Waspada
Waspada » Kasus 327 Kg Ganja, Oknum Polisi Polres Padangsidimpuan Dituntut Mati
Headlines

Kasus 327 Kg Ganja, Oknum Polisi Polres Padangsidimpuan Dituntut Mati

Para terdakwa dari Polres Padangsidimpuan saat mendengarkan tuntutan dalam sidang virtual di PN Medan. Kasus 327 Kg ganja, oknum Polisi Polres Padangsidimpuan dituntut mati. Waspada/Rama Andriawan
Para terdakwa dari Polres Padangsidimpuan saat mendengarkan tuntutan dalam sidang virtual di PN Medan. Kasus 327 Kg ganja, oknum Polisi Polres Padangsidimpuan dituntut mati. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Oknum polisi dari Polres Padangsidimpuan, Bripka Witno Suwito dan warga sipil Edi Anto Ritonga dituntut pidana mati. Sedangkan Aiptu Martua Pandapotan pidana seumur hidup, terkait kasus 327 kg ganja.

Ketiganya dituntut  jaksa Anita dalam persidangan virtual di Ruang Cakra III Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (29/12) sore.

Mereka dinyatakan bersalah atas kasus rekayasa penyitaan barang bukti ganja seberat 327 kilogram. Jaksa dalam tuntutannya menyebutkan, ketiga terdakwa melanggar Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Dua orang terdakwa, yakni seorang warga dan oknum polisi dari Polres  Padangsidimpuan dituntut hukuman mati

“Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Witno Suwito dan Edi Anto Ritonga alias Gaya dengan pidana mati. Kemudian, menuntut terdakwa Martua Pandapotan dengan pidana seumur hidup,” kata jaksa Anita di hadapan Hakim Ketua T. Oyong.

Sementara 6 lainnya, Bripka Andi Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, Brigadir Amdani Damanik, dan Briptu Rory Miryam Sihite dituntut masing-masing selama 20 tahun penjara.

“Keenam terdakwa masing-masing juga didenda sebesar Rp1 miliar subsider 6 bulan penjara,” kata jaksa.

Keenam terdakwa oknum dari Polres Padangsidimpuan ini, dinilai terbukti melanggar Pasal 115 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Keenamnya juga dituntut membayar denda masing-masing sebesar Rp1 miliar subsider 6 bulan penjara.

Atas tuntutan jaksa, hakim memberikan kesempatan kepada pihak terdakwa untuk menyampaikan nota pembelaan (pledoi) dalam persidangan selanjutnya.

Kasus yang menjerat terdakwa berawal saat Edi Anto Ritonga alias Gaya menerima pekerjaan dari Mulia (DPO) pada awal Februari 2020.

Selanjutnya, Mulia menyerahkan 15 karung ganja dan menyebut harga modal Rp1.600.000 per kg sehingga total modalnya Rp400.000.000.

Ganja itu kemudian dibawa dan disimpan di gudang samping rumahnya di Jl. Alboin Hutabarat Gang Dame Kampung Darek Kel. Wek VI, Kec. Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan.

Digerebek

Pada Kamis 27 Februari, Kampung Darek digerebek Satuan Reserse Narkoba Polres Tapanuli Selatan. Lokasi yang digerebek sekitar 500 meter dari rumah Edi Anto Ritonga.

Keesokan harinya dia menghubungi Mulia dan memintanya mengambil 15 karung ganja dari rumahnya. Hari itu juga, Edi Santoso alias Edi Ramos (DPO) menghubungi Bripka Witno Suwitno.

Dia menyatakan mau menyerahkan ganja miliknya yang ada di Kampung Darek, syaratnya dia dan Edi Anto Ritonga tidak ditangkap.

Kemudian, Bripka Witno Suwito, bersama 7 rekan satu unitnya bertemu dengan Edi Anto Ritonga dan Kucok (DPO). Mereka memasukkan sejumlah karung plastik berisi narkotika jenis ganja ke mobil Daihatsu Terios putih, mobil Honda Jazz putih yang digunakan aparat kepolisian.

Para personel kepolisian ini akhirnya menyepakati ganja itu diletakkan di areal perkebunan PTPN-III Desa Tarutung Baru, Kec. Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan.

Mereka kemudian melapor ke atasannya telah menemukan narkotika tak bertuan. Total ganja yang ditemukan seberat 327 Kg. Namun, akhirnya terbongkar. Mereka lalu diamankan. (m32).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2