Waspada
Waspada » Tertinggi Di Dunia, Jumlah Kematian Akibat Corona Di AS Tembus 20.000
Headlines Internasional

Tertinggi Di Dunia, Jumlah Kematian Akibat Corona Di AS Tembus 20.000

Petugas memakamkan jenazah korban tewas yang terinfeksi virus corona di sebuah kuburan massal yang terletak di Pulau Hart, New York, AS. Reuters

WASHINGTON, AS (Waspada): Jumlah kematian akibat virus corona di Amerika Serikat hingga Minggu (12/4/2020) petang WIB mencapai 20.580, sementara jumlah kasus infeksi tercatat mencapai 533.115.

Berdasarkan perhitungan tersebut Amerika memimpin sebagai kasus positif corona tertinggi secara global. New York menjadi kota dengan jumlah infeksi tertinggi.

Pada Jumat (10/4/2020) negara bagian New York memiliki hampir 160.000 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi. Jumlah ini melebihi negara-negara Eropa dengan dampak terparah seperti Italia dan Spanyol.

Gubernur New York Andrew Cuomo berulang kali telah mengatakan, bahwa kepadatan dan jumlah pengunjung asing menjadikan New York tempat penyebaran ideal untuk penyakit menular.

Ibu kota keuangan AS tersebut berpopulasi 8,6 juta jiwa. Ada 10.000 orang per kilometer persegi, menjadikannya kota terpadat di AS. Jutaan penumpang kereta komuter berdesakan di kereta bawah tanah setiap hari, bahkan menjaga jarak di trotoar pun terkadang sulit karena saking sesaknya.

Petugas memakamkan jenazah korban tewas yang terinfeksi virus corona di sebuah kuburan massal yang terletak di Pulau Hart, New York, AS. Reuters

New York memiliki lebih dari 60 juta wisatawan per tahun, dan merupakan titik masuk ke AS bagi banyak pelancong. Itu berarti, siapa pun yang membawa virus corona kemungkinan akan menulari orang lain lebih dulu di sana.

Ahli genetika AS memperkirakan bahwa virus corona mulai menyebar di kota ini dari Eropa pada Februari, sebelum kasus pertama dikonfirmasi di New York pada 1 Maret. Kota berjuluk “Big Apple” ini juga memiliki ketimpangan sosial ekonomi yang masif.

Daerah-daerah yang super padat dan miskin seperti di Bronx dan Queens, mencatatkan tingkat infeksi tertinggi. Kedua wilayah itu juga merupakan tempat tinggal banyak penderita masalah kesehatan yang kesulitan mendapat perawatan medis.

“NYC memiliki semua prasyarat yang akan memperkuat alasan kenapa dampaknya terparah,” kata Irwin Redlener, profesor kesehatan masyarakat dan pakar persiapan bencana di Universitas Columbia. (afp/And)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2