Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh: Bicaralah Dengan Santun Jangan Intimidasi - Waspada

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh: Bicaralah Dengan Santun Jangan Intimidasi

  • Bagikan

KEPALA Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin (foto) saat dikonfirmasi Waspada via WhatsApp, Senin (20/9) pukul 17:00 terkait adanya pejabat yang menangani urusan pendidikan di Provinsi Aceh, mengeluarkan statemen di salah satu media, yang meminta setiap kepala sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB yang tidak mampu melaksanakan vaksinasi covid-19 terhadap siswa diminta mundur, dinilai tidak menggunakan komunikasi persuasif.

Pejabat di Dinas Pendidikan Aceh itu juga dinilai tidak santun dan juga dinilai belum menggunakan bahasa yang tepat. Semestinya, sebagai Kepala Dinas Pendidikan, yang bersangkutan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh kalangan guru dan anak didik terkait kebijakan vaksinasi.

“Perlu diberi pemahaman yang sederhana tentang manfaat vaksin bagi setiap orang, bagi keluarga, dan bagi warga masyarakatnya. Perlu dijelaskan bahwa vaksin itu tidak sakit, tidak berbahaya, dan halal,” sebut Taqwaddin kepada Waspada.

Melalui Waspada, Taqwaddin memberikan saran kepada Pemerintah Aceh terkhusus kepada Kepala Dinas Pendidikan Aceh, dalam melaksanakan kegiatan vaksinasi Covid-19, untuk menggunakan bantuan para ulama dan para tokoh masyarakat guna mendakwahkan tentang pentingnya vaksin.

“Beri kesempatan kepada para ulama dan para tokoh yang memiliki pengaruh massa untuk mengkomunikasikan manfaat vaksin bagi tubuh diri sendiri maupun orang lain,” saran Taqwaddin.

Menurut Dr Taqwaddin, sedikitnya jumlah orang bersedia untuk divaksin, memiliki relevansi dengan kepercayaan publik kepada pemerintah. Dengan asumsi, semakin tinggi tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah maka semakin tinggi pula kepatuhannya kepada kebijakan pemerintah.

“Vaksinasi adalah kebijakan pemerintah. Sehingga kepatuhan warga terhadap kebijakan ini turut dipengaruhi oleh kepercayaannya kepada pemerintah,” ungkapnya.

Taqwaddin malah mengaku heran karena hingga saat ini banyak guru ASN belum mau divaksin. Padahal dalam UU No 5 Tahun 2014 disebutkan seorang ASN harus mematuhi kebijakan pemerintah.

Jika tidak mematuhi maka konsekuensinya, kata Taqwaddin, ASN apalagi PNS dapat dikenakan sanski administrasi disiplin sebagaimana diatur dalam PP tentang Disiplin PNS.

“Saya yakin sebetulnya para guru dan anak didik ini bukan tidak mau divaksin. Tetapi karena mereka takut dan belum tahu manfaatnya, maka mereka belum mau divaksin,” terang Taqwaddin.

Untuk mengatasi hal itu, sebut Taqwaddin, maka solusinya adalah para pihak yang memangku kepentingan harus membujuk dan memberikan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat dengan meminta bantuan orang yang masyarakat percayai.

Ini penting dilakukan, agar masyarakat paham manfaat vaksin dan menjadikan vaksin sebagai suatu kebutuhan.

“Masyarakat perlu diberikan pemahaman, bahwa dengan divaksin kita makin sehat. Akan imun (kebal) terhadap serangan virus Corona,” katanya.

Taqwaddin meminta pejabat di Dinas Pendidikan Aceh untuk tidak mengintimidasi para kepala sekolah, para guru, dan para murid. “Pendekatan arogansi seperti ini akan kontra produktif,” sebutnya.

Perlu juga dijelaskan, sambung Taqwaddin, bagi seseorang, apabila secara medis yang bersangkutan memang tidak boleh divaksin, maka semestinya seseorang itu jangan divaksin. Tetapi kepada mereka diberikan surat keterangan yang bisa digunakannya untuk pengurusan berbagai keperluan administrasi pemerintahan, baik di Aceh maupun di luar Aceh.

Mengakhiri wawancara dengan Waspada, Taqwaddin mengimbau kepada seluruh kepala sekolah dan para guru di Aceh untuk minta divaksin. Dan juga diminta untuk membujuk para muridnya agar mau divaksin.

“Sekarang ini pemerintah sudah menyediakan vaksin yang bagus, masyarakat jangan takut,” pintanya.

Dan untuk mengurangi rasa takut terhadap jarum suntik, sebut Taqwaddin, bagus juga diputarkan film lucu atau video lucu saat disuntik. Sehingga anak bisa tersenyum ceria saat menerima suntikan.

“Film lucu itu penting untuk menghilangkan rasa takut. Sosialiasi vaksin oleh tokoh yang dikenal dan dekat dengan masyarakat juga sangat penting,” sarannya.

Taqwaddin menduga, sosialisasi akan pentingnya vaksinasi yang dilakukan selama ini belum sampai ke seluruh pelosok gampong.

“Sekali lagi saya tegaskan, yang dibutuhkan warga gampong adalah komunikasi dan sosialisasi dari pimpinan kepada warganya agar masyarakat paham tentang pentingnya vaksin. Lakukan komunikasi yang santun, harmonis, bukan dengan cara intimidasi,” pinta Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh itu. Maimun Asnawi

  • Bagikan