Waspada
Waspada » MUI Kota Medan Beri Penyuluhan Upaya Penyelesaian Sengketa Wakaf Di Kota Medan
Headlines Medan

MUI Kota Medan Beri Penyuluhan Upaya Penyelesaian Sengketa Wakaf Di Kota Medan

KETUA Umum MUI Kota Medan, Prof Dr Mohd Hatta saat membuka acar penyuluhan upaya penyelesaian sengketa wakaf di Kota Medan pada pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Pengurus MUI Kota Medan dan mahasiswa, Kamis (5/11) di aula kantor MUI Kota Medan. Waspada/Yuni Naibaho
KETUA Umum MUI Kota Medan, Prof Dr Mohd Hatta saat membuka acar penyuluhan upaya penyelesaian sengketa wakaf di Kota Medan pada pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Pengurus MUI Kota Medan dan mahasiswa, Kamis (5/11) di aula kantor MUI Kota Medan. Waspada/Yuni Naibaho

MEDAN (Waspada): Masih banyaknya permasalahan wakaf di Kota Medan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan memberi penyuluhan upaya penyelesaian sengketa wakaf di Kota Medan pada pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Pengurus MUI Kota Medan dan mahasiswa, Kamis (5/11) di aula kantor MUI Kota Medan.

Ketua Umum MUI Kota Medan, Prof Dr Mohd Hatta yang membuka acara penyuluhan tersebut mengatakan, permasalahan wakaf saat ini banyak dibicarakan berbagai kalangan terutama ulama fiqih.

Apalagi dengan perkembangan zaman, maka kelihatan ya terjadi perbedaan pandangan hukum wakaf yang terus bergerak ditengah masyarakat.

“Dulu wakaf itu dikenal hanya tanah dan benda tertentu. Tapi kalau sekarang yang namanya wakaf berkembang yakni ada uang dan berbagai hal sesuai perkembangan zaman,” ujarnya.

Dilanjutkan Prof Hatta, kebutuhan wakaf terus meningkat sehingga banyak pula tanah wakaf ini kemudian dipersengketakan karena harga nya semakin tinggi.

“Kalau dulu orang takut rumahnya dekat kuburan, sekarang tanag kuburan itu yang digarap dan diatasnya dibagun rumah. Bahkan terjadi manipulasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi daripadai nilai wakaf tersebut. Permasalahan tanah wakaf ini lah yang memang masih menyita perhatian,” katanya.

Bahkan, kata Prof Hatta lagi, dari pertemuan dengan BKM dan nazir mesjid kecamatan se Kota Medan, diketahui 60 persen aset wakaf masjid tidak terdaftar dalam lembaga hukum yang pasti.

“Hanya 40 persen aset tanah wakaf masjid yang punya sertifikat dan selebihnya asal usul tanah pun tidak diketahui. Kondisi ini lah terjadi pencamplokan, penggusuran dan pergeseran masjid diatas tanah wakaf,” katanya.

Memang, lanjut Prof Hatta, dalam Al quran dan Hadiat sedikit sekali bicara wakaf, tapi berkembang pemahaman terus berkembang sesuai zaman tapi satu hal yang tidak boleh terjadi hilangnya aset wakaf di tengah masyarakat.

“Wakaf sangat berdekatan dengan kebutuhan masyarakat yakni agar dapat beribadah dengan baik. Pembahasannya sangat sensitif sehingga dibutuhkan berbagai komitmen dengan pejabat pemerintah dan para ahli fiqih dalam menyelesaikan permasalahan wakaf,” imbuhnya.

Acara penyuluhan juga menghadirikan narasumber Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan, Dr Hasan Matsum, Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan, DR Syafruddin Syam, MAg dan Ketua Lawazis MUI Medan, Dr Anhar A Abdul Ghani, Lc, MA.

Dari paparannya, Hasan Matsum mengatakan, sepajang sejarah Islam, wakaf merupakan sarana dan modal yang amat penting dalam memajukan perkembangan agama serta meningkatkan kesejahteraan sosial umat Islam pada masa itu dan masa selanjutnya.

“Wakaf merupakan salah satu sumber dana sosial potensial yang erat kaitannya dengan kesejahteraan umat disamping zakat, infaq dan shadaqah. Di Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak agama Islam masuk di Indonesia,” tuturnya. (h01)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2