Waspada
Waspada » Pengusaha Hotel Divonis 2 Tahun Penjara
Headlines Medan

Pengusaha Hotel Divonis 2 Tahun Penjara

TERDAKWA saat menjalani sidang di PN Medan. Waspada/Rama Andriawan
TERDAKWA saat menjalani sidang di PN Medan. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Majelis hakim diketuai Erintuah Damanik menghukum terdakwa Abdul Latief, dengan pidana 2 tahun penjara, dalam sidang yang berlangsung di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (3/6).

Pengusaha salah satu hotel ini, terbukti bersalah melakukan penipuan uang sewa tanah dan bangunan milik saksi korban Tatarjo Angkasa sebesar Rp4,5 miliar.

“Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Abdul Latief selama 2 tahun penjara,” ucap hakim Erintuah.

Hakim menjelaskan, terdakwa terbukti menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat.

“Perbuatan terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 378 KUHPidana,” urai hakim.

Di bagian lain majelis hakim juga berpendapat menolak nota pembelaan penasihat hukum terdakwa yang menyatakan perkara tersebut ranah perdata.

Majelis hakim juga memerintahkan JPU agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.

Dalam persidangan diketahui, terdakwa memang ada membayar sewa lahan saksi korban selama 6 bulan pada tahun 2017.

Namun ternyata, cek yang hendak dicairkan, salah satu di antaranya tidak bisa dicairkan karena saldonya tidak cukup.

Sehingga pembayaran menggunakan cek giro kosong tersebut dikategorikan tindak pidana penipuan.

Vonis majelis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana 3,5 tahun penjara.

Atas putusan itu, baik JPU maupun terdakwa menyatakan pikir-pikir, apakah menerima putusan yang baru dibacakan atau melakukan upaya hukum banding.

Dalam dakwaan jaksa dijelaskan, saksi Tatarjo Angkasa, hendak menjual tanah miliknya di Jl. Perintis Kemerdekaan Kel. Gaharu Kec. Medan Timur.

Melalui Siswanto Thio dan Asen, saksi korban akhirnya diperkenalkan dengan terdakwa yang mengaku profesional dalam mengelola tanah.

Terdakwa Abdul Latief kemudian mengutarakan niatnya untuk menyewa tanah dan bangunan milik saksi korban.

Selanjutnya terjadi pertemuan dan perbincangan antara saksi korban dan terdakwa membahas tentang sewa tanah di kantor usaha Siswanto Tio pada 2017 silam.

Dalam pertemuan itu, terdakwa meyakinkan kepada saksi korban bahwa ia memiliki usaha perhotelan, mempunyai jual beli permata dan tabungan di Swiss hingga keuntungan miliaran rupiah.

Saksi korban mulai tertarik oleh rayuan terdakwa, hingga menyatakan sistem persewaan kepada terdakwa.

Setelah pertemuan tersebut, selanjutnya Tatarjo Angkasa dengan terdakwa membuat kesepakatan sewa-menyewa tanah dan bangunan di kantor notaris dalam suatu perjanjian sewa menyewa No. 2 tanggal 2 Agustus 2017.

Disepakati, dalam isi perjanjian kontrak selama 8 tahun, terhitung 2017 hingga 2025 yang dilakukan dengan 8 tahap pembayaran.

Terdakwa Abdul Latief selanjutnya melakukan pembayaran sewa bulan pertama Juli 2017 sebesar Rp200 juta.

Hingga bulan keenam terdakwa masih lancar membayar sewa dengan jumlah bervariasi.

Namun setelah itu, Abdul Latief tidak lagi ada membayar uang sewa kepada Tatarjo dengan alasan tagihan konsumen belum banyak ditagih.

Akibatnya korban mengalami kerugian sebesar Rp4,5 miliar. (m32)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2