Waspada
Waspada » Tahun Ajaran Baru Sumut Belum Bisa Buka Sekolah
Headlines Medan

Tahun Ajaran Baru Sumut Belum Bisa Buka Sekolah

MEDAN (Waspada): Masa tahun ajaran baru pada bulan Juli ini, Sumatera Utara, dinilai belum bisa membuka sekolah, dengan sistem belajar tatap muka.

Hal itu disampaikan Pengamat Pendidikan Sumatera Utara, Ali Nurdin, MA, Kamis (2/7).

“Saya menilai sekolah di Sumut belum bisa membuka sekolah sebagaimana pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim, karena dari 33 kab/kota di Sumut hanya 14 kab/kota yang zona hijau, sedang yang lain zona kuning, orange bahkan daerah Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, Sergei dan Langkat masih zona merah, kuning. Oleh karena itu belajar tatap muka dengan empat persyaratan yang cukup ketat sebagaimana diatur pemerintah melalui SKB empat menteri itu berat dilakukan,”katanya.

Disebutkan, pihak penyelenggara/sekolah dan orang tua nampaknya belum siap dengan peraturan yang ketat itu, apalagi sekolahpinggiran, sekolah/yayasan yang kondisinya hidup segan mati tak mau, mungkin berat menerapkan proses belajar mengajar dengan new normal berdasar aturan dan kehidupan sekolah yang baru.

“Jadi tidak ada salahnya sampai penghujung tahun 2020 (Desember) proses belajar mengajar tetap sistem belajar jarak jauh dengan konten konten materi dan media online jaringan yang sudah disiapkan pemerintah,”ujarnya.

Dia mengakui, secara administrasi dan kalender pendidikan Tahun Ajaran baru 2020/2021 tetap dimulai pertengahan Juli 2020, tetapi sistem, metode dan media pembelajaran tetap sistem daring.

“Yang harus dilakukan saat ini adalah mempersiapkan perangkat perangkat pembelajaran via daring dan juga ketersediaan sarana, prasarana dan sumber sumber belajar. Silabus, Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti serta assessment tidak mengalami perubahan yang berarti,”sebutnya.

Hal lain disampaikanya, Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat hampir pada semua sektor, termasuk sektor pendidikan.

Kalau dulu yang dibutuhkan guru untuk mengajar adalah ruang kelas, whiteboard, spidol, buku teks, alat tulis, projektor, screen, speaker, dan alat peraga lain, maka saat ini atau beberapa waktu ke depan sarana dan prasarana tersebut akan semakin jarang kita gunakan.

Di masa new normal ini, pembelajaran lebih baik dilakukan dalam jarak jauh.

Pembelajaran dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan belajar dengan siapa saja.

Dalam kebiasaan baru ini yang dibutuhkan untuk belajar mengajar adalah gadget, koneksi internet, kuota internet, ruang kelas maya, dan aplikasi pembelajaran.

Dia menilai, seharusnya setiap guru disubsidi dana pengisian kuota internet yang diambil dari dana BOS dan aturan ini dibenarkan, bahkan seharusnya pihak Kemendikbud bekerjasama dengan Telkomsel memberikan paket murah internet khusus bagi guru dan tenaga kependidikan.

Memberi pelatihan cara dan tekhnis belajar via aplikasi internet, webiner, zoom, YouTube, dan belajar dengan teknis virtual, googlemeting, dan lain lain.

“Banyak sekali guru guru yang kurang mampu dan tidak mau belajar dengan pola baru ini, akhirnya pada masa masa pendemo covid,-19 ini banyak guru yang tidak produktif,”ungkapnya. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2