Waspada
Waspada » Makin Beringas, Junta Militer Myanmar Tangkapi Penentang Dan Siksa Tahanan
Headlines Internasional

Makin Beringas, Junta Militer Myanmar Tangkapi Penentang Dan Siksa Tahanan

Sejumlah demonstran di Mandalay, Myanmar, Sabtu, membawa perisai buatan dan mengenakan helm guna menghadapi tentara dan polisi antihuru-hara. AP

NAYPYIDAW, Myanmar (Waspada): Pasukan keamanan Myanmar menggerebek beberapa rumah warga pada Sabtu malam waktu setempat dan melepaskan tembakan.

Hingga Minggu (7/3/2021) dini hari, warga mengatakan bahwa tentara dan polisi bergerak ke beberapa distrik di Yangon lalu melepaskan tembakan.

Melansir Reuters, beberapa sumber mengatakan pasukan keamanan Myanmar menangkap setidaknya tiga orang di Kyauktada.

Tentara juga datang mencari pengacara yang bekerja untuk Partai Liga Nasional untu Demokrasi (NLD), namun mereka tidak berhasil.

Penggerebekan terhadap pengacara tersebut dikatakan oleh seorang anggota parlemen yang sekarang dibubarkan, Sithu Maung, dalam sebuah unggahan di Facebook.

Reuters tidak dapat menghubungi polisi untuk dimintai komentar. Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan telepon untuk dimintai keterangan.

Menurut kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP), lebih dari 1.700 orang telah ditahan di bawah pemerintahan junta militer pada Sabtu.

“Tahanan dipukul dan ditendang dengan sepatu bot militer, dipukul dengan tongkat polisi, dan kemudian diseret ke dalam kendaraan polisi,” kata AAPP dalam sebuah pernyataan.

“Pasukan keamanan memasuki daerah permukiman dan mencoba untuk menangkap pengunjuk rasa lebih banyak dan menembaki rumah,” imbuh AAPP.

Pihak berwenang Myanmar mengatakan pada Sabtu bahwa mereka telah menggali jenazah Kyal Sin, gadis berusia 19 tahun, yang tewas tertembak dalam aksi protes menentang kudeta militer.

Kyal Sin menjadi martir dan kini menjadi simbol gerakan protes setelah dia ditembak mati di Mandalay pada Rabu pekan lalu.

Stasiun televisi MRTV yang dikelola negara mengeklaim, hasil otopsi menunjukkan Kyal Sin tidak mungkin dibunuh oleh polisi.

Pasalnya, proyektil yang salah ditemukan di kepalanya dan dia ditembak dari belakang, sedangkan polisi ada di depan. Foto-foto pada hari itu menunjukkan Kyal Sin memembelakangi pasukan keamanan beberapa saat sebelum dia terbunuh.

Demonstran menuduh pihak berwenang berusaha menutup-nutupi pembunuhan Kyal Sin. Pembunuhan itu telah memicu kemarahan di Barat dan telah dikecam oleh sebagian besar negara demokrasi di Asia.

Myanmar terjerembab ke dalam kekacauan sejak militer Myanmar menggulingkan dan menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

Beberapa hari setelah itu, rakyat Myanmar turun ke jalanan untuk menentang kudeta dan menuntut pembebasan Suu Kyi beserta sejumlah tokoh lain yang ditahan.

Demonstrasi dan pemogokan yang berlangsung hampir setiap hari telah mencekik bisnis dan melumpuhkan pemerintahan. Aksi demonstrasi lanjutan digelar pada Minggu.

Media lokal melaporkan bahwa polisi menembakkan peluru gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan protes di Yangon pada Sabtu. Tidak ada laporan korban jiwa.

Kelompok demonstran mengatakan, aksi protes akan diadakan di Yangon, Mandalay, Monywa, dan beberapa tempat lainnya.

Hingga kini, menurut laporan PBB, aksi kekerasan aparat terhadap demonstran telah menewaskan lebih dari 50 orang. (reuters/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2