Waspada
Waspada » Meninggal Reaktif Rapid Test, Warga Tetap Semayamkan Di Rumah Duka
Headlines

Meninggal Reaktif Rapid Test, Warga Tetap Semayamkan Di Rumah Duka

PASIEN HS,58 meninggal dunia pasca reaktif rapid test di RSUD Porsea. Pihak keluarga menolak penguburan secara protokol Covid-19 dan tetap disemayamkan di rumah duka. Waspada/Ramsiana Gultom
PASIEN HS,58 meninggal dunia pasca reaktif rapid test di RSUD Porsea. Pihak keluarga menolak penguburan secara protokol Covid-19 dan tetap disemayamkan di rumah duka. Waspada/Ramsiana Gultom

TOBA (Waspada): HS,58, dinyatakan meninggal dunia setelah kondisinya memburuk akibat sesak nafas. HS sebelumnya telah menjalani rapid test dan hasilnya reaktif sesaat setelah dibawa keluarga berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Porsea, Minggu (22/11).

Pihak RSUD Porsea melalui dr Antoni Manurung mengatakan, pasien masuk dari ruang UGD sekira pukul 18.00 Wib.

Setelah dilakukan rapid test, hasilnya reaktif dengan keluhan sesak nafas. Pihaknya langsung memasukkan pasien ke ruang isolasi. Kondisi pasien semakin memburuk dan meninggal dunia sekira pukul 20.30 Wib.

“Sayangnya, pasien meninggal sebelum sempat kita lakukan test swab. Kepada pihak keluarga kita informasikan bahwa pasien akan kita kebumikan sesuai protokol kesehatan namun mendapat penolakan dari warga,” ujar Antoni.

Ditemui di RSUD Porsea, Kadis Kesehatan Toba dr Juliwan Hutapea menyayangkan sikap warga yang menolak pemakan pasien sesuai protokol Covid-19.

“Kita dari Satgas Covid-19 Toba tetap menyarankan untuk mengebumikan sesuai protokol Covid-19. Pasien ini masuk probable dan penguburannya seharusnya sesuai protokolo Covid-19, lewat tim gugus tugas bersama Camat, Polisi dan satpol PP kita sudah jelaskan, namun pihak keluarga dan masyarakat menolak dan meminta agar mayat disemayamkan dulu di rumah duka,” papar Juliwan.

Penolakan terus berlanjut, puluhan warga meundatangi RSUD Porsea mendesak Satgas untuk menyerahkan zenazah kepada pihak keluarga.

Negosiasi panjang sempat terjadi hingga akhirnya disepakati solusi bersama.

Senin (23/11) Pukul 00.30 Wib, Satgas meminta pihak keluarga membuat surat pernyataan lengkap dengan materai, sehingga jika timbul cluster baru di desa tersebut, masyarakat tidak akan menyalahkan Satgas Covid-19 dan pihak keluarga bertanggungjawab penuh atas timbulnya cluster baru tersebut.

“Sesuai aturan, setiap pasien yang meninggal dunia dengan status reaktif rapid test (probable) harus dikebumikan sesuai protokol Covid-19. Tapi warga bersikeras, makanya kita terpaksa meminta kelurga membuat surat pernyataan tersebut,” papar Juliwan.

Jenazah akhirnya dibawa ke rumah duka di Kecamatan Parmaksian. Tiba di rumah duka dini hari sekira pukul 03.00 Wib, petugas desa melakukan penyemprotan disinfektan.

Disambut isak tangis keluarga, zenazah terlihat hanya ditutupi selimut tanpa dibungkus plastik layaknya protokol Covid-19.

Tersendak

Berdasarkan keterangan keluarga, Ama Rifka Butarbutar,39, HS sebelumnya tidak mengalami sakit apapun. Sekira pukum 17.30 HS minum di rumah tiba-tiba tersendak. Karena kondisinya makin parah, HS pun segera dibawa ke RSUD Porsea.

“Di Rumah sakit, HS dirapid test dan hasilnya reaktif dan pihak rumah sakit mengatakan akan dikebumikan protokol Covid. Tentu kami tidak terima, lalu sekitar 30 orang warga turun ke RSUD Porsea memberikan kesaksian bahwa HS ini tidak pernah kemana-mana, jadi tidak mungkin dia terkena Covid-19,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakannya, proses pemakaman zenazah akan dilakukan sesuai adat Batak Toba pada Selasa (24/11) sesuai kesepakatan bersama seluruh keluarga. (a36).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2