Waspada
Waspada » Terkena Radiasi HP, Siswa 6 Tahun Nyaris Buta Dan Butuh Uluran Tangan
Headlines

Terkena Radiasi HP, Siswa 6 Tahun Nyaris Buta Dan Butuh Uluran Tangan

DELISERDANG (Waspada) : Fitra Appandy (6) warga Jalan Karya, Dusun VII, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan  membutuhkan uluran tangan para dermawan dengan penyakit mata yang dideritanya akibat terkena radiasi handphone selular membuat penglihatannya nyaris buta.

“Anak saya saat ini dalam pengobatan, saya berharap ada bantuan dari berbagai pihak agar anak saya dapat berobat dengan lancar dan pulih,” ucap Linda, ibu Fitra.
Dijelaskannya, diketahui Fitra mengalami radiasi hp pada pertengahan Bulan Januari 2021, saat itu Linda  melihat anaknya sering menabrak dinding seakan susah memandang dan sering memejamkan matanya dan mengeluarkan air mata. Melihat itu, Ida pun langsung memeriksakan mata si anak, Alhasil, Ida mendapati mata anaknya menjadi Hitam dikelopak bawah dan samping serta kantung air mata membengkak.
“Ketahuannya Bulan lalu, sering nabrak dinding dan terjatuh dengan sendirinya seolah-olah susah melihat, pas ditanyai katanya perih matanya, saat saya periksa makin hitam matanya, bola matanya tidak bening dan berwarna abu-abu, kalau tidur pas saya periksa, matanya Merah kali bang tidak normal, kadang sering juling matanya sendiri”, jelas Ida kepada wartawan, Rabu (24/2).
Ida menambahkan, lantaran kehidupannya pas-pasan, Ia tidak langsung membawa berobat anaknya.
Hingga akhirnya, saat melihat anaknya sudah semakin parah, dengan uluran para dermawan hingga saat ini pun masih mengharapkan bantuan para dermawan, Ida pun memberanikan diri membawa berobat ke salahsatu dokter yang berada di Jalan Batang Kuis, Deliserdang.

Vonis

Sesampainya di tempat perobatan, dokter langsung memeriksa dan memvonis mata anak Ibu Ida sudah parah dan syukurnya langsung dibawa berobat hingga tidak terjadi kebutaan, dengan rasa sedih sebagai orangtua, Ida pun pulang usai diberikan obat dan disuruh kembali 4 Hari kemudian.
Lanjutnya kini anaknya tidak jadi dirujuk kerumah sakit besar dan tidak jadi dioperasi namun harus rutin berobat ke rumah sakit untuk penyembuhan.
“Penyakitnya mengalami penurunan bekurang 15% menjadi  85%, tadi saya tanya gimana kelanjutan soal anak saya, kata perawatnya anak saya mengalami perubahan, bila dokternya tak sanggup pasti bicara, dioper ke tempat lain, tapi belum ada bicara gak sanggup dokternya, saya disuruh balik lagi 3 hari kemudian untuk pengobatan lanjut, mudah-mudahanlah  sembuh total, tinggal nyari dananya tuk berobat ke depannya,” tandasnya. (cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2