Waspada
Waspada » Perlambatan Ekonomi Dipengaruhi Menurunnya Daya Beli
Ekonomi Headlines Medan

Perlambatan Ekonomi Dipengaruhi Menurunnya Daya Beli

MEDAN (Waspada): Perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah Pandemi Covid-19, mempengaruhi semua lini lapangan usaha, terutama usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Semua segmen usaha terdampak akibat daya beli masyarakat yang menurun.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, ada dua hal yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun.

Pertama, banyak orang kehilangan pekerjaan akibat banyak usaha maupun industri tutup akibat Covid-19.

Sehingga kemampuan untuk membeli masyarakat menjadi menurun atau tidak ada.

Kedua, adanya kekhawatiran.

Karena di masa pandemi ini banyak orang khawatir tertular bila keluar rumah dan berinteraksi langsung dengan orang lain, maupun mendatangi keramaian seperti mall, cafe, restoran, dan sebagainya.

Sehingga konsumsinya ditahan, terutama untuk jasa kecantikan, salon, dan sebagainya. Itu semua merupakan pelaku UMKM.

Industri besar juga terdampak penurunan produksi, karena ekspornya terhenti.

“Jadi semua lini, terkena dampak perlambatan ekonomi. Baik kecil, besar maupun menengah. Memang, ketika orang tidak bekerja, atau pekerjaannya berkurang, pendapatannya berkurang, otomatis konsumsinya juga berkurang. Dan konsumsi itu, karena kita banyak di pendapatan menengah bawah, maka berimbas kepada pelaku UMKM,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus terus mendorong daya beli masyarakat supaya tetap terjaga, terutama kelompok menengah bawah. Karena mereka belanjanya ke UMKM.

Kalau UMKM bertahan, paling tidak, angka pengangguran tidak begitu melonjak.

Karena sekitar 99% masyarakat bekerja di sektor UMKM.

“Pemerintah harus membuat program bagaimana tetap mempertahankan daya beli masyarakat. Terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah, supaya UMKM tetap bertahan. Karena ini yang menghidupkan UMKM,” ujarnya.

Bagi pelaku usaha, lanjut Wahyu, pemerintah harus bisa membantu dari sisi biaya produksi.

Bagaimana pemerintah menjaga supaya biaya produksi mereka tetap terjaga.

Jangan naikan listrik, jangan naikkan BBM, dan jangan naikkan komponen biaya produksinya.

Kemudian dari sisi ketahanan permodalan.

Memang, katanya, sudah ada relaksasi kredit, namun itu harus terus dijaga.

Kemudian, bisa jadi UMKM mempunyai peluang bisnis baru.

Karena banyak UMKM yang beralih bisnis karena sudah tidak sesuai lagi di tengah pandemi saat ini.

“Nah, itu kan berarti perlu modal lagi. Maka itu difasilitasi oleh negara. Kalau mau dibantu dari sisi suplay dan sisi demandnya. UMKM itu harus dijaga produksinya dan biaya produksinya tetap rendah. Kemudian bagi yang masuk bisnis baru, harus difasilitasi dengan pembiayaan kredit yang murah,” pungkasnya. (m31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2