Premium Langka, Evaluasi PT Pertamina Patra Niaga

Premium Langka, Evaluasi PT Pertamina Patra Niaga

  • Bagikan
WAKIL Ketua Komisi B DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga. DPRD Sumut meminta Meneg BUMN untuk mengevaluasi para petinggi yang ada PT Pertamina Patra Niaga selaku pemasok Bahan Bakar Minyak (BBM) terkait langkanya Premium di tiga daerah. Waspada/Partono Budy
WAKIL Ketua Komisi B DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga. DPRD Sumut meminta Meneg BUMN untuk mengevaluasi para petinggi yang ada PT Pertamina Patra Niaga selaku pemasok Bahan Bakar Minyak (BBM) terkait langkanya Premium di tiga daerah. Waspada/Partono Budy

MEDAN (Waspada): DPRD Sumut meminta Meneg BUMN untuk mengevaluasi para petinggi yang ada PT Pertamina Patra Niaga selaku pemasok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Sumatera bagian Utara. Alasannya, para top manajer perusahaan itu sering kali bikin gaduh di tengah masyarakat terkait langkanya Premium di sejumlah daerah.

“Ini sudah berulangkali bikin gaduh, mau sampai berapa kali masyarakat dibuat resah,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga (foto) kepada Waspada di Medan, Kamis (18/11).

Anggota dewan Fraksi Nusantara ini merespon langkanya BBM jenis Premium di Kota Binjai, Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, diduga akibat ada upaya menghilangkan bahan bakar tersebut.

Menyikapi itu, Zeira mengaku tidak habis pikir dengan kinerja PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga yang sering bikin gaduh di masyarakat.
“Kemarin katanya pasokan BBM tersendat akibat pemberlakuan PPKM, terus normal, kini langka lagi. Ada apa ini, mau sampai berapa kali masyarakat dibuat resah,” ujarnya.

PT Pertamina, lanjut Zeira sudah berulangkali minta maaf atas ketidaknyamanan pasokan BBM di sejumlah wilayah. “Ini kalau salah lagi, minta maaf lagi. Bukan soal maafnya, tetapi masyarakat sudah terlanjur resah,” jelasnya.

Terkait langkanya BBM jenis Premium tersebut di sejumlah SPBU yang dulunya menjual bensin itu, Zeira menegaskan, perlu ada langkah cepat agar tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. “Kalau sempat Premium langka, ini bahaya kita,” sebutnya.

Menyinggung adanya fluktuasi harga minyak dunia yang sering jadi alasan langkanya BBM, Zeira menyebut hal itu tidak berkolerasi sama sekali. “Ini kan masalah lokal, soal BBM jenis Premium yang tak lagi dijual di tiga kabupaten/kota,” ujarnya.

Pihaknya khawatir jika BBM jenis Premium tetap dibiarkan kosong, akan merembet ke daerah-daerah lain, sehingga akan mengganggu aktifitas ekonomi.

Karenanya, Zeira menyebutkan jika pasokan Premium terkendala, Pertamina perlu meningkatkan pengawasan, agar diantisipasi di masa yang akan datang.

Terkait adanya substitusi dari Premium ke Pertalite, Zeira tidak sependapat karena kuota subsidi hingga kini anggarannya ditampung di APBN.

“Jangan main politik lihat reaksi di masyarakat. Kalau gak ada gejolak. Premium kita ganti dengan Pertalite. Ya gak boleh dong seperti ini, dan pemerintah harus menegur Pertamina jika ada indikasi seperti itu,” sebutnya.

Penugasan

Sebelumnya, Agustiawan selaku Section Head Communication & Relation Sumbagut, PT Pertamina Patra Niaga, Sub Holding Pertamina Commercial & Trading, menjelaskan pihaknya mengklaim tetap menyalurkan Premium yang merupakan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) sesuai dengan regulasi pemerintah.

“Sesuai regulasi Perpres 191/2014 dan Perpres 243/2018, Premium merupakan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dan Pertamina berkomitmen menjalankan penugasan tersebut dengan tetap menyalurkannya di setiap wilayah sesuai dengan kuota yang sudah ditetapkan pemerintah,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, masyarakat sudah mulai beralih ke BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan seperti Pertamax Turbo, Pertamax, dan Pertalite, sehingga proporsi konsumsi Premium saat ini terus menurun. (cpb)

  • Bagikan