Waspada
Waspada » Madina Masuki Zona Rawan Pangan Dan Kesehatan
Headlines Sumut

Madina Masuki Zona Rawan Pangan Dan Kesehatan

AS Imran Khaitamy Daulay, SH. Waspada/Sarmin Harahap
AS Imran Khaitamy Daulay, SH. Waspada/Sarmin Harahap

MADINA (Waspada): Saat ini Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terindikasi memasuki zona rawan pangan, kesehatan, dan pendidikan. Hal itu di tilik dari temuan lapangan, yang mana terdapat satu keluarga bertempat di salah satu kelurahan di Kecamatan Panyabungan sekitar seminggu jelang bulan Ramadhan, tidak memiliki persediaan makan sehingga keluarga ini tidak makan meski akhirnya di bantu anggota masyarakat setempat. Kondisi seperti ini di tengarai saat ini banyak terjadi di kecamatan dan tempat lainnya.

Demikian di sampaikan tokoh masyarakat Madina, H.As Imran Khaitamy Daulay, SH kepada Waspada di Panyabungan, Senin (4/4). Lebih lanjut Imran Daulay mantan Ketua DPRD Madina ini mengatakan, ia juga mendapat temuan ada dua orang anak yatim bersaudara yang tinggal di Panyabungan, yang sehari-hari terpaksa berkeliling menjajakan peyek buatan ibu mereka untuk menyambung hidup untuk beli beras.

Bahkan anak yang paling kecil terpaksa pindah sekolah dari pesantren agar bisa membantu ibunya berjualan. Kasus anak di bawah umur di pekerjakan untuk kebutuhan pembiayaan keluarga seperti di lakoni kedua anak yatim tersebut juga banyak di temukan, bahkan sebagian harus berhenti sekolah.

Fakta lain katanya ada di dapatkan keluhan seorang kepala rumah tangga dari Kecamatan Huta Bargot yang hampir tiap bulan kocar kacir mencari pinjaman untuk membayar uang sekolah anaknya yang jumlah tidak seberapa.Kemudian temuan lain yaitu seorang yang baru di serang stroke dan tidak sanggup membiayai perobatannya sekalipun itu hanya untuk ke Puskesmas.

Menurutnya, temuan ini hanyalah sebagian kecil dari sejumlah permasalahan di Madina yang sejauh ini terabaikan dan luput dari perhatian pemerintah. Masih ada sejumlah masalah besar lain seperti pengangguran atau sulitnya lapangan pekerjaan dan sebagainya. Ironisnya, banyak tenaga honorer di lingkungan kantor Pemerintahan yang terpaksa “gali lobang tutup lobang ” akibat selalu terlambat menerima gaji, sehingga untuk makan sebulan mereka harus berhutang dulu.

“Karena itu selaku mantan ketua DPRD Madina saya sangat berharap agar hal ini dapat menjadi perhatian serius kawan-kawan dan adik-adik saya di DPRD Madina, untuk semakin fokus mencermati masalah- masalah kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan ini.

Jika nampak ada kelambanan pemerintah dalam menanggapi, sangat patut untuk di ingatkan, dorong pemerintah dan segenap komponen masyarakat untuk bersama-sama mencermati permasalahan mendasar ini. Tidak ada guna Madina kita ini gagah di luar, tapi di dalam rakyatnya kelaparan, sulit mendapat akses kesehatan dan pendidikan,” ucap Imran.(a.32)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2