Waspada
Waspada » Menlu: Palestina Satu-satunya Negeri Yang Masih Dijajah
Headlines Internasional

Menlu: Palestina Satu-satunya Negeri Yang Masih Dijajah

Warga membawa jenazah warga Palestina yang meninggal oleh serangan udara Israel di Gaza. AP

JAKARTA (Waspada): Para menteri luar negeri dan wakil menteri luar negeri dari 16 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), pada Minggu menggelar pertemuan darurat.

Pertemuan itu membahas Perang Gaza, pengusiran warga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem Timur serta bentrokan antara warga Palestina dengan aparat keamanan Israel di Tepi Barat.

Dalam jumpa pers di sela pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menegaskan kembali komitmen OKI, organisasi yang dibentuk pada 1969, untuk mendukung perjuangan Palestina.

Namun lepas dari dukungan OKI dan banyak negara atau organisasi lain di dunia, perjuangan Palestina itu masih diwarnai gangguan terhadap pelaksanaan ibadah di Masjid Al Aqsa, salah satu tiga lokasi tersuci bagi warga Muslim, juga pembatasan gerakan dan hak-hak warga Palestina.

Dilansir VOA, Senin (17/5/2021), Israel secara terang-terangan terus membangun permukiman baru di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, serta melakukan pengusiran keluarga-keluarga Palestina dari tempat itu secara terbuka.

“Kita semua tidak boleh lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial. Semua penderitaan Palestina disebabkan oleh Israel sebagai kekuatan yang menjajah,” kata Retno.

Indonesia mengecam keras semua tindakan yang dilakukan oleh Israel, terlebih karena dilakukan di bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Dalam pertemuan darurat OKI itu, Indonesia mengusulkan beberapa langkah kunci yang harus dilakukan oleh OKI antara lain memastikan adanya persatuan di antara negara anggota OKI dan di antara semua pemangku kepentingan di Palestina.

Retno menekankan tanpa persatuan, OKI tidak akan mampu menjadi penggerak dalam mendukung Palestina. Retno juga mendesak OKI untuk bekerja keras mengupaya gencatan senjata dan fokus membantu perjuangan Palestina untuk merdeka, antara lain lewat perundingan multilateral demi mewujudkan solusi dua negara.

Pertemuan darurat para menteri luar negeri OKI itu menghasilkan sebuah resolusi yang isinya antara lain mengecam sekaligus mendesak Israel untuk menghentikan provokasi dan serangan barbar terhadap rakyat dan wilayah Palestina, serta situs-situs suci.

OKI juga mengecam dan menentang dilanjutkannya pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, serta pengusiran warga Palestina dari rumah-rumah mereka di Yerusalem Timur.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah menyampaikan pernyataan bersama.

Isinya antara lain mengecam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat dan wilayah Palestina, serta mendesak komunitas internasional menuntut Israel diadili atas pelanggaran hukum internasional tersebut.

Ketiga pemimpin di Asia Tenggara ini juga meminta pengiriman pasukan perdamaian internasional ke Yerusalem Timur untuk menjaga hak-hak rakyat Palestina dan kompleks Masjid Al-Aqsa.

Sementara hingga Senin pagi waktu setempat, memasuki pekan kedua, Israel terus menggempu Gaza. Associated Press melaporkan, dari utara ke selatan itu berlangsung selama 10 menit. Serangan ini lebih berat dan lebih luas dibandingkan serangan sehari sebelumnya.

Bombardir serangan udara itu terjadi menyusul komentar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Minggu, yang mengatakan dia tidak berencana “segera” mengakhiri serangan udara yang mematikan di Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak pertempuran dimulai 10 Mei, sedikitnya 192 warga Palestina tewas, termasuk setidaknya 58 anak dan 22 perempuan. Setidaknya 10 warga Israel tewas dalam serangan roket, termasuk seorang anak berusia 6 tahun. (voa/ap/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2