Waspada
Waspada » Penumpang Di Bandara SIM Menurun Drastis
Aceh Headlines

Penumpang Di Bandara SIM Menurun Drastis

PENUMPANG di Bandara SIM, Blang Bintang, Aceh Besar sedang melewati ruang pengukuran suhu. Waspada/Ist
PENUMPANG di Bandara SIM, Blang Bintang, Aceh Besar sedang melewati ruang pengukuran suhu. Waspada/Ist

BANDA ACEH (Waspada): Executive General Manager PT. Angkasa Pura II Bandara SIM, Indra Gunawan, menyampaikan bahwa saat ini Bandara SIM beroperasi dalam keadaan minimal, menyesuaikan dengan penurunan jumlah penerbangan dan penumpang yang turun drastis sebesar 64 persen dari kondisi normal.

Disisi lain, PT. Angkasa Pura II mencatat jumlah kargo yang datang meningkat tajam, dimana jumlah barang rata-rata mencapai 12 ton per hari, yang didominasi perlengkapan medis dan alat pelindung diri (APD) untuk kebutuhan darurat saat ini, termasuk pengiriman masker, sarung tangan dan hand sanitizer yang dipasok dari luar Aceh.

Sebagai catatan, sebut Indra, jumlah penumpang pada keadaan normal mencapai 2.800 sampai dengan 3000 orang perhari, sedangkan kargo rata-rata 11-15 ton per hari dengan pergerakan 28 movement per hari.

“Namun dalam kondisi pelayanan saat ini, jumlah pergerakan hanya sekitar 10 movement per hari dengan jumlah kargo mencapai 11-13 ton per hari,” terangnya.

Indra yang didampingi Manager of Airport & Service, Surkani, juga menyampaikan bahwa menindaklanjuti pemberlakukan jam malam di Aceh, maka pihaknya juga sudah mengajukan penyesuaian jam operasional bandara ke Dirjen Perhubungan Udara melalui Direksi PT. Angkasa Pura II (Persero) dari biasanya pukul 06.00 wib sampai 22.00 wib menjadi pukul 08.00 wib sampai pukul 18.00 wib saja.

Terkait munculnya harapan berbagai pihak agar operasional bandara ditutup, menurut Indra, perlu dikaji lebih dalam, khususnya terhadap kesiapan logistik, peralatan medis bahkan kesiapan pemeriksaan specimen COVID-19 di Aceh.

Saat ini Pemerintah Aceh masih mengandalkan dukungan maskapai yang masih beroperasi di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) untuk mengangkut specimen tersebut ke Jakarta. “Tentunya tidak diharapkan apabila ditutupnya operasional Bandara SIM mengakibatkan melemahnya upaya penanganan kasus dan pencegahan wabah Covid-19 di Aceh yang membutuhkan angkutan yang cepat dalam keadaan darurat seperti saat ini,” imbuhnya.

Terlebih lagi, berdasarkan data Dinkes Aceh, proses pengujian specimen Covid-19 membutuhkan waktu yang bervariasi mulai tiga hari hingga satu minggu. Karena itu ketersediaan penerbangan setiap harinya sangat dibutuhkan.

Selain itu, EGM PT. Angkasa Pura II Bandara SIM menyampaikan bahwa secara regulasi, Bandara SIM telah ditetapkan sebagai bandara alternatif (alternate aerodrome), sehingga dalam keadaan emergency pesawat yang melintas dapat mendaratkan pesawatnya di Bandara SIM dengan pertimbangan keselamatan penerbangan.

Berdasarkan Surat Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Nomor HK.104/3/1/drju.kum-2020 Tanggal 24 Maret 2020 Tentang Penutupan Bandar Udara/Pembatasan Penerbangan, kebijakan penutupan bandar udara dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Udara. Ketentuan ini tentu berlaku juga untuk bandara-bandara lain dalam wilayah Aceh yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan.

“Dilematis terhadap pendapat untuk menutup operasional bandara perlu mengkaji baik buruknya dengan melibatkan pihak-pihak terkait,” pungkasnya. (b04)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2