Mantan Menteri Afghanistan Jadi Kurir Di Jerman - Waspada

Mantan Menteri Afghanistan Jadi Kurir Di Jerman

  • Bagikan

     Sayed Sadaat pernah menjadi seorang menteri di Afghanistan. Namun dia berhenti karena muak dengan korupsi yang dilihatnya. Setelah memutuskan pindah ke Jerman, Sadaat mencari nafkah dengan menjadi seorang pengantar makanan.

     Sadaat bekerja selama enam jam di hari kerja, dan mulai mengantarkan makanan mulai siang hingga pukul 22.00 di akhir pekan. Dengan menggunakan jaket oranye, sepeda kayuh, dan tas besar, dia mengantarkan makanan dan barang kebutuhan lain.

     “Tidak perlu malu melakukannya. Kerja ya kerja. Jika terdapat pekerjaan, maka ada permintaan. Seseorang harus melakukannya,” kata Sadaat. Ia merupakan satu dari ribuan orang Afghanistan yang menemukan hidup mereka di Jerman dalam beberapa tahun terakhir.

     Sejak 2015, ketika Eropa dibanjiri pengungsi dari Irak dan Suriah, 210.000 orang Afghanistan mencari suaka di Jerman. Kini dengan kembalinya Taliban ke kekuasaan, Jerman mengevakuasi 4.000 Afghanistan, termasuk yang sudah membantu mereka

     Menurut laporan kantor berita AFP, Senin (30/8/2021), perjalanan Sadaat ke “Negeri Bir” jauh lebih mengerikan. Dia merupakan menteri komunikasi dari 2016 sampai 2018. Tetapi pria berusia 50 tahun tersebut memutuskan mengundurkan diri karena muak dengan korupsi yang dia lihat di pemerintahan.

     Sadaat mengungkapkan, ketika mengemban jabatannya, terdapat perbedaan antara lingkaran dalam presiden dengan dirinya. Dia mengatakan membutuhkan dana yang disiapkan negara untuk digunakan bagi kepentingan publik. Namun tidak dengan pejabat lainnya.

     “Mereka menginginkan keuntungan pribadi. Saya tak bisa memenuhi keinginan mereka, jadi mereka mencoba menyingkirkan saya,” kata dia. Setelah mengundurkan diri, dia sempat mengambil pekerjaan sebagai konsultan telekomunikasi.

     Namun pada 2020, situasi keamanan di sana memburuk. Sadaat mencari suaka di Jerman pada akhir 2020 sebelum Brexit resmi diterapkan. menuturkan sebenarnya dia bisa saja mendapatkan perlindungan di Inggris.

     Sadaat melihat ada peluang di Jerman. Tapi ia tidak menguasai bahasa setempat. Sadaat yang awalnya datang sendiri mengaku kesulitan mencari pekerjaan.

     Sempat tertunda sejak wabah Covid-19 menghantam, Sadaat mengatakan dia mengambil kelas bahasa Jerman selama empat jam setiap harinya. Tidak hanya itu, ia juga mengambil pekerjaan sebagai pengantar makanan untuk perusahaan pengantaran Lieferando.

     Ia mengantongi bayaran 15 euro (Rp254.090) per jam, cukup untuk pengeluaran bulanan, termasuk biaya sewa apartemen. Sadaat berujar, dia tidak menyesal datang ke Jerman. Dia mengatakan sempat kesulitan, tapi kini dia sudah terbiasa.

     Bahkan setiap bulannya, dia bisa melahap jarak hingga 1.200 km. “Saya melakukannya hingga mendapat pekerjaan lain,” tuturnya.

     Sadaat menjelaskan peluangnya makin terbuka Jerman setelah AS dan sekutunya di NATO (Jerman sebagai anggota) menarik diri dari Afghanistan.

     Dia mengeklaim bisa menjembatani pemerintahan setempat dengan pengungsi, meski sampai saat ini belum menerima tawaran.

      Sementara untuk Taliban, dia berkata kelompok tersebut mungkin sudah belajar dari masa lalunya ketika digulingkan pada 2001. Meski begitu, Sadaat meminta kepada komunitas internasional untuk tidak berhenti memberikan dukungan kepada negaranya. (afp/m11)

  • Bagikan