Suryani Paskah: Kanker Payudara Tertinggi, Indonesia Tidak Punya Dokter Onkologi Spesialis Kanker Payudara - Waspada

Suryani Paskah: Kanker Payudara Tertinggi, Indonesia Tidak Punya Dokter Onkologi Spesialis Kanker Payudara

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Demokrat Sumatra Utara (DPD KNPD Sumut), organisasi sayap Partai Demokrat, Suryani Paskah Naiborhu (foto), mengatakan, meskipun penderita kanker payudara menduduki peringkat tertinggi di Indonesia, tapi hingga saat ini Indonesia belum memiliki dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara (sub specializing in breast oncology). Oleh sebab itu, Suryani Paskah Naiborhu meminta agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dapat menyediakan pendidikan kedokteran spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara pada perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam keterangan yang diterima, Minggu (24/10), Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, berdasarkan data Globocan 2020, kasus kanker payudara di Indonesia sebanyak 16,6%, kanker leher rahim 9,2%, kanker paru 8,8%, kanker kolorektal atau usus 8,6%, kanker prostat 7,4%. Dari jumlah penderita kanker di Indonesia pada tahun 2020 yang tercatat sebanyak 396.914 jiwa, sebanyak 65.858 jiwa di antaranya adalah penderita kanker payudara.

“Jumlah penderita kanker payudara menduduki peringkat pertama dari jenis kanker lainnya. Dan jumlah penderita kanker tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya,” ujar Suryani Paskah Naiborhu.

Ironisnya, sampai saat ini Indonesia belum memiliki dokter spesialis medis onkologi sub spesialis kanker payudara. Hal ini disebabkan fakultas kedokteran pada perguruan tinggi belum ada yang menyediakan pendidikan tersebut.

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, pada umumnya, penanganan kasus kanker payudara ini dilakukan dengan melakukan operasi pengangkatan payudara. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran jaringan kanker tersebut ke bagian organ tubuh lainnya.

“Operasi ini dipimpin oleh dokter spesialis bedah onkologi. Setelah menjalani operasi, tahap selanjutnya pasien akan menjalani tahapan kemoterapi untuk memastikan tubuh bersih dari sisa jaringan kanker payudara,” jelasnya.

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, seharusnya pengobatan kemoterapi pasien penderita kanker payudara ini dilakukan oleh dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara. Sehingga dengan demikian jenis obat kemoterapi yang diberikan sesuai dengan jenis kanker payudara tersebut. Hal ini dikarenakan kanker payudara memiliki jenis lainnya, seperti triple negative breast cancer (TNBC).

Karena Indonesia belum memiliki dokter medik onkologi sub spesialis kanker payudara (breast oncology), maka pengobatan kemoterapi pada pasien kanker payudara cenderung dilakukan oleh dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker darah (hemato onkologi) atau dilakukan oleh dokter bedah onkologi (surgical oncology)

Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, pangkal ketiadaan sumber daya manusia (SDM) dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara ini berawal dari belum adanya universitas di Indonesia yang menyediakan pendidikan khusus dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara. Sejauh ini, pendidikan yang tersedia baru pada dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker darah.

“Hal ini sangat saya sayangkan. Padahal jumlah penderita kanker payudara menduduki peringkat pertama dari jenis kanker lainnya. Namun pendidikan kedokteran di universitas kita belum memiliki pendidikan dokter medik onkologi sub spesialis kanker payudara. Ketiadaan tersebut tentu berpengaruh terhadap penanganan pasien kanker payudara,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Suryani Paskah Naiborhu meminta agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dapat menyediakan pendidikan kedokteran spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara pada perguruan tinggi di Indonesia.

Suryani Paskah Naiborhu mengakui bahwa dibutuhkan penyiapan infrastruktur dasar, khususnya pada SDM tenaga pengajar, dalam pendidikan dokter spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara pada perguruan tinggi di Indonesia. Namun hal tersebut harus dilakukan agar penanganan kanker payudara dapat dilakukan lebih baik lagi.

Sebagai langkah awal, Suryani Paskah Naiborhu mengatakan, Indonesia dapat mengirimkan dokter kita untuk sekolah sub spesialis kanker payudara ke negara yang menyediakan pendidikan khusus tersebut. “Seperti ke Amerika Serikat, Inggris atau negara maju lainnya, yang telah memiliki pendidikan kedokteran spesialis medik onkologi sub spesialis kanker payudara pada perguruan tinggi,” tuturnya.

Di samping itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga harus menjalin sinergi dengan Kementerian Kesehatan. Sehingga dengan demikian nantinya dapat melahirkan dokter medik onkologi dengan sub spesialis khusus kanker payudara di Indonesia.

“Peringatan Hari Dokter Nasional yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2021 kiranya dapat menjadi momentum bagi institusi terkait untuk mulai mewujudkan dokter medik onkologi dengan sub spesialis kanker payudara. Sehingga dengan demikian, penanganan pasien kanker payudara pasca operasi dapat dilakukan lebih tepat lagi, khususnya dalam hal pengobatan kemoterapi,” tuturnya. (m06)

  • Bagikan