasi proyek PT SMGP pada saat proses pembuangan gas ke udara.

“Video itu berulangkali saya putar. Setelah kuperhatikan, gas yang pertama keluar dari silincer tersebut memang mengandung H2S dan disusul uap air panas,” katanya.

Menurut Anhar, sebelum dialirkan ke turbin Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, seharusnya gas yang keluar dari bumi itu dilakukan pemurnian.

Kemudian gas yang dialirkan itu dipantau dengan menggunakan alat detektor.

“Kemungkinan tragedi gas berbahaya hingga merenggut korban jiwa ini diakibatkan oleh adanya kesalahan prosedur atau memang alat gas detektornya yang tidak berfungsi,” jelas Anhar.

Ditambahkannya, sesuai prosedur keamanan, alat detektor gas itu seharusnya tidak hanya ditempatkan di sekitar area proyek.

Tetapi juga di sekitar pemukiman penduduk yang diperkirakan akan terpapar gas buangan.

Radiusnya minimal 500 sampai 1000 meter, dan setiap akan dilakukan pembuangan gas harus didahului sosialisasi atau pengumuman ke warga.

“Meskipun sebelumnya perusahaam telah melakukan sosialisasi, tetapi penempatan detektor gas di sekitar pemukiman penduduk itu sangat penting. Utamanya untuk keperluan mitigasi bencana atau hal yang tidak diingini seperti tragedi ini,” ujarnya.

Terkait tragedi ini, Anhar meminta pihak perusahaan memberikan tanggungjawab penuh.

Kemudian kejadian yang merenggut jiwa ini tidak terulang di kemudian hari. (a05)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2