Presidential Threshold Tutup Peluang Generasi Muda Jadi Presiden

  • Bagikan
Diskusi Empat Pilar MPR RI 'Menebar Nilai Kepahlawanan dalam Kontestasi Politik Nasional' di Media Center Parlemen Jakarta, Senin (15/11). (Waspada/Andy Yanto Aritonang)

JAKARTA (Waspada): Kebijakan dibebaskannya presidential threshold (ambang batas pencalonan presiden) dalam pilpres 2024 merupakan bentuk jiwa kepahlawanan.

Masyarakat diharapkan mampu ikut serta mendorong munculnya, calon- calon pemimpin dengan syarat nilai-nilai kepahlawanan. Untuk itu partai politik sebaiknya memberi kesempatan dalam kontestasi politik, menggali, melihat tokoh-tokoh jiwa pahlawan dan jiwa spirit dan jiwa motivasi yang tinggi muncul ke permukaan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan pilihan lebih banyak.

Demikian kesimpulan diskusi Empat Pilar MPR RI ‘Menebar Nilai Kepahlawanan dalam Kontestasi Politik Nasional’ bersama Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad, Anggota MPR RI dari Fraksi Demokrat, Herman Khaeron dan
Pakar Politik, Prof Siti Zuhro di Jakarta Senin (15/11).

Menurut Fadel Muhammad, aturan PT dalam pemilihan presiden pasti akan menyulitkan mereka yang muda yang berprestasi untuk maju dalam kontestasi pemilihan tingkat nasional.

“Kalau ada PT peluang itu akan terbatas. Padahal partai yang sudah lolos terdaftar sudah banyak. Saya beperpedapat partai yang telah lolos bisa mencalonkan. Kalau kita batasi capres dengan persyaratan yang tinggi 20 persen maksimum paling dua atau tiga pasangan calon,”ujar Fadel.

Namun demikian kriteria capres tetap diperlukan. Generasi muda saatnya sekarang menjadi calon.


“Saya lihat banyak tokoh-tokoh daerah yang perlu diberi kesempatan. Kita akan lihat akhir tahun depan isu capres 2024 makin tajam. Tapi kalau kita batasi kita akan memikii calon yang itu-itu saja,” ungkap Fadel.

Herman Khaeron berpendapat, apakah sosok muda memang memiliki kesempatan, hal itu tergantung kita semua rakyat Indonesia. Sepanjang rakyat Indonesia memberikan kesempatan pasti bisa.

“Tetapi kalau mereka masih menahan PT 4% bahkan akan dinaikkan 10%, ya tidak ada jiwa kepahlawanannya.


Mereka-mereka hanya mempertahankan hegemoninya dengan kemampuan atau kekuatan politik yang ada, supaya tidak terbuka calon-calon yang tadi potensial, seperti AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang memang jauh dari oligarki dan juga bersih berpolitik setelah mendedikasikan dirinya di TNI. Itulah contoh yang ideal. Menurut saya ideal untuk menjadi pemimpin masa yang akan datang, “ungkapnya.

Namun sepanjang presidensial ThresHold bisa di tetapkan, ditentukan oleh seluruh pemimpin parpol dan anggota DPR yang ada di parlemen ini, pasti bisa terbuka bagi siapapun.

Sesungguhnya nilai-nilai kepahlawanan itu ketika seluruh instrumen atau komponen bangsa memberikan ruang yang seluas-luasnya, bagi pemimpin bangsa yang ideal,”ujar Khaeron.

Profesor Siti Zuhro mengatakan, partai itu pilar penting negara. “Kami para guru besar Perguruan tinggi sudah menyampaikan PT itu akan ‘menggali lobang sendiri’.

Menurut saya jebakan yang diciptakan sendiri menutup peluang orang lain. Ini tidak sehat intinya tidak hanya mengancam partai menengah dan kecil tapi membuat rakyat tidak bisa memilih selain yang parpol yang punya PT,”kata Zuhro.

Selain hal itu tidak mendidik, kita menghadapi persoalan yang sangat kompleks, calon pemimpin kita tidak visioner. “Kita membangun tidak hanya sekedar 3 atau 5 tahun. Mau tak mau kita harus punya pemimpin brilian. Dalam konteks Pemilu 2024. Kalau tidak mampu dizerokan mungkin dikembalikan seperti pada Pemilu 2004,” tukas Zuhro. (j04)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *