Waspada
Waspada » Harga Tak Wajar, KPPU Selidiki Jalur Distribusi Kedelai
Headlines

Harga Tak Wajar, KPPU Selidiki Jalur Distribusi Kedelai

KEPALA Kantor Wilayah I KPPU, Ramli Simanjuntak mengecek secara langsung pasokan kacang kedelai di salah satu gudang importir kacang kedelai di kawasan Mabar, Kec. Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (6/1). KPPU akan selidiki jalur distribusi terkait kenaikan harga kedelai yang dinilai tidak wajar. Waspada/Ist
KEPALA Kantor Wilayah I KPPU, Ramli Simanjuntak mengecek secara langsung pasokan kacang kedelai di salah satu gudang importir kacang kedelai di kawasan Mabar, Kec. Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (6/1). KPPU akan selidiki jalur distribusi terkait kenaikan harga kedelai yang dinilai tidak wajar. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) selidiki jalur distribusi terkait kenaikan harga kedelai yang dinilai tidak wajar.

KPPU selidiki jalur distribusi mulai dari importir, distributor hingga pengecer untuk mengecek harga kedelai di tingkat pengecer di Kota Medan yang mengalami kenaikan hingga Rp12.000-14.000 per kilogram (kg), yang dinilai tidak wajar.

KPPU Kantor Wilayah I (Kanwil-I) telah melakukan pengecekan harga kacang kedelai dengan mendatangi gudang importir kacang kedelai di kawasan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (6/1).

Kepala Kantor Wilayah I KPPU, Ramli Simanjuntak menjelaskan, ‎harga kacang kedelai di gudang tersebut dijual dengan harga Rp8.550 per kilogram. Sedangkan, bahan baku untuk tempe dan tahu itu, diimpor dari Amerika Serikat dan Argentina ke Sumut.

“Permasalahan kedelai ini, sudah terjadi di awal desember 2020. Karena, masalah harga shipping (pengirim barang) pengangkutan yang naik dan jadwal berubah-ubah,” ungkap Ramli kepada wartawan, usai melakukan inspeksi mendadak di gudang impor kacang kedelai di Kota Medan itu.

‎Ramli menjelaskan, faktor harga kacang kendelai naik, dari pengakuan perusahaan pengimpor tersebut, dikarenakan gagal panen di negara asal produsen, yakni di Amerika Serikat dan Argentina.

“Untuk kebutuhan kacang kedelai di Sumut sebesar ‎58 ribu ton per tahun. Saat ini, pasokan cukup dan dijadwalkan tanggal 14 Januari 2021, akan masuk lagi pasokan,” sebut Ramli.

Ramli menyebutkan, China juga telah membeli kacang kedelai tersebut dengan jumlah besar. Hal ini, juga memicu stok komoditas pangan di tanah air, termasuk di Sumut terbatas dan memicu harga mengalami kenaikan di pasaran.

“Ya, juga Desember kemarin. China borong kedelai. Kemudian, juga ongkos angkut shipping yang naik 100-120 dollar/metrik ton‎,” ungkap Ramli.

Ramli menegaskan, kepada pihak importir, distributor, agen hingga pedagang, jangan melakukan persekongkolan harga yang berdampak dengan harga kacang kedelai melambung tinggi.

“Kita akan telisik se-Indonesia di masing-masing wilayah oleh KPPU. Kita mau lihat juga alur pendistribusian harga. Apa ada persengkongkolan harga atau tidak.‎ Diharapakan terhadap importir lain tidak mempermaikan harga dan pasokan. Kemudian, para distributor dibawah importir tidak melakukan kesepakatan-kesepakatan harga (persengkongkolan) dan pasokan atau menahan pasokan,” jelas Ramli.

Persekongkolan

KPPU tengah melakukan penelusuran harga dari tingkat importir hingga pedagang di pasar, untuk mengetahui ada atau tidak persengkongkolan terhadap harga jual kacang kedelai tersebut.

‎”Kita telusuri sama distributor di bawah importir. Karena harga di gudang Rp8.550 per kilogram. Ini perlu kita cek. Tapi, jauh kali beda harga di gudang sama di pasar. Nanti kita cek distributor. Makanya saya bilang jagan main harga dan pasokan para distributor‎,” tegas Ramli.

Untuk memenuhi pasokan kacang kedelai dan menjaga harga tetap stabil, KPPU menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk memproduksi pertanian kacang kedelai. ‎Jika harga sebelumnya, Rp6.500 per kilogram.

‎”Kita menyarankan kepada pemerintah untuk memproduksi pertanian kedelai untuk mencukupi pasokan di Sumut,” tutur Ramli. (m31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2