Sekjen DPR RI: Saya Pelari Cepat Bukan Pelari Maraton

  • Bagikan
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR RI Indra Iskandar saat menyampaikan sambutannya dalam silaturrahmi bersama Kelompok Wartawan Parlemen di Bogor Jawa Barat Jumat malam (19/11). (Waspada/Andy Yanto Aritonang)

Bogor (Waspada): Sekretaris Jenderal DPR RI Dr. Ir Indra Iskandar Ms.i tegaskan dirinya seorang ‘pelari cepat’ yang setiap putaran langkah harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Selain itu Indra Iskandar, putra Aceh ini menyatakan dirinya kadang harus ‘gemas’
dalam mendukung kinerja di lingkungan DPR RI.

Itulah bentuk pernyataan sikapnya ketika memperkenalkan
Kabiro Pemberitaan DPR RI, Dr. Indra Pahlevi.S,IP.MS.i dalam silaturrahmi bersama Kelompok Wartawan Parlemen di Bogor Jawa Barat Jumat malam (19/11).

Berkaitan dengan pengangkatan kepala biro yang baru Indra Pahlevi, Sekjen DPR Indra Iskandar tidak membantah sebelumnya gagal dalam mencari kepala biro pemberitaan.

Menurut Indra Iskandar, tidak mudah mengelola organisasi saat ini dengan aturan aturan yang ketat setiap langkah, penempatan personil organisasi saat ini kita harus melaporkan kepada komite atau komisi aparatur sipil negara.

Sang ‘pelari cepat’ yang menamatkan pendidikan doktoralnya pada bidang Ilmu Manajemen Bisnis di Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menuturkan, selaku pejabat pembina kepegawaian DPR, dirinya tak punya diskresi seratus persen untuk memutuskan.

“Semuanya harus dikonsultasikan mulai dengan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) dan pimpinan Dewan, ” ujarnya.

Mekanisme dalam pengisian jabatan, kata Indra Iskandar cukup memakan waktu.

Langkah itu dimulai dari pembentukan panitia Seleksi (pansel). Dilanjutkan assessment konsultan dari Universitas Indonesia. Penetapan pejabat yang ditunjuki dibagi dalam empat kuadran, hijau, kuning, oranye dan kuadran merah. Yang boleh melanjutkan dalam proses asesmen itu, mereka yang bisa mencapai di kuadran hijau dan kuning luar, di bawahnya tidak disarankan untuk dilanjutkan.

“Dalam asesmen pejabat tidak ada urusan uang-uangan, sangat tidak mungkin karena pertama mekanismenya sangat ketat dan kedua ini adalah lembaga politik yang menempatkan transformasi organisasi itu people sebagai kata kunci,” ungkap Indra Iskandar.

Dia menambahkan, setelah dilakukan job training beberapa eselon II di DPR yang diwawancarai oleh pansel. “Dilihat dari potensinya terpilihlah Bapak Indra Pahlevi yang sekarang ini menjadi kepala biro pemberitaan,” ujar Indra Iskandar menceritakan tahapan pengangkatan pejabat di DPR RI.

Tahapan itu katanya lagi, sekaligus mengklarifikasi terhadap tudingan
yang mencoba menulis dengan pendapat LSM atau pendapat lainnya, seolah-olah proses pengisian jabatan itu lama sekali

” Jadi tidak ada urusan uang-uangan, sangat tidak mungkin karena pertama mekanismenya ” tegasnya sembari mengatakan bagi dirinya tidak ada masalah.

Tiga Indikator

Dalam kesempatan itu Indra Iskandar menegaskan, wartawan mempunyai peran yang sangat penting menyampaikan fungsi kegiatan DPR kepada publik. Terutama mendukung harapan atau terwujudnya DPR sebagai parlemen modern yang saat ini menjadi tema besar Forum Komunikasi Silaturrahmi bersama KWP.

Ada tiga indikator yang disampaikannya yakni, Transparansi, mudah diakses informasi berkaitan dengan kegiatan semua alat kelengkapan dewan yang ada di DPR.
Penggunaan teknologi informasi untuk membuka akses bagi masyarakat memperoleh informasi melalui website media sosial dan lain-lain dan yang ketiga Representasi sebagai lembaga perwakilan yang memperjuangkan aspirasi rakyat.

“Untuk mencapai ketiga indikator tersebut tidak bisa dipungkiri bahwa DPR sangat membutuhkan peran dan dukungan mitra yang sebut dengan media atau wartawan,” tandasnya.

Hal itu karena pemberitaan yang dilakukan media massa baik cetak online, media sosial, media televisi dan radio masih menjadi referensi utama masyarakat dalam akses informasi terkait kegiatan parlemen.

“Memperkuat silaturahmi antara wartawan di lingkungan parlemen dengan DPR diharapkan dapat mewujudkan harapan atas dukungan media terhadap perwujudan parlemen sebagai parlemen modern,” pungkas Indra Iskandar.(j04)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *