Kasus Merah Putih Tak Berkibar Di Piala Thomas, Pemerintah Lalai - Waspada

Kasus Merah Putih Tak Berkibar Di Piala Thomas, Pemerintah Lalai

  • Bagikan
Mantan Atlet bulutangkis juara dunia, Lilik Sudarwati ( kiri) saat jadi pembicara di diskusi Dialektika Demokrasi di Media Center, DPR, Jakarta Kamis (21/10). (Waspada/Andy Yanto Aritonang)

JAKARTA (Waspada): Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menilai pemerintah lalai, sehingga sukses Tim Thomas Cup Indonesia tanpa kibaran merah putih. Kasus itu merupakan peremehan Menpora yang tidak menjadikan anti doping sebagai kebutuhan, sehingga Wada sebagai Badan Anti Doping Dunia menjatuhkan sanksi Indonesia dilarang mengibarkan merah putih di Piala Thomas. Sanksi diberikan karena ketidakmampuan Indonesia memenuhi rencana jumlah tes doping tahunan atletnya yang ditetapkan oleh Wada kepada seluruh negara.
“Itu yang saya sesalkan. Pemerintah lalai dan jangan mengkambinghitamkan Lembaga Anti Doping Indonesia (Ladi),” ujar Syaiful Huda dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Jakarta Kamis (21/10).
Nasib Lembagaet seluruh Indonesia bagai tidak berdaya. Keberadaan Ladi selain tidak mandiri dan masih nempel dengan Kemenpora dan anggarannya sangat minim.
Menurut Syaiful Huda belajar dari kasus itu mau tak mau Ladi harus diperkuat. “Penguatan Ladi harga mati. Kita sepakat Ladi harus menjadi lembaga yang bermartabat. Saya mengusulkan Ladi langsung dibawah presiden, ” ujar politisi Fraksi PKB DPR RI itu.
Sedangkan langkah terhadap Wada, Syaiful Huda pesimis dengan upaya lobi. ” Ini levelnya harus banding. Mau enggak mau kita harus menggunakan arbitrasi internasional, “katanya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian sepakat organisasi Ladi harus diperkuat apakah bisa menjadi Badan di lembaga pemerintahan. Bahkan SDM di organisasinya juga harus diperkuat dengan bekerja full time. “Konsekuensinya tentu anggarannya pun harus diperkuat, ” ujar Hetifah.

Mantan Ketua Lembaga Anti Doping Indonesia, Dokter Zaini Khadafi menyatakan kasus tidak berkibarnya merah putih merupakan kejadian kedua. Sebelumnya tahun 2013 sudah muncul tapi tidak sempat heboh.
Ada pasal di peraturan Wada sebagai lembaga anti doping harus bisa mandiri. “Tahun 2016 sekitar November kita mendapat sanksi karena laporan sampel tes atlet menggunakan laboratorium yang tidak wajar. Bahkan tahun 2015- 2016 testingnya 0. Solusinya Ladi harus diperkuat. Kalau sampai tahun depan laporannya tidak memenuhi, kita bisa mendapat sanksi kehilangan nama Negara, “ungkapnya. Selain memberikan laporan tes sample atlet anti doping peraturan dalam Wada atlet harus integriti, artinya tidak ada dalam pertandingan istilah mengalah.
” Kalau sudah kena sanksi, kita harus memenuhinya dan terus memberikan laporan tahunan tidak bisa ditawar-tawar maupun komplain. Bahkan kalau ada atlet yang tidak mau diambil sampelnya kita juga kena sanksi. Karena itu Ladi harus full time, “ujar Zaini Khadafi.

Mantan Atlet bulutangkis juara dunia, Lilik Sudarwati menyayangkan insiden bendera Merah Putih tak bisa berkibar saat Indonesia menjadi juara Piala Thomas atau Thomas Cup 2020 (2021) pada Minggu (17/10) malam lalu.
“Saya kira masalah doping cukup merepotkan. Pelaku olahraga rata-rata kita sekarang belum memahami. Untuk itu perlu sosialisasi terhadap atlet di seluruh cabang olahraga kita. Apa yang terjadi hari ini menjadi pembelajaran bagi kita bersama,” pungkas Lilik Sudarwati.(j04)

  • Bagikan