Waspada
Waspada » Tak Miliki STR, 4000 Nakes Di Sumut Terancam Tak Mendapatkan Insentif
Headlines

Tak Miliki STR, 4000 Nakes Di Sumut Terancam Tak Mendapatkan Insentif

KETUA Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sumut terpilih, Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD. 4.000 Nakes terancam tak mendapatkan insentif karena belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Waspada/Ist
KETUA Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sumut terpilih, Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD. 4.000 Nakes terancam tak mendapatkan insentif karena belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Sebanyak 4.000 tenaga kesehatan (nakes) di Sumut terancam tak mendapatkan insentif berupa bonus maupun kompensasi, karena sebagian besar dari mereka dikabarkan belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).

“Ini berakibat fatal bagi nakes yang saat ini belum mendapatkan STR tersebut,” tegas Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sumut terpilih, Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD (foto) di Medan, Minggu (14/2).

Karenanya, dia meminta dapat memberikan akses yang besar bagi organisasi profesi, terutama bagi kesehatan masyarakat, karena mereka berada di garda terdepan.

“Sebagian besar sebagai ada yang jadi Kepala Puskesmas, yang menjalankan kegiatan promotif dan preventif dan harus mendapatkan dukungan dari pemerintah. Segera diselesaikan urusan STR,” ucap Destanul.

Lebih lanjut ia mengatakan, para nakes untuk dapat melakukan praktek harus memiliki STR. Namun sampai hari ini dikatakan pihaknya masih mengalami kesulitan mendapatkan STR tersebut.

“Kurang lebih 4 ribuan sarjana kesehatan masyarakat di Sumut akan meminta kepada pemerintah pusat, terutama kementrian kesehatan agar diberikan STR, kami berharap 3 atau 5 bulan ke depan persoalan STR ini sudah tuntas agar para nakes dapat melayani masyarakat,” katanya.

Adapun kendalanya mendapatkan STR ini disebutkannya karena terjadi penundaan di pemerintah pusat.

“Ribuan tenaga kesehatan di Sumut ini kan memberikan pelayanan di puskesmas. Jadi kalau tidak ada STR itu, kita nakes tidak bisa mendapatkan jasmed (jasa pelayanan medis) dan ini kan bentuk tidak memberikan memotivasi kepada para nakes yang notabene garda terdepan termasuk pada masa-masa pandemi Covid-19 ini,” paparnya.

Dia mohon kepada kementrian kesehatan (Kemenkes) untuk bisa arif segera menerbitkannya, terutama untuk seluruh ikatan ahli kesehatan masyarakat di Indonesia, karena mereka telah memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Hal terparah jika tidak memiliki STR ini dikatakan nakes bekerja tapi tidak mendapatkan insentif.

Bukti Tertulis

Sementara itu dilansir sejumlah sumber, Surat Tanda Registrasi (STR) merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi.

Tenaga kesehatan yang telah memiliki STR dapat melakukan aktivitas pelayanan kesehatan. STR dapat diperoleh jika setiap tenaga kesehatan telah memiliki ijazah dan sertifikat uji kompetensi.

Ini diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian program pendidikan dan uji kompetensi. Ijazah diterbitkan oleh perguruan tinggi peserta didik dan sertifikat uji kompetensi yang diterbitkan oleh Pendidikan Tinggi (DIKTI).

Surat Tanda Registrasi (STR) berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang setiap lima tahun.

Sesuai dengan Permenkes 1796 tahun 2011, STR yang telah habis masa berlakunya dapat diperpanjang melalui partisipasi tenaga kesehatan dalam kegiatan pendidikan dan/atau pelatihan, kegiatan ilmiah lainnya sesuai dengan profesinya, serta kegiatan pengabdian masyarakat.(cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2