Pilpres 2024 PKB Siapkan Poros Ketiga

  • Bagikan
Diskusi Empat Pilar MPR RI ‘Merawat Persatuan dan Menolak Politik Identitas Menjelang Pilpres 2024’ di Media Center MPR/DPR Jakarta, Rabu (27/10). (Waspada/Andy Yanto Aritonang)

JAKARTA (Waspada): Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan menyiapkan Pilpres 2024 tidak terjadi politik identitas yang bersinggungan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Bentuk politik identitas itu muncul pada pemilu 2019, sehingga terjadi pembelahan di masyarakat.

“Oleh karena itu posisi kami atau saya selaku pengurus PKB melakukan upaya-upaya dengan terbentuknya poros lebih banyak. Minimal 3 poros dan PKB berupaya untuk memimpin satu poros,” tegas Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid dalam diskusi Empat Pilar MPR RI ‘Merawat Persatuan dan Menolak Politik Identitas Menjelang Pilpres 2024’ bersama anggota MPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus, anggota MPR RI Fraksi PKS Mardani Ali Sera dan pakar politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin di Jakarta, Rabu (27/10).

Gus Jazil, sapaan akrab Wakil Ketua Umum DPP PKB itu mengajak para politisi belajar dari pengalaman Pilpres 2019, karena itu, dalam pilpres nanti semaksimal mungkin diusahakan ada 3 poros pasangan capres-cawapres.

“Indikator suksesnya pemilu itu antara lain pilpres dan pileg melibatkan partisipasi masyarakat yang besar dan tidak memunculkan politik identitas,” tandasnya.
PKB tambahnya, akan terus berjuang untuk melahirkan tiga poros pasangan capres-cawapres tersebut. Dengan parlement atau presidential threshold 20 persen tetap bisa membentuk lebih dari dua poros pasangan capres – cawapres.

“Kalau hanya dua pasangan, saya pastikan akan muncul politik identitas, hanya untuk menjatuhkan lawan politik. Selain itu, pentingnya kesadaran politik melalui tingkat pendidikan yang baik. Karenanya, anggaran untuk pendidikan politik di partai perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Guspardi juga menolak identitas politik dalam pilpres tersebut. Menyadari dalam pemilu 2019 lalu faktanya secara kasat mata mengakibatkan terjadinya pembelahan di tengah masyarakat, yang merusak persatuan itu sendiri. Padahal, semua elemen bangsa ini harus berkomitmen untuk merawat dan menjaga persatuan itu dalam bingkai NKRI.

“Politik identitas itu lebih banyak mudharat – keburukannya daripada manfaatnya, meski sulit dihilangkan. Mengapa? Indonesia dengan penduduk lebih dari 270 juta jiwa dengan latar belakang yang juga beragam, dalam politik itu pasti akan mempengaruhi nilai-nilai persatuan,” tambah Guspardi.

Politisi PAN itu mengibaratkan pemilu seperti pesta, yaitu pesta demokrasi. Dimana dalam pesta itu dipastikan akan ada gelas atau piring yang pecah, retak, dan sebagainya, sehingga, semua harus sepakat menolak politik identitas tersebut.

Mardani Ali Sera juga menolak politik identitas tersebut, dan hal itu bisa terus diminimilisir dengan tingkat Pendidikan masyarakat yang baik. “Kalau pendidikannya baik dan berkualitas dengan sendirinya politik identitas itu akan tertolak,” katanya singkat.

Ujang Komarudin berharap para politisi dalam kontestasi pilpres itu mesti menjadi negarawan. Semua kandidat capres dan pilkada diuji melalui visi dan misinya. Bukan identitasnya. Karena, politik identitas yang muncul selama ini hanya untuk menjatuhkan lawan politik.

“Meski dalam hubungan sosial politik itu pasti akan ada konflik di tengah masyarakat yang heterogen, sehingga dibutuhkan sosok yang menjadi teladan. Terlebih membawa dalil – dalil agama, ini pasti sulit bahkan taruhannya hidup mati. Kan susah. Inilah yang mesti dihindari,” ungkapnya.
Namun menurut Ujang jika regulasi aturan bagi parpol ambang batasnya masih 20 persen kemungkinan terjadi pembelahan cukup tinggi. “Dari info pihak tertentu ada yang ingin capres dua pasangan saja. Padahal mereka yang terkena kasus urusan Pilpres 2019 masih banyak yang di penjara. Termasuk ada yang emak-emak, ” ungkapnya.
Yang moderat kata Ujang, diturunkan kita memberi ruang kepada yang lain calon presiden alternatif. “Presiden Threshold 20 persen yang membuat pertarungan akan itu-itu aja. Kalau kontruksi UU tidak diubah ada kemungkinan yang muncul capres hanya dua pasangan,” kata memprediksi.(j04)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *