Prinsip Komunikasi Qaulan Sadida

  • Bagikan

Oleh Dr H. Erwan Efendi, S.Sos, MA

Harusnya sebagai pejabat publik ketika menyampaikan pesan apapun bentuk dan kepentingnya, sebaiknya menggunakan seperti prinsip komunikasi qaulan sadida, yakni pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa)

Berbagai komentar dan pendapat pro dan kontra terhadap demo mahasiswa setelah berkembangnya isu penundaan pemilihan umum dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode masi bergulir. Gerakan mahasiswa 11 April 2022 mengempung Istana Presiden kemudian mendatangi gedung DPR RI. Tuntutan penting mereka meminta penegasan langsung Presiden Joko Widodo, bersikap seperti apa tentang isu yang dikembangkan menterinya, beberapa pimpinan partai politik dan relawan tentang perpanjangan masa jabatan hingga tiga periode.

Banyak pakar hukum termasuk pakar hukum tata negara menegaskan keinginan perpanjang masa jabatan presiden menjadi tiga periode merupakan tindakan teroris konstitusi. Justru, tidak ada pilihan lain syahwat ingin perpanjangan itu harus dilawan dan dihentikan. Undang-Undang Dasar 1945 sudah menegaskan jabatan presiden hanya dua periode, tidak boleh diperpanjang dengan alasan apapun. Keinginan memperpanjang masaja jabatan presiden mengingatkan kita pada masa rezim Orde Baru dan diruntuhkan oleh gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa.

Kalangan istana, beberapa pimpinan partai politik dan para relawan disebut-sebut melakukan penggalangan dukungan perpanjangan masa jabatan Presidsen Joko Widodo tiga periode. Mereka mendekati Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia atau Apdesi untuk membuat pernyataan dukungan perpanjangan jabatan presiden setelah Lebaran.

Ironisnya, ada menteri yang menyebut dirinya mempunyai big data yang mendukung perpanjangan masa jabatan tiga periode. Namun, ketika big data itu diminta dibuka, ia tidak bersedia dengan alasan itu adalah haknya. Harusnya mereka paham bahwa memprovokasi Apdesi membuat pernyataan mendukung jabatan presiden tiga periode merupakan kejahatan konstitusi.

Mereka dapat disebut juga makar terhadap konstitusi negara serta merusak demokrasi yang sudah dibangun. Sebaliknya Apdesi harusnya menyadari bahwa keberadaan mereka sebagai ujung tombak pemerintah dalam melayani masyarakat bukan untuk atau harus terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Banyak spekulasi yang muncul di publik tentang isu perpanjangan masa jabatan presiden bukan merupakan kehendak atau keinginan Jokowi. Tapi merupakan konspirasi para pendukung setianya yang tidak ingin melepaskan jabatan. Mereka menilai bahwa Jokowi berhasil membangun negara ini dan masyarakat merasa puas. Dengan alasan dan pertimbangan itu, maka Jokowi layak dan pantas mendapat perpanjangan jabatan menjadi tiga periode.

Merupakan suatu kekeliruan yang fatal jika tingkat keberhasilan menjadi modal alasan bisa menabrak konstitusi. Sementara keberhasilan yang digadang masih bersifat subjektif karena cukup banyak janji-janji politik pada masa kampanye belum terealisasi sebagaimana harusnya. Soal minyak goreng aja belum terselesaikan hingga kini.

Spekulasi paling menarik dari pembicaraan publik adalah tentang siapa yang mempunyai ide perpanjangan masa jabatan tiga periode, Jokowi atau para menteri, pimpinan partai politik dan relawan. Jika disebut ide itu dari salah seorang menteri yang saat ini paling dipercaya Jokowi, sehingga menimbulkan kegaduhan, berujung dengan aksi masa mahasiswa.

Nyatanya menteri bersangkutan semakin disayang Jokowi dengan menambah jabatan baru. Sementara Jokowi melalui Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto menegaskan, wacana perepanjangan masa jabatan presiden menampar wajah Presidsen Joko Widodo (Waspada/9 April 2022).

Tidak seorang pun yang berani menyatakan siapa yang mengusulkan ide perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode. Apalagi setelah terjadinya aksi ujukrasa mahasiswa pada 11 April 2022. Semua lempar batu sembunyi tangan seakan ide itu tidak bertuan. Padahal, itu sudah menjadi rahasia umum siapa yang memulai dan untuk siapa.

Bisa saja ide itu dari Jokowi tapi yang menyampaikannya para menteri, kalangan pimpinan partai politik dan relawan. Atau sebaliknya. Sementara Jokowi melihat dan menunggu seperti apa respons publik. Jika gagasan itu tidak memungkinkan dan mendapat penolakan keras masyarakat maka akan ada klatrifikasi. Sebaliknya, penggalangan akan dilakukan terus. Sementara partai koalisi di parlemen sudah siap menunggu petunjuk presiden apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan paling mendasaar adalah, mengapa mahasiswa mengotot untuk tetap turun melakukan aksi. Padahal, persoalan perpanjangan masa jabatan tiga periode dan pemilihan umum sudah ditegaskan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Intinya tidak ada perpanjangan masa jabatan dan pemilihan umum dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Dengan penjelasan langsung presidsen itu, kalangan istana berharap mahasiswa dapat memahami dan menerimanya, sehinga niat untuk turun aksi dapat dibatalkan.

Namun, harapan itu kandas dan mahasiswa tetap turun. Jika dicermati secara jauh dan makro mengapa mahasiswa tetap ngotot turun, salah satu dari beberapa penyebab karenan mahasiswa takut dengan pernyataan presiden yang tidak konsisten.

Prinsip Komunikasi Qaulan Sadida

Bila diurut sejak Jokowi menjabat Gubernur DKI hingga masa kampanye politik ketika mencalonkan diri sebagai presidsen pada periode pertama, banyak pernyataannya yang tidak konsisten. Seperti pernyataannya tetap ingin menyelesaikan jabatannya sebagai Gubernur DKI, namun di tengah perjalanan maju menjadi calon presiden dan kedudukannya diganti Ahok.

Belum lagi janji-janji politik pada masa kampanye menjadi calon presiden pada periode pertama dan kedua. Rekam jejak itu semua menjadi catatan mahasiswa dan mereka tidak ingin lagi kecolongan.

Justru, harusnya sebagai pejabat publik ketika menyampaikan pesan apapun bentuk dan kepentingnya, sebaiknya menggunakan seperti prinsip komunikasi qaulan sadida, yakni pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Prinsip komunikasi qaulan sadida dapat diartikan sebagai suatu perkataan yang benar, jujur, lurus, tidak sombong, tidak berbelit-belit. Menjadi peribadi yang jujur bararti antara ucapan dan tindakannya selaras. Ia tidak pernah membuat kebohongan atau memanipulasi fakta, apa yang dikatakan berdasarkan kenyataan.

Sifat jujur adalah cerminan dari rasa keimanan. Justri perilaku seorang yang jujur itu sama artiunya dengan aman atau orang yang diperecaya dalam berbagai hal. Tidak menyampaikan pesan atau pernyataan yang tidak diketahui, bersifat adil atau tida memihak.

Bahkan tidak bertentangan antar ucapan dengan perbuatan. Sebagai komunikator dituntut untuk menjaga amanah. Dalam konteks komunikasi islam, berbohong merupakan sifat tercela sebab dapat menyesatkan individu dan masyarakat.

Tanda orang munafik itu ada tiga, apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji ingkar, dan jika dipercaya mengkhianati” (HR Bukhari, Kitab Iman Bab Tanda-tanda orang munafik, No. 33 dan Muslim, Kitam Iman Bab Penjelasan Sifat-sifat orang munafik no. 59).

Ciri orang munafik yang pertama adalah suka berdusta atau berbohong. Berdusta merupakan sifat tercela yang dibenci manusia serta agama apapun. Bahkan agama telah melarang keras jika umatnya melakukan dusta sekecil apapun.

Kemudian, suka ingkar janji. Seseorang yang gemar ingkar janji akan tidak bisa dipegang perkataannya dan juga tidak pernah menepati janjinya yang sudah ia tebarkan ke orang lain. Menepati janji adalah hukumnya wajib, ketika seseorang itu membuat janji maka ia sudah seharusnya menepati apa yang telah ia janjikan.

Gemar berkhianat, yaitu orang yang tidak miliki komitmen dengan apa yang akan dijalankannya dan tidak pernah menepati perkataan yang telah diucapkan tanpa adanya kejelasan. Seseorang yang tidak bisa dipercaya dalam memegang amanah nantinya disebut sebagai orang yang munafik.

Orang seperti ini biasanya jika berbicara lebih banyak mengandung kebohongan, apabila berjanji akan sering berdusta, dan apabila diserahi amanah maka akan berkhianat. Gemar melakukan tipu daya. Tipu daya yang sering dilakukan orang munafik adalah dalam sikapnya, yang biasanya tampak baik di permukaan tapi dalam hatinya busuk.

Tipu daya ini biasa dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan segala cara. Bermuka dua, yang juga miliki arti tak miliki pendirian tetap. Sifat ini muncul akibat kebingungan mereka terhadap kebenaran dan Riya juga merupakan salah satu ciri orang munafik. Semoga kita terhindar dari berkomunikasi yang tidak amanah.

Penulis adalah Humas/Wartawan Waspada Dan Dosen Pascasarjana UINSU.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.