Waspada
Waspada » Milad GAM ke-44, Diwarnai Pengibaran Bendera Bulan Bintang Di Masjid Raya Baiturrahman
Headlines

Milad GAM ke-44, Diwarnai Pengibaran Bendera Bulan Bintang Di Masjid Raya Baiturrahman

Sekira ratusan warga berkumpul saat penaikan bendera Bulan Bintang di MRB, tadi pagi meski hanya beberapa saat. Waspada/Ist 
Sekira ratusan warga berkumpul saat penaikan bendera Bulan Bintang di MRB, tadi pagi meski hanya beberapa saat. Waspada/Ist 

BANDA ACEH (Waspada): Peringatan Milad GAM ke-44 yang jatuh 4 Desember 2020 diwarnai dengan pengibaran bendera Aceh “Bintang Bulan” di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, Jumat (4/12) pagi.

Ratusan warga berkumpul di halaman masjid raya kebanggaan rakyat Aceh, itu untuk mengibarkan bendera Aceh Bintang Bulan, walaupun sempat dilarang oleh aparat keamanan  dari TNI-Polri, namun setelah berdialog mereka tetap mengibarkan bendera tersebut.

“Saya pikir masyarakat menaikkan bendera bulan bintang itu hanya rasa rindu masyarakat terhadap bendera tersebut. Jadi, secara hukum sudah legal, itu sah-sah saja masyarakat menaikkan bendera bulan bintang ini, karena aturannya sudah ada,” ungkap Azhari Cage ketika dikonfirmasi Waspada di Banda Aceh, Jumat (4/12).

Juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) mengatakan, masalah penyibaran bendera di MRB itu, KPA dalam hal ini tidak ada kapasitas menyuruh dan melarang. “Kalau masyarakat yang menaikkan bendera itu sah-sah saja,” ujar Azhari Cage yang mendapat informasi itu setelah memberikan sambutan di makam Syiah Kuala saat menggelar Milad GAM ini.

Kenapa? Karena, sebut Azhari Cage,  Aceh itu sudah punya Qanun Nomor 3 tahun 2013  yang cantolannya UUPA  dan rujukannya ke MoU.  “Jadi, secara hukum ini sudah legal. Dan apabila masyarakat menaikkkan bendera di Masjid Raya Baiturrahman itu adalah keianginan masyarakat , tidak bisa kita bendung,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan pemerintah pusat ikhlas dalam hal bendera Aceh ini. Dan gubernur harus segera duduk dengan DPRA untuk menindaklanjuti keinginan atau aspirasi masyarakat ini dengan segera. “DPRA juga harus bersama rakyat untuk mendesak gubernur agar segera mengeluarkan Pergub tentang qanun bendera Nomor 3 tahun 2013 itu,” tegas mantan anggota DPRA dari fraksi Partai Aceh ini.

Menurut Azhari Cage yang mendapat informasi juga dari group-group WA, bahwa masyarakat menaikkan bendera bintang bulan  antara pukul  09:00 s/d pukul 10:00. Jadi, bendera bintang bulan itu naik sekitar satu jam, kemudian setelah berkibar satu jam, diturunkan sendiri oleh masyarakat.

“Intinya ini aspirasi masyarakat yang harus disahuti oleh gubernur dan DPRA. Mereka datang ke MRB tidak mengganggu fasilitas umum di Kota Banda Aceh, menjaga jarak atau mematuhi protokol kesehatan dan juga bendera merah putih tetap berkibar. Masyarakat  menginginkan bendera Aceh naik bersanding dengan bendera merah putih.

Artinya, masyarakat menaikkan bendera bulan bintang itu hanya rasa rindu masyarakat terhadap bendera bulan bintang ini,” tutur Azhari cage dengan tersenyum.

Dia meminta semua pihak harus komit dengan MoU Helsinki ini tentang perdamaian Aceh dengan Pemerintah RI . “Perdamaian ini tidak mungkin harus dijaga oleh GAM sendiri dan Pemerintah Indonesia juga harus menjaganya secara bersama-sama,” demikian Azhari Cage.

Peringatan milad GAM ke-44 diwarnai dengan doa bersama dan santunan anak yatim. Di Banda Aceh ada dua tempat peringatan yakni di makam syiah kuala dan gampong Meureu Aceh Besar. dan juga digelar di sejumlah kabupaten/kota lainnya di Aceh secara sederhana. (b02)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2