Kurir Sabu 41 Kg Divonis Mati

Kurir Sabu 41 Kg Divonis Mati

  • Bagikan
TERDAKWA (kanan atas) saat mendengarkan sidang putusan yang digelar online di PN Medan. Waspada/Rama Andriawan.
TERDAKWA (kanan atas) saat mendengarkan sidang putusan yang digelar online di PN Medan. Waspada/Rama Andriawan.

MEDAN (Waspada): Majelis hakim diketuai Syafril Batubara menjatuhkan vonis mati kepada Tantra Surya Dewangga alias Narji bin Ruddy Arianto. Ia dinyatakan bersalah atas keterlibatannya sebagai kurir sabu seberat 41.835 gram.

“Mengadili, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Tantra Surya Dewangga alias Narji Bin Ruddy Arianto dengan pidana mati,” kata majelis hakim dalam persidangan virtual di Ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (14/7)

Dalam amarnya, hakim menyebutkan warga asal Desa Latsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur ini, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan atau menerima narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5gram.

                                             

“Perbuatan terdakwa melanggar pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” sebut hakim.

Masih menurut hakim, perbuatan terdakwa karena tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika. “Sedangkan hal meringankan tidak ditemukan,” ucap hakim.

Putusan majelis hakim sama dengan tuntutan JPU Nurhayati yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana mati. Menanggapi putusan tersebut, terdakwa melalui penasihat hukumnya dari Menara Keadilan Sri Wahyuni dan Syarifatah Sembiring maupun JPU menyatakan pikir-pikir.

Kurir Narkotika

JPU Nurhayati Ulfiah sebelumnya mengatakan, kasus itu bermula saat terdakwa Narji ditawarkan pekerjaan oleh Joni (DPO) untuk menjadi kurir narkotika.

Mendapat tawaran pekerjaan tersebut, terdakwa menyanggupinya dan Joni langsung membelikan terdakwa hp agar bisa berhubungan dengan Pablo (DPO) pemilik sabu.

Pada Jumat, 4 September 2020, terdakwa telah dihubungi Pablo ke Jawa Timur dengan permintaan untuk pergi ke Medan menjemput sabu itu. Sesampainya di Medan, sesuai arahan Pablo langsung menuju salah satu hotel di Jalan Gajah Mada untuk menemui seseorang yang bernama Subiyantoro (DPO) sebagai orang yang akan menemani terdakwa saat menerima penyerahan sabu-sabu milik Pablo.

Besoknya, terdakwa bersama dengan Subiyantoro menuju halaman masjid yang letaknya di berseberangan dengan SMA Unggulan CT Foundation Medan di Jl. Veteran Medan atas perintah Pablo.

Setelah sampai di lokasi, seseorang pria suruhan Pablo bertemu dengan terdakwa, kemudian terdakwa dan Subiyantoro menerima 2 buah tas yang berisikan 40 bungkus berisikan sabu-sabu.

Lalu, terdakwa bersama Subiyantoro pergi menuju tempat penginapan untuk menyimpan sabu tersebut. Setelah menyimpan sabu, terdakwa bersama Subiyantoro pergi membeli sebuah tas koper.

Namun, setelah membeli koper, Subiyantoro pergi meninggalkan kamar hotel dan tidak kembali lagi. Selanjutnya terdakwa menerima perintah dari Pablo untuk menyiapkan 23 bungkus sabu dan memasukkannya kedalam tas koper untuk di simpan di hotel lain.

Selanjutnya, terdakwa kembali ke hotel tempat menyimpan 17 bungkus sabu lainnya. Tak lama kemudian terdakwa ditelpon seseorang yang mengaku bernama Hadi menyuruh terdakwa datang ke hotel tersebut.

Saat hendak memasuki kamar hotel, beberapa petugas kepolisian datang dan langsung melakukan penangkapan terhadap terdakwa dan meminta terdakwa untuk menunjukkan tempat penyimpanan sabu-sabu. (m32).

  • Bagikan