Waspada
Waspada » Tiga Kurir Ganja 170 Kg Divonis Seumur Hidup
Headlines

Tiga Kurir Ganja 170 Kg Divonis Seumur Hidup

KETIGA terdakwa kurir ganja 170 Kg saat mendengarkan sidang putusan di PN Medan. Ketiganya divonis seumur hidup, Selasa (28/1). Waspada/Rama Andriawan
KETIGA terdakwa kurir ganja 170 Kg saat mendengarkan sidang putusan di PN Medan. Ketiganya divonis seumur hidup, Selasa (28/1). Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada):  Tiga kurir ganja 170 kg divonis seumur hidup oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, Selasa (28/1) sore.

Tiga kurir ganja 170 kg yang divonis seumur hidup itu, yakni Boi Haky, Mukhlis dan Darman Bustaman, karena terbukti terlibat jadi  perantara.

“Menghukum  ketiga terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup,” kata Hakim Ketua Irwan Effendi di Ruang Kartika PN Medan.

Hakim dalam amar putusan menyatakan, para terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 Tentang Narkotika.

Dalam pertimbangan hakim, hal yang meringankan karena ketiga terdakwa belum pernah dihukum dan berterus terang selama persidangan.

Serta tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan dan menyesali perbuatannya.

Putusan tersebut menyelamatkan ketiga terdakwa dari hukuman mati. Sebab, sebelumnya jaksa meminta hakim agar para terdakwa dihukum mati.

Seusai sidang, Boi yang tampak berjalan menggunakan tongkat karena kakinya ditembak tersebut tampak bahagia.

Wajahnya terlihat sumringah dan didampingi kedua orang tuanya.

“Alhamdulillah bisa lepas dari hukuman mati, bersyukur dengan keadaan begini, masih bisa mengurus anak-anak lagi,” katanya.

Terdakwa lainnya, Mukhlis juga mengaku senang bisa lepas dari hukuman mati.

“Ya pastinya bahagia bisa lepas dari hukuman mati, ya menyesallah bang, Habis ini enggak mau lagi jadi kurir lagi,” tuturnya.

Sedangkan JPU Septebrina menegaskan, dirinya akan banding dengan putusan tersebut.

“Kita pasti akan banding, apapun ceritanya, segera kita masukkan berkasnya,” tegasnya.

Bersyukur

Kuasa Hukum ketiga terdakwa dari LBH Menara Keadilan, Sri Wahyuni menyebutkan bahwa pihaknya bersyukur bahwa Majelis Hakim mempertimbangkan nota pembelaannya.

“Kita merasa senang karena nota pembelaan kita diperimbangkan Hakim, “ ujarnya.

Dia bersyukur karena merekakan hanya perantara yang dimanfaatkan segelintir orang untuk melakukan aksinya.

“Mereka ini tidak tahu apa dampak yang dilakukan,” jelasnya.

Sebelumnya, dalam dakwaan jaksa disebutkan, terdakwa Mukhlis bersama Darman Bustaman dan Boy Haki pada Rabu 15 Mei 2019 sedang merencanakan pengiriman sabu dari Aceh ke Medan di sebuah warung kopi di Jl Simpang Matang, Samalanga Kec. Samalanga Kabupaten Bireuen, Aceh.

Saat di warung, Darman mengajak Mukhlis untuk ikut ke Medan mengawal orang yang membawa ganja kering.

Saat itu, terdakwa Mukhlis menyetujuinya. Mereka kemudian sepakat bertemu di Kampung Cet Sireuen, sekira pukul 20.00.

Dengan menggunakan mobil minibus, terdakwa Darman datang menjemput Mukhlis.

Saat itu, daun ganja yang sudah dibawa, bukan di dalam mobil mereka, melainkan di dalam mobil lain, yang ikut bersamaan menuju Medan.

Namun, saat di perjalanan menuju ke Medan, mobil mereka dirazia.

Lantas Darman menghubungi temannya yang membawa ganja di mobil belakang agar sementara tidak melanjutkan perjalanan.

Setelah aman, Darman menyuruh temannya yang tidak terdakwa kenali untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Medan, dengan meyakinkan bahwa razia sudah tidak ada lagi di depan Polsek Gebang.

Sesampainya di Medan pada 16 Mei 2019, terdakwa Darman menuju persimpangan Jl. Bunga Raya, Medan Sunggal.

Namun saat itu tiba tiba mobil  yang dikemudikan oleh Darman diberhentikan polisi berpakaian preman, Muly S Tobing dan Siswoyo, keduanya petugas Polisi dari Ditresnarkoba Polda Sumut.

Namun saat diinterogasi polisi, Darman mengaku, ganja tersebut tidak ada dalam mobil yang ia bawa, melainkan mobil minibus yang berwarna hitam yang dikemudikan rekan terdakwa Boi Haky. (Cra)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2