Waspada
Waspada » Terdakwa Penipuan Berharap Dibebaskan Hakim
Headlines Medan

Terdakwa Penipuan Berharap Dibebaskan Hakim

TERDAKWA saat menjalani sidang yang di gelar online di Ruang Cakra III PN Medan. Waspada/Rama Andriawan
TERDAKWA saat menjalani sidang yang di gelar online di Ruang Cakra III PN Medan. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Irawan alias Asiong, terdakwa dugaan kasus penipuan usaha kopi Kok Tong sebesar, Rp1,1 miliar mengungkapkan, kasus yang menjeratnya seharusnya bukan masuk ranah pidana penipuan, melainkan ranah hukum perdata.

Sebab, uang yang dipinjam terdakwa kepada korban Hariayanto Law, sebesar Rp1,1 miliar sebelumnya sudah dicicil bertahap hingga terbayarkan Rp900 juta dan juga saat perjanjian peminjaman uang itu, terdakwa juga memberikan satu unit rumah toko milik adik ipar terdakwa sebagai jaminan.

“Hubungan hukum antara terdakwa Irawan dengan saksi Hariayanto Law adalah hubungan hukum keperdataan, dimana perjanjian kesepakatan bersama dibuat atas dasar kesepakatan bersama,” ucap terdakwa melalui penasehat hukumnya Johari Simamora SH, dalam sidang pembacaan nota pembelaan yang digelar di Ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (8/5).

Menurutnya, jika menelaah perjanjian bersama tersebut, adalah sebuah wujud perjanjian yang sah berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata.

“Dengan diperlakukannya kata sepakat mengadakan perjanjian, maka berarti bahwa kedua belah pihak haruslah mempunyai kebebasan kehendak para pihak, tidak mendapat suatu tekanan yang mengakibatkan adanya cacat bagi perwujudan kehendak tersebut,” ucapnya di hadapan hakim ketua Erintuah Damanik.

Di hadapan majelis hakim, ia juga menyampaikan, bahwa tuduhan jaksa yang menyebutkan perbuatan terdakwa tindakan penipuan adalah keliru.

Apalagi, pinjaman uang sudah dibayarkan bertahap yang disertai bukti transfer maupun secara tunai.

“Perbuatan penipuan yang dilakukan antara terdakwa dan korban adalah transaksi keperdataan yang tidak ada unsur-unsur penipuan, karena korban harus dianggap mengerti benar tentang nilai kuitansi-kuitansi yang sudah diterimanya,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap agar terdakwa dibebaskan dari tuntutan jaksa dan mengeluarkan terdakwa dari tahanan.

“Saat ini, terdakwa tidak ada harapan lain selain berharap kepada majelis hakim yang dapat memutus perkara ini dengan seadil-adilnya” pintanya di hadapan majelis hakim.

Sebelumnya terdakwa Irawan dituntut jaksa dengan hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara.

Menurut jaksa, terdakwa telah melakukan penipuan dengan dalih bisnis usaha warung kopi Kok Tong di Jl. Sutomo, Binjai.

Namun, hingga terjadi kesepakatan antara korban dan terdakwa, ternyata, warung kopi tersebut tidak ada dibuka.

Perkara ini bermula pada 25 November 2016, saksi korban Harinato Law bersama Francnata Goh, Irwandi dan terdakwa Irawan bertemu disebuah warung di Komplek Multatuli.

Kemudian terdakwa dan saksi korban, membicarakan kesepakan lisan kerjasama untuk membuka usaha kedai kopi Kok Tong di Jl. Sutomo Binjai Utara.

Kemudian, pada 28 November 2016 saksi korban memberikan modal awal kepada terdakwa sebesar Rp700 juta, untuk sewa tempat.

Bukan hanya itu, terdakwa kembali meminta uang sebesar Rp 400 juta untuk beli peralatan jualan di kedai kopi Kok Tong.

Namun, kedai Kopi Kok Tong yang telah terdakwa dan saksi korban sepakati terdahulu yang beralamat di Jl. Sutomo Binjai Utara, tak kunjung dibuka oleh terdakwa.

Melainkan tanpa seizin saksi korban, terdakwa telah membuka kedai kopi Kok Tong tersebut di Jl. Ahmad Yani Binjai Utara Komplek Great Wall hingga sekarang.

Mengetahui hal tersebut, lalu saksi korban mengkonfirmasi dengan terdakwa agar saksi korban dibagi hasil usaha dari kedai kopi tersebut.

Namun terdakwa menerangkan, bahwa ia membuka usaha kedai kopi tersebut tidak menggunakan uang milik saksi korban.

Sehingga saksi korban tidak berhak untuk mendapatkan hasil dari usaha kedai kopi tersebut.

Lalu saksi korban meminta modal yang telah saksi korban berikan kepada terdakwa, yaitu sebesar Rp1,1 miliar.

Namun saat itu, terdakwa berdalih tidak ada menggunakan uang saksi korban untuk membuka usaha kedai kopi tersebut.

Saksi korban merasa yakin, untuk melakukan kerjasama buka kedai kopi Kok Tong tersebut, karena terdakwa dan saksi korban adalah teman lama dan saksi korban mengetahui bahwa terdakwa ada juga buka cabang kopi Kok Tong di Medan dan berjalan lancar, yang mana terdakwa juga pemegang lisensi untuk kopi Kok Tong yang berpusat di kota Pematangsiantar.

Kemudian, pada 25 Januari 2019 dan 4 Februari 2019 saksi korban meminta secara tertulis kepada terdakwa untuk mengembalikan uang modal usaha sebesar Rp1,1 miliar tersebut. (m32)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2