Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Apresiasi Penghentian Sinetron Zahra - Waspada
banner 325x300

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Apresiasi Penghentian Sinetron Zahra

  • Bagikan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga

JAKARTA (Waspada):Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengapresiasi keputusan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas penghentian  sementara Sinetron Suara Hati Isteri: Zahra. 

“Keputusan KPI tersebut sangat kami apresiasi sebagai bentuk upaya perlindungan terhadap anak dari tayangan yang tidak mendidik dan melanggar hak anak,” kata Menteri PPPA, Bintang, Sabtu (5/6).

Selanjutnya, Bintang berharap agar kasus sinetron Zahra menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi rumah produksi dan media televisi untuk menghasilkan konten atau penyiaran yang mendidik, bermanfaat, dan memberi perlindungan  anak serta memenuhi hak-hak anak. 

Setiap tayangan yang disiarkan oleh media elektronik seperti televisi, seyogyanya mendukung program pemerintah dan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan perkawinan anak, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), pencegahan kekerasan seksual dan edukasi pola pengasuhan orangtua yang benar.

Hal itu berarti juga sebagai dukungan atas usaha pemerintah yang saat ini tengah berjuang keras mencegah pernikahan usia anak. Karena itu, lanjut Bintang, setiap media dalam menghasilkan produk apapun yang melibatkan anak, seharusnya tetap berprinsip  pada pedoman perlindungan anak.

Dia juga mengingatkan agar mulai dari proses produksi hingga hasil akhir siap tayang di media,   harus memenuhi aspek perlindungan terhadap anak dan perempuan.

Bintang mengatakan perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Masukan masyarakat terhadap Sinetron Zahra juga menunjukkan kepedulian yang sangat tinggi terhadap perlindungan terhadap anak. 

Sinetron Zahra dihentikan sementara waktu penayangannya, seiring dengan hasil evaluasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama pihak Indosia. Sinetron itu dinilai memiliki muatan yang berpotensi melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI 2012. 

Evaluasi tersebut di antaranya mencakup jalan cerita dan kesesuaiannya dengan klasifikasi program siaran yang telah ditentukan (R) serta penggunaan artis yang masih berusia 15 tahun untuk berperan sebagai istri ketiga. Di sisi lain, sinetron Zahra juga dinilai terlalu banyak mengekspos kekerasan dalam rumah tangga dan adegan romantis berlebihan. (J02).

  • Bagikan