Penghasilan Rp15 Juta Per Bulan, Pasutri Meracik Kopi Campur Ekstasi
banner 325x300

Penghasilan Rp15 Juta Per Bulan, Pasutri Meracik Kopi Campur Ekstasi

  • Bagikan
KAPOLRESTABES Medan Kombes Riko Sunarko menginterogasi pasangan suami istri yang membuat minuman kopi bercampur pil ekstasi saat menggelar hasil tangkapan Sat Res Narkoba Polrestabes Medan. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
KAPOLRESTABES Medan Kombes Riko Sunarko menginterogasi pasangan suami istri yang membuat minuman kopi bercampur pil ekstasi saat menggelar hasil tangkapan Sat Res Narkoba Polrestabes Medan. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): Mengaku sudah 2 tahun menjalankan bisnis ilegal menjual kopi bercampur ekstasi oplosan, pasangan suami istri berinisial J ,30, dan istrinya MC ,25, berpenghasilan Rp15 juta perbulan, diringkus oleh personil Sat Res Narkoba Polrestabes.

‘Home industri’ yang dikelola pasutri tersebut beralamat di Jl. Budi Kemenangan Kelurahan Pulo Brayan Kota Kecamatan Medan Barat memanfaatkan pil ekstasi yang tidak laku terjual di lokasi hiburan malam sebagai bahan bakunya untuk diolah kembali menjadi campuran minuman kopi yang telah diracik dalam bentuk kemasan sachet.

Kepada wartawan di Mapolrestabes Medan Selasa (14/9), tersangka J mengaku hanya bekerja seorang diri sedangkan istrinya hanya membantu untuk mengantarkan kopi sachet bercampur ekstasi kepada pelanggannya di lokasi hiburan malam.

“Selain diantar langsung, kapi sachet tersebut juga diantar kepada pemesannya melalui jasa online,” tutur tersangka J kepada wartawan.

Selain itu, tambah J, hasil penjualan kopi bercampur pil ekstasi oplosan tersebut ditransfer ke berbagai rekeningnya.
“Setiap bulan, omset penghasilan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta,” aku tersangka J.

Berbagi Peran

Sementara itu, Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko saat mempaparkan kasus ini, Selasa (14/9) menjelaskan, dalam menjalankan bisnis ini, pasangam suami istri tersebut berbagi peran.

Tersangka J, berperan meracik kopi yang sudah dicampur dengan ekstasi yang digerus sekaligus membeli ekstasi yang tidak laku di tempat hiburan sedangkan sang istri, MC berperan mengantarkan barang narkotika itu ke para konsumen.

“Dalam menjalankan praktik bisnis haram ini, keduanya menggunakan 5 rekening berbeda termasuk rekenig milik orang tuanya. Keduanyapun diketahui menggunakan jasa aplikasi jual beli online di internet untuk mengantar barang,” sebut Kapolrestabes Medan.

Dia didampingi Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol, Toga H Panjaitan, Walikota Medan, Boby Afif Nasution, Wakil Walikota Medan, Auli Rachman, Kasat Narkoba, Kompol M Rikki Ramadhan, Wakasat Narkoba, Iptu Ainul Yaqin, para Kanit dan undangan lainnya.

Dijelaskan Kapolrestabes, selain kopi campur ekstasi, dari pasutri itu juga disita antara lain, 5,2 gram sabu, 173 butir pil ekstasi berbagai merek, 1205 butir pil H5, 39 botol keytamin cair, 168 bungkus kecil keytamin serbuk, 3 unit timbangan elektrik, 208 lintingan rokok batangan ganja, 168 butir pil alprazolam.

“Keduanya sudah menjalankan praktik terlarang ini selama 2 tahun. Keuntungan yang didapat tiap bulannya bisa mencapai Rp 15 juta,”sebutnya.

Selain itu, Polrestabes juga berhasil mengungkap dua kasus lainnya yakni, peredaran 3,1 Kg gram heroin asal Malaysia yang dibawa dari Aceh yang rencananya akan diedarkan di Medan.

Untuk kasus ini, Sat Res Narkoba mengamankan dua tersangka masing-masing, ANS ,35, warga Desa Kuala Pedaga, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang serta, MAN ,41, warga Jl. Chaidir, Kelurahan Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan.

Kasus lainnya yakni, pengungkapan 800 gram sabu, 35 papan pil H5 dan 1 timbangan elektrik milik tersangka, IS ,52, warga Komplek Tasbih II, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Sunggal.

Selain mengungkap ketiga kasus tersebut, Polrestabes sebelumnya juga mengungkap 3 kasus narkotika dengan barang bukti, 148 kg ganja yang diamankan oleh anggota Koramil /13 Percut Seituan, Peltu Elieser Sitorus, 1 Kg sabu yang diungkap Tim Reskrim Polsek Pancur Batu dan 97 Kg ganja yang diamankan dari kawasan Jl. Makmur Pasar VII, Desa Sambirejo, Kecamatan Percut Seituan.

Perhatian

Sementara itu, Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol Toga H Panjaitan, mengatakan, adanya peredaran heroin jadi fenomena baru dan akan menjadi perhatian pihaknya. Brigjen Toga juga menyampaikan, Sumut saat ini menduduki peringkat pertama korban penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Ada sekitar 1,5 juta masyarakat yang terpapar dan menjadi korban penyalahgunaan narkotika.

“Konsepnya, untuk mengurangi prevelansi korban harus direhabilitasi, bukan dipenjara. Kalau tidak diobati berapapun pasokan akan habis. Mudah-mudahan kita bisa membangun panti rehab gratis untuk mengobati korban penyalahgunaan narkotika. Intinya bagaimana kita mengendalikan, karena kejahatan narkotika ini merupakan extrarordinary crime,”jelasnya. (m27)

  • Bagikan