Mudik Dan Geliat Ekonomi Desa

  • Bagikan

Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP

Kegiatan mudik lebaran merupakan momentum satu kali dalam satu tahun yang sangat berharga untuk geliat ekonomi desa. Selain memiliki hari libur yang panjang, juga memiliki nilai-nilai sakral bagi pemeluk agama Islam

Mudik lebaran tahun ini 1443 H bertepatan dengan tahun 2022 akan berbeda dengan mudik dua tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan Presiden Jokowi yang mengijinkan para pemudik pulang kampung dengan persyaratan telah mendapatkan vaksin yang ke-3 atau booster.

Animo mudik masyarakat urban yang terpendam selama 2 tahun terakhir, kemungkinan akan dicurahkan pada tahun ini hingga dapat berjumpa dengan sanak saudara, teman-teman sepermainan tempo dulu di kampung halaman sambil melepas kerinduan terhadap suasana alam desa yang sudah lama ditinggal.

Daryanto SS (2004),”mudik adalah berlayar ke hulu, pulang kampung/desa”Dengan demikian mudik identik dengan upaya seseorang untuk kembali berlayar ke hulu atau pulang kampung setelah beberapa lama berada di hilir atau di kota.

Menurut survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub), lebaran pada tahun 2022/1443 H diperkirakan jumlah pemudik di Indonesia mencapai 85,5 juta orang yang akan melakukan perjalanan menuju kampung halaman masing-masing.

Untuk menghadapi arus mudik yang tinggi ini, pemerintah telah menyediakan pusat-pusat pelayanan, termasuk menyediakan Bus gratis kepada pemudik di beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Sumatera Utara.

Berdasarkan prediksi berbagai kalangan bahwa, peningkatan jumlah pemudik akan lebih terasa menjelang -2H s/d 1–H. Pada momen ini arus lalu lintas akan dipadati kenderaan angkutan umum, kenderaan pribadi baik roda empat mapun roda dua.

Kesibukan moda transportasi tidak saja terjadi pada terminal-terminal Bus AKAP dan AKDP akan tetapi juga di dermaga pelabuhan dan bandar udara. Untuk menciptakan kenyamanan bagi pemudik, pihak Kepolisian, Dinas Perhubungan dan instansi terkait biasanya melakukan pengamanan pada beberapa titik jalan yang dianggap rawan kecelakaan dan menghimbau kepada pengguna jalan agar mematuhi rambu dan marka jalan.    

Tingginya minat pemudik merayakan lebaran di kampung halaman sangat dipengaruhi pesan moral yang acap kali ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya dengan filosopi, Sejauh kaki merantau, jangan sekali-kali lupa dengan kampung halaman. apabila lupa kampung halaman berarti juga akan lupa dengan kedua orang tua yang senantiasa mengharapkan kedatangan anak dan sanak keluarganya.

Dengan filosopi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun ini, ikatan bathin antara masyarakat urban dengan daerah asal tidak akan mudah terputus walaupun mereka sudah lama meninggalkan kampung halamannya.

Merupakan panggilan jiwa ke kampung halaman bersama sanak keluarga senantiasa melekat untuk melihat kembali tempat permainan di kala usia kanak-kanak, berjumpa dengan kawan lama ketika usia dini, melepas rindu dengan sanak keluarga dan yang terpenting adalah memohon maaf dan sembah sujud dihadapan kedua ibu/bapak.

Suasana yang paling tepat untuk itu adalah saat Idul Fitri karena rekan-rekan perantau yang lain biasanya banyak yang pulang kampung.

Meski tantangan dan resiko yang dihadapi pemudik menuju kampung halaman sangat berisiko, tapi animo tetap tinggi. Bagi pemudik yang menggunakan angkutan umum, meski terminal Bus Angkutan umum, stasiun Ketera Api, Bandara dan Pelabuhan penuh sesak dengan arus mudik tidak menyurutkan niat menuju kampung halaman.

Bagi pemudik dengan kenderaan pribadi tentunya harus dibarengi dengan fisik yang prima untuk mengemudikan kenderaan selama dalam perjalanan yang cenderung mengalami peningkatan arus lalu lintas.Tingginya volume kenderaan yang memadati ruas-ruas jalan menyebabkan intensitas kecelakaan tidak dapat dihindarkan.

Dengan rutinitas tahunan ini, apa yang dicari pemudik..? jawabnya tidak lain yaitu hasrat bertemu kedua orang tua, bagi mereka yang masih memiliki ibu/bapak, sanak keluarga, teman sepermainan semasa kanak-kanak, dan melihat kembali kampung halaman nan lama ditinggalkan.

Dengan terpenuhinya keinginan ini, dapat menumbuhkan semangat baru, ide-ide baru, motivasi baru untuk bekerja lebih giat pada hari-hari yang akan datang. Kesibukan kota yang pengat, frustrasi akibat kemacetan lalu lintas, persaingan hidup yang kian dinamis dapat dilupakan selama berada di kampung halaman.

Pikiran dapat dikosongkan dari aktivitas profesi. Aktivitas mudik biasanya hanya canda, tawa, ria dan silaturrahmi yang dapat memberikan ketenangan bathin yang tidak dapat diperoleh dalam suasana kehidupan kota yang semakin dinamis. Setelah menemukan ketenangan bathin, Idul Fitri dapat dijadikan momentum awal kebangkitan untuk meraih prestasi dan karier yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Geliat Ekonomi Desa

Kegiatan mudik lebaran merupakan momentum satu kali dalam satu tahun yang sangat berharga untuk geliat ekonomi desa. Selain memiliki hari libur yang panjang, juga memiliki nilai-nilai sakral bagi pemeluk agama Islam.

Banyaknya jumlah pemudik pada saat lebaran membuat biaya mudik menjadi mahal. Selain itu, tingginya jumlah pemudik membuat harga tiket transportasi menjadi cepat terjual habis, konon kesempatan ini dimanfaatkan para calo untuk meraup keuntungan yang lebih besar dari pemudik, baik di stasion Bus, pelabuhan, bandara maupun bagi pemudik yang menggunakan jasa angkutan Kereta Api.

Setiap pemudik rata-rata dapat menghabiskan uang 1-5 juta rupiah. Kebutuhan ini mencakup tiket transportasi Pulang Pergi, akomodasi dan oleh-oleh. Sedangkan bagi pemudik yang membawa kenderaan pribadi biayanya akan berbeda sesuai dengan jenis kenderaan yang dipakai.

Angka ini tentu bukan angka yang kecil bagi mereka yang berprofesi sebagai buruh, pekerja perusahaan, pegawai negeri pada level menengah ke bawah yang tinggal di daerah urban atau kota. Namun demikian, demi sebuah kepuasan bathin merayakan Idul Fitri di kampung halaman  mereka rela merogoh kantongnya lebih dalam.

Selama berada di kampung halaman, para pemudik diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar Rp100.000-Rp.300.000/per hari. Semakin lama berada di kampung halaman berarti semakin besar biaya yang dikeluarkan.

Uang yang dibawa pemudik ke kampung halaman menghidupkan perekonomian desa. Dengan perkiraan jumlah pemudik lebaran tahun ini 85,5 juta orang, dikalikan rata-rata pengeluaran pemudik Rp200.000/hari di kampung halaman, maka setara Rp17,1 triliun/hari. Dengan peredaran uang sebesar ini, harapannya tentu akan dapat menguatkan perekonomian desa yang selama 2 tahun terakhir lesu diterpa wabah Covid-19.

Penutup

Menyikapi anjuran pemerintah agar para pemudik melakukan vaksin ke 3 atau booster, supaya dipatuhi oleh para pemudik karena Covid-19 masih ada di sekitar kita. Harapan kita tentunya lebaran pada tahun ini terlaksana dengan baik, dapat memberikan dampak positif bagi penguatan ekonomi desa dan pemudik terhindar dari Covid-19..!  

Penulis adalah Dosen Fisip-UMA, Mahasiswa Doktoral Study Pembangunan USU. 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *