Waspada
Waspada » Normalisasi Dengan Israel, Kerajaan Arab Saudi Terbelah
Headlines Internasional

Normalisasi Dengan Israel, Kerajaan Arab Saudi Terbelah

Internal Kerajaan Arab Saudi terpecah terkait normalisasi hubungan dengan Israel. Raja Salman yang pro kemerdekaan Palestina disebut bertentangan dengan putranya, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) yang lebih menginginkan normalisasi untuk membuka peluang kerja sama bisnis yang bisa menguntungkan kedua negara melawan Iran. WSJ

RIYADH, Arab Saudi (Waspada): Keluarga Kerajaan Arab Saudi dilaporkan terbelah dalam terkait normalisasi hubungan dengan Israel, menyusul kesepakatan normalisasi Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan negeri Zionis yang baru saja ditandatangani di Gedung Putih, Amerika Serikat.

Dikutip dari surat kabar The Wall Street Journal, Senin (21/9/2020), Raja Salman bin Abdulaziz bertentangan dengan putranya, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) yang lebih menginginkan normalisasi juga dengan Israel.

Harian asal AS itu mengatakan kerajaan Saudi masih tetap berkomitmen memboikot Israel dengan pendirian teguh untuk kemerdekaan Palestina. Sedangkan Pangeran MBS ingin menjalin normalisasi hubungan dengan Israel dan membuka peluang kerja sama bisnis yang bisa menguntungkan kedua negara untuk melawan Iran.

Dilansir dari laman Times of Israel, Minggu (21/9/2020), Arab Saudi, Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain selama ini menganggap Iran sebagai musuh bersama dan mereka menjalin hubungan erat dengan AS.

Pangeran MBS sudah lebih dulu tahu sebelumnya tentang kesepakatan UEA dan Bahrain, namun dia tidak memberitahukan hal ini kepada ayahnya karena khawatir sang ayah akan mencegah upayanya selama ini dan itu bisa membuatnya marah.

MBS dikatakan tahu tentang sikap ayahnya yang menentang kesepakatan Israel dengan UEA dan ini bisa membuat upaya negosiasi menjadi sulit. Raja Salman memerintahkan menteri luar negeri Saudi mengumumkan lagi komitmen Kerajaan untuk kemerdekaan Palestina.

Dan salah satu rekan Raja Salman menulis di koran pemerintah Saudi yang menegaskan kembali posisi Kerajaan yang pro-Palestina. Artikel itu dilaporkan menjadi petunjuk bagi UEA untuk lebih menekan Israel soal kemerdekaan Palestina.

Berdasarkan Gagasan Perdamaian Arab 2002 yang disusun oleh mendiang Raja Saudi Abdullah, negara-negara Arab sepakat untuk menjalin hubungan dengan Israel. Namun, hanya jika kesepakatan soal nasib rakyat Palestina tercapai sesuai dengan persetujuan gencatan senjata 1967.

Arab Saudi hingga kini masih bungkam soal kesepakatan normalisasi Israel dengan Bahrain. Namun selama ini Bahrain dipandang sebagai sekutu dekat Saudi dan negara kecil di Teluk itu rasanya tidak akan berani melangkah untuk berdamai dengan Israel tanpa mendapat persetujuan dari Riyadh.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa akan ada negara lain yang siap menjalin normalisasi hubungan di masa depan.

Kepala lembaga intelijen Israel (Mossad) Yossi Cohen, dalam wawancara Rabu lalu memberi keterangan bahwa Saudi bisa jadi negara berikutnya yang membuka hubungan normalisasi dengan Israel. Meski begitu dia menolak berkomentar apakah dia sudah bertemu dengan para petinggi Kerajaan Saudi untuk membahas isu ini.

Selasa lalu Trump mengatakan dia berharap Arab Saudi akan menjalin normalisasi hubungan dengan Israel setelah UEA dan Bahrain. Dia juga menyebut ada lima atau enam negara lagi yang siap berdamai dengan Israel dan kemudian dia meralat angka itu dengan menyebut bahkan ada sembilan negara.

Menjalin hubungan dengan Saudi akan menjadi pencapaian bersejarah bagi Israel dan memicu pergeseran geopolitik di Timur Tengah. Saudi hingga kini masih belum mengubah pendirian meski sudah ada dukungan untuk normalisasi dari Washington dan punya kepentingan yang sama dengan Israel.

Sebagai langkah penting dalam isu ini, Saudi bulan lalu sudah mengizinkan pesawat Israel melintasi wilayah udaranya. (reuters/wsj/nyt/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2