Waspada
Waspada » Lima Terdakwa Kasus Korupsi Internasional Toba Kayak Marathon 2017 Resmi Ditahan Kejari Tobasa
Headlines Sumut

Lima Terdakwa Kasus Korupsi Internasional Toba Kayak Marathon 2017 Resmi Ditahan Kejari Tobasa

KASI Intel Kejari Tobasa Gilbeth Sitindaon (Tangah) didampingi Kasi Pidsus, Richard Sembiring (kiri) dan Jaksa Penyidik Indra Sembiring (kanan) saat memberikan keterangan Pers terkait penahanan terdakwa kasus korupsi Internasional Toba Kayak Marathon 2017 di dinas pariwisata Toba. Waspada/Ramsiana Gultom
KASI Intel Kejari Tobasa Gilbeth Sitindaon (Tangah) didampingi Kasi Pidsus, Richard Sembiring (kiri) dan Jaksa Penyidik Indra Sembiring (kanan) saat memberikan keterangan Pers terkait penahanan terdakwa kasus korupsi Internasional Toba Kayak Marathon 2017 di dinas pariwisata Toba. Waspada/Ramsiana Gultom

 

TOBA (Waspada): Lima dari enam orang tersangka kasus korupsi pada kegiatan Internasional Toba Kayak Marathon 2017 di Dinas Pariwisata resmi ditahan oleh petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Toba Samosir, Kamis (7/1) sekira pukul 13:00.

Kelima tersangka yang telah dinaikkan statusnya menjadi terdakwa adalah Shanty Saragih, 47, sebagai Direktur penyedia barang jasa CV Citra Sopo Utama, Nora Tambunan, 31 sebagai Wakil Direktur Citra Sopo Utama selaku penyedia barang jasa, Andhika Lesmana, 32, Pejabat PPHP (Panitia Penerima Hasil Pekerjaan) sekaligus merangkap pengurus barang, Siodo Damero Tambun, 39, sebagai Ketua PPHP dan Hercules Butarbutar, 44, sebagai PPTK.

Sementara satu orang terdakwa atas nama Ultri Simangunsong, 51, selaku PPK dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, tidak memenuhi panggilan Jaksa Penyidik sehingga tidak ikut dilimpahkan.

Dalam keterangan persnya, Kajari Toba Samosir Dr Robinson Sitorus, SH, MH melalui Kasi Intel Gilbeth Sitindaon didampingi Kasi Pidsus Richard Sembiring dan Jaksa Penyidik Indra Sembiring mengatakan, tersangka Lomba Kayak di dinas Pariwisata Kabupaten Toba masuk proses tahap 2 atau pelimpahan dari Jaksa Penyidik kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Jaksa penyidik sudah melimpahkan tersangka dan barang bukti kepada jaksa penuntut umum dan sudah diterima oleh JPU di ruangan tadi pukul 13.00. Jadi hari ini mereka akan langsung kita tahan selesai makan siang. Sebenarnya ada 6 orang namun yang bisa kami limpahkan hari ini masih ada 5, sedangkan satu orang atas nama Ultri Simangunsong saat ini tidak hadir tanpa ada keterangan,” ujar Gilbeth.

Kelima orang yang sudah dilimpahkan kepada penuntut umum, kata Gilbeth akan segera dilimpahkan ke pengadilan untuk persidangan dan penahanannya dengan dititipkan sementara di Polres Toba.

“Sebelum pelimpahan, kelima terdakwa juga menjalani rapid test untuk memastikan kelimanya bebas Covid-19 dan hasilnya rapid test kelimanya non reaktif,” ujar Gilbeth.

Terkait Ultri Simangunsong yang tidak menghadiri pemanggilan penyidik, Gilbeth  mengatakan pihaknya akan segera melakukan pemanggilan ke dua.

Gilbeth berharap Ultri bersifat kooperatif agar bisa dilimpahkan secepatnya.

“Jika hingga pemanggilan kedua Ultri Simangunsong tidak juga datang, maka tidak tertutup kita akan lakukan upaya paksa dan statusnya akan dinaikkan menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO). Kita juga akan meminta bantuan kepada para elemen atau yang lainnya untuk membantu melakukan pencarian terhadap yang bersangkutan,” tegas Gilbeth.

Sempat beredar di  pemberitaan bahwa Kejari Toba Samosir melakukan pembiaran para tersangka berkeliaran karena tidak dilakukan penahanan.

Dengan tegas Gilbeth menyampaikan bahwa pihaknya dalam melakukan penanganan perkara kasus kayak ini tidak ada permainan di dalamnya.

“Bukti keseriusan kami bahwa perkara ini sudah P21 kami nyatakan lengkap dan hari ini para terdakwa diserahkan kepada JPU untuk segera disidangkan. Atas adanya dugaan bahwa kami membiarkan para tersangka ini berkeliaran, sebenarnya kami sebagai aparat penegak hukum dalam hal ini Jaksa penyidik punya kewenangan untuk menahan dan punya kewenangan untuk tidak menahan tergantung dari alasan subjektif dan alasan objektif,” paparnya.

Selama proses penyidikan berlangsung, imbuh Gilbeth, seluruh terdakwa bersikap kooperatif, selalu datang dan tidak pernah terlambat dan tidak ada indikasi untuk melarikan diri.

“Jaksa penyidik Toba Samosir saat ini masih serius dalam menangani tindak pidana korupsi. Jadi mohon teman jangan salah penafsiran dan salah sangka terhadap kami bilamana agak sedikit terlambat dalam menangani perkara ini, tapi dapat dipastikan tetap on the track,” pungkas Gilbeth.

Kasi Pidsus Richard Sembiring mengatakan, dari hasil audit BPKP, atas kasus ini kerugian negara diperkirakan sekitar 300 jutaan rupiah.

Adapun pagu anggaran pengadaan untuk kayak dari APBD Tobasa tahun 2017 sebesar 200 juta.

Dana tersebut sebelumnya dialokasikan untuk pembelian 6 unit kayak dengan rincian kategori double 3 unit dan single 3 unit.

Kepada para terdakwa disangkakan Pasal 2:1 dan pasal 3 Undang Undang Tipikor nomor 31 tahun 1999 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (a36)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2