Waspada
Waspada » Lebanon Hiperinflasi: Sereal Rp600 Ribu, Shampo Rp294 Ribu
Headlines Internasional

Lebanon Hiperinflasi: Sereal Rp600 Ribu, Shampo Rp294 Ribu

Lebanon menderita hiperinflasi. Harga barang-barang pokok pun melonjak karena nilai mata uang lokal merosot.

BEIRUT, Lebanon (Waspada): Lebanon masuk ke jurang resesi ekonomi dan menjadi negara pertama di kawasan yang menghadapi hiperinlasi. Harga barang-barang pokok pun melonjak karena nilai mata uang lokal merosot.

Pemerintah Lebanon dan bank sentral mencoba menekan ini dengan mematok nilai tukar lira Lebanon atas dolar AS.

Salah satu harga kebutuhan rakyat Lebanon yang naik adalah sereal, yang biasanya harganya dalam kisaran puluhan ribu rupiah, kini mencapai Rp579 ribu sampai Rp615 ribu per kotak.

Dilansir Daily Star Senin (3/8/2020), harga roti yang menjadi makanan pokok naik dari kisaran ribuan rupiah per buah menjadi Rp64 ribuan.

Begitu juga harga Labneh, makanan pokok Lebanon, yang tadinya jauh di bawah puluhan ribu, kini mencapai Rp94 ribu. Harga Shampo yang tadinya hanya puluhan ribu, kini menjadi Rp 250 ribu sampai Rp294 ribu.

Harga-harga ini dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah 15 ribu per dolar AS. Secara teknis, lira terhadap dolar AS masih dipatok pada 1,507 lira.

Namun nilai lira melemah dan diperdagangkan sekitar 9.000 lira per dolar atau kehilangan lebih dari 80 persen dari nilainya.

Pada akhir Juli, lira stabil di kisaran 7.600 terhadap dolar AS. Pemerintah Lebanon juga memiliki banyak tunggakan pembayaran termasuk ke Pusat Medis Universitas Amerika sebesar 150 juta dolar AS dalam bentuk tagihan medis.

Ini belum termasuk iuran yang tidak dibayar untuk fasilitas medis swasta yang mencapai 1,3 miliar dolar AS sejak 2011.

Masalah hiperinflasi di Lebanon diperparah karena penghasilan rakyat yang dibayar lira sementara mayoritas barang dan produk diimpor dari luar negeri.

Sementara harga dalam dolar harga barang tetap stabil, biaya dalam mata uang lokal terus meroket. Meskipun kedua mata uang ini secara historis digunakan secara bergantian, namun jumlah dolar AS mulai mengering pada pertengahan 2019.

Lebanon sangat tergantung pada impor sehingga membutuhkan dolar AS untuk mengamankan barang-barang dari luar negeri, termasuk sekitar 80 persen makanannya.

Pemerintah mengumumkan bahwa mereka masih akan memasok impor gandum, obat-obatan, dan bahan bakar. Banyak barang kebutuhan pokok menjadi tidak terjangkau bagi kebanyakan keluarga Lebanon.

Di Facebook, para ibu berusaha menukar barang dengan susu formula untuk memberi makan bayi dan makanan pokok lainnya.

Harga roti, masih disubsidi, juga dinaikkan. Tentara Lebanon membatalkan jatah daging, karena harganya menjadi tidak terjangkau.

Di kota terbesar kedua di Lebanon, toko-toko daging tutup karena banyak orang merayakan Idul Adha. Tetapi di kota utara, tidak ada tanda-tanda perayaan tahun ini.

Pekan lalu, Lebanon mengikuti Venezuela ke dalam hiperinflasi, menjadi negara Arab pertama yang menyaksikan mata uangnya menyentuh posisi terendah. (daily star/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2