Waspada
Waspada » Terlambat Masuk 15 Menit, Bendahara Desa Dibentak Kades Hingga Pingsan
Headlines Sumut

Terlambat Masuk 15 Menit, Bendahara Desa Dibentak Kades Hingga Pingsan

MEI Rota Sihotang didampingi suaminya Joslin Sitohang saat dirawat di Puskesmas Laguboti, Jumat (16/4).
MEI Rota Sihotang didampingi suaminya Joslin Sitohang saat dirawat di Puskesmas Laguboti, Jumat (16/4).

TOBA (Waspada): Bendahara Desa Sibarani Sampulu/Namungkup, Mei Rita Sihotang, 38, pingsan usai dibentak Kepala Desa (Kades) Soltan Sibarani hanya gegara terlambat masuk kantor 15 menit dari jam masuk kerja di Kantor Desa Sibarani Sampulu/Namungkup, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Jumat (16/4).

Mei Sihotang telah menjabat sebagai Bendahara Desa sejak Januari 2019 lalu kepada Waspada ketika ditemui di Puskesmas Laguboti, Mei mengaku tengah hamil muda, usia kehamilannya dua bulan dan konidisi fisiknya lemah.

Seminggu sebelum kejadian, Mei mengaku mengajukan cuti tertanggal 7-13 April dan dilengkapi dengan surat keterangan dokter dari salah seorang dokter kandungan yang betugas di Balige.

“Meski sudah libur seminggu kondisi saya masih lemah sehingga saya putuskan untuk libur tanggal 14 lalu, dan absen saya dibuat Kades libur tanpa keterangan, sampai di situ saya masih terima,” ujar Mei sambil berurai air mata.

Lanjutnya, setelah dia tiba di kantor desa pukul 08:15 Wib, setengah jam kemudian temannya sesama aparat desa bernama Sri Melly Hutabarat juga terlambat masuk kantor bahkan sampai hampir pukul 09:00, masih ada aparat desa yang baru tiba di kantor desa atas nama Danner Sibarani.

“Sayangnya, absen saya langsung dicoret Kades juga absen Danner Sibarani, sementara absen Sri Melly Hutabarat tidak dicoret. Sebelumnya tidak pernah kejadian absen dicoret, baru beberapa hari ini saja,” tutur Mei.

Tak terima diperlakukan tidak adil, Mei lalu komplain kepada Kades tersebut.

“Aku tidak terima pak, absenku bapak coret hanya karena terlambat 15 menit saja, lalu pak Kades langsung emosi dan membentak dengan alasan itu sudah aturan. Dia juga bilang kalau saya egois di kantor, bahkan dia bilang akan mengadukan saya dengan nada membentak,” terangnya.

Tak kuat dibentak Kades, kondisi Mei yang masih lemah membuat Mei langsung jatuh pingsan.

Aparat desa lainnya langsung menghubungi suaminya dan membawanya berobat ke Puskesmas Laguboti untuk mendapatkan penanganan medis.

“Semenjak sebagai bendahara desa, hubungan saya dengan Kades sudah kurang baik. Karena pak Kades selalu berusaha mengambil alih tugas saya sebagai bendahara desa termasuk membayarkan semua tagihan desa, upah tukang dan belanja bahan bangunan. Sesuai RAB itu seharusnya menjadi tanggungjawab saya, dan karena saya tidak mau kompromi dengan Kades tersebut, saya sering ditekan secara verbal (lewat lisan) oleh Kades,” paparnya.

Tak kuat kerap mendapatkan tekanan, pada bulan Oktober 2020 lalu, Mei bahkan sudah pernah mengajukan pengunduran diri sebagai bendahara desa.

Surat tersebut sudah dilayangkan ke Dinas PMD Kabubaten Toba, namun surat ditolak dengan alasan, selama bekerja Mei dikenal sebagai bendahara yang jujur.

“Saat itu pihak PMD tidak mau merotasi saya dengan alasan bahwa desa butuh bendahara yang jujur yang mau bekerja sesuai aturan, bukan bendahara desa yang mau kongkalikong dengan Kades. Akhirnya saya balik bekerja seperti biasa meskipun masih kerap diintimidasi oleh Kades hingga puncaknya pada kejadian tadi pagi,” ungkap Mei.

Joslin Sitohang, 39, suami korban saat ditemui Waspada di Puskesmas Laguboti mengaku kecewa dengan tindakan Kades yang terkesan arogan dan kasar tersebut.

“Saya tidak terima atas perlakuan Kades tersebut. Kalau jujur, selama menjabat sebagai bendahara desa istri saya selalu mengeluh karena tidak pernah cocok dengan Kades dan kerap mendapatkan perlakuan kasar secara verbal. Tentu sangat berdampak pada psikologi dan kesehatan istri saya, apalagi saat ini dia sedang hamil muda. Saya meminta kepada Dinas PMD agar istri saya dirotasi kerjanya dari jabatannya sebagai bendahara desa,” pungkas Joslin.

Kades Sibarani Sampulu/Namungkup, Soltan Sibarani ketika dikonfirmasi via selulernya membantah keterangan korban.

“Oh tidak betul itu, justru dia yang bentak saya sampai dia pecahkan piring disitu,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan lebih lebih detail terkait pemicu konflik antara Kades dengan Bendaharanya akibat pencoretan absen, dengan tegas Soltan membantahnya.

“Tidak ada itu, nantilah kami lagi ada rapat P3A di Siborong-borong ini,” pungkas Soltan sembari mematikan telepon selulernya. (a36)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2