Waspada
Waspada » Kurir Sabu Divonis Mati Pengadilan Negeri Medan
Headlines

Kurir Sabu Divonis Mati Pengadilan Negeri Medan

KELIMA terdakwa kurir sabu saat divonis mati di PN Medan. Rabu (22/1). Waspada/Rama Andriawan
KELIMA terdakwa kurir sabu saat divonis mati di PN Medan. Rabu (22/1). Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): 5 kurir sabu seberat 56kg divonis hukuman mati oleh Majelis hakim diketuai Sabarulina Ginting.

Kelima terdakwa kurir sabu yang divonis mati yakni, Boiman alias Boy bin Kartowijoyo, Iskandar alias Is bin Hamid Sunarto alias Narto bin M. Suniyo, Suhairi alias Heri Bin Manjo, dan Marsimin alias Min bin Mat Suwardi.

“Menjatuhkan terdakwa dengan pidana mati,” tandas hakim Sabarulina Ginting dalam sidang di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (22/1) sore.

Majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan, kelima terdakwa terbukti sah dan meyakinkan melanggar pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (2) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Majelis hakim berpendapat, hal yang memberatkan kelima terdakwa karena tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika. “Sedangkan hal yang meringankan tidak ada,” kata hakim.

Vonis yang diterima kelima terdakwa sama dengan tuntutan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Ainun yang juga meminta hakim menghukum dengan pidana mati.

Atas vonis itu, kelima terdakwa menyatakan banding. Dalam perkara ini, para terdakwa ditangkap pada 26 April 2019 di Hotel Alam Sutera Palembang.

Kronologi Kejadian

Awal kejadian, terdakwa Iskandar yang merupakan orang kepercayaan Atok (DPO) dan sebagai koordinator lapangan dalam peredaran narkotika melakukan komunikasi lewat handphone dimana saat berada di Hotel Alam Sutera Palembang.

Terdakwa Iskandar memberikan nomor HP terdakwa Suhairi kepada Atok (DPO). Setelah itu, terdakwa Iskandar pindah ke Hotel Grand Lestari Palembang.

Tak lama kemudian Atok (DPO) menelepon dan menyuruh terdakwa Suhairi untuk mengambil sabu 90 bungkus sabu di Jl. Medan Tembung.

Iskandar menyimpan sabu tersebut di gudang yang juga sebagai tempat tinggal terdakwa Suhairi yang beralamat di Pasar 3 Jl. Masjid, Kec. Medan Marelan, Medan.

Kemudian terdakwa Suhairi dan terdakwa Boiman mengambil sabu tersebut. Kemudian Suhairi menelepon terdakwa Iskandar melaporkan bahwa ada 90 bungkus sabu.

Lalu terdakwa Suhairi diperintahkan oleh terdakwa Iskandar untuk mengantar 40 bungkus ke Batang Kilat. Terdakwa Suhairi lalu, menghubungi terdakwa Marsimin untuk antar 40 bungkus yang terdiri dari 2 tas ke Batang Kilat bersama Boiman.

Setelah mengantar sabu tersebut, kemudian terdakwa Marsimin dan terdakwa Sunarto menemui terdakwa Suhairi, selanjutnya terdakwa Suhairi menyerahkan uang sebesar Rp1 juta kepada terdakwa Marsimin untuk dibagi dua.

Sebelum meninggalkan para terdakwa lainnya, terdakwa Suhairi juga menyampaikan kepada terdakwa Marsimin untuk nanti ada kerjaan lagi dan menyuruh agar standby karena narkotika jenis sabu dengan berat 50 bungkus belum diperintahkan oleh terdakwa Iskandar.

Namun pada saat Iskandar meninggal keempat terdakwa lainnya, petugas anggota Bareskrim Polri menangkap keempat terdakwa Suhairi, Boiman, Marsimin dan Sunarto di Palembang.

Lalu personil melakukan pencarian terhadap terdakwa Iskandar dan pada tanggal 28 April 2019, polisi Willy Muhamad dan Rio Aditya dapat menangkap terdakwa Iskandar di Hotel Grand Lestari Palembang. (cra)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2