Waspada
Waspada » Dunia Ramai-ramai Bermigrasi Ke Telegram Akibat Kebijakan Privasi WhatsApp
Headlines Teknologi

Dunia Ramai-ramai Bermigrasi Ke Telegram Akibat Kebijakan Privasi WhatsApp

Waspada –  Dunia saat ini sepertinya tengah menyaksikan migrasi terbesar di dunia digital setelah aplikasi Telegram kedatangan 25 juta pengguna baru dalam dua hari, Selasa 10-12 Januari.

Hal itu terjadi menyusul kebijakan baru WhatsApp, yang sekarang mengharuskan pengguna memasukkan semua data pribadi mereka ke mesin iklan Facebook.

Dilansir laman The Verge, Jumat (15/1/2021), pendiri dan CEO Telegram, Pavel Durov, angkat bicara soal melesatnya angka download layanannya itu secara signifikan.

Bahkan pria kelahiran Rusia ini menyebutnya sebagai migrasi digital terbesar yang pernah terjadi selama ini.

“Sejak postingan terakhir saya, gelombang masif user baru yang sudah terjadi ke Telegram terus berakselerasi. Kita mungkin saja menyaksikan migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia,” tulis Durov di akun Telegram-nya.

Sejak kebijakan privasi baru di WhatsApp bikin cemas user, Telegram dan juga Signal memang ketiban berkah dengan jutaan user anyar bergabung memakai aplikasi mereka.

Durov pun memanfaatkan momentum ini untuk terus mempromosikan Telegram. Menurutnya baru-baru ini, dua presiden mulai membuka channel Telegram, yaitu Presiden Brasil yang beralamat di @jairbolsonarobrasil serta Presiden Turki di alamat @RTErdogan.

Menurut Durov, sebelumnya sudah ada cukup banyak kepala negara ada di Telegram. Misalnya Perdana Menteri Singapura, Presiden Prancis, Presiden Taiwan sampai Perdana Menteri Israel. Akun milik mereka telah terverifikasi.

“Kami merasa terhormat bahwa pemimpin politik, dan juga banyak organisasi publik, bergantung pada Telegram untuk melawan misinformasi dan menyebarkan kesadaran tentang isu-isu penting di masyarakat mereka,” cetus Durov.

Sebelumnya, Durov menyampaikan saat ini aplikasi besutannya itu telah mencapai 500 juta pengguna aktif.

Ia menyebut selama kurun waktu tiga hari sejak Minggu sampai Selasa 10-12 Januari, Telegram kedatangan 25 juta pengguna baru.

Durov menguraikan demografi pengguna baru Telegram, yakni 38% dari Asia, 27% dari Eropa, 21% dari Amerika Latin, dan 8% dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Raihan itu bahkan diumumkan Telegram kepada para penggunanya yang bisa dilihat dari notifikasi untuk pengguna.

WhatsApp tidak aman?

Durov sejak lama mengatakan bahwa dirinya secara pribadi tak menyukai layanan WhatsApp.

Ia berulangkali mengkritik WhatsApp, bahkan pernah meminta pengguna uninstall saja dengan alasan keamanan.

Menurutnya celah besar sering muncul di WhatsApp. Dulu, kala spyware dari perusahaan Israel, NSO Group, bisa menginfeksi WhatsApp dan membobol datanya cukup dengan panggilan telepon yang bahkan tak perlu diterima.

“Kecuali Anda tak masalah semua foto dan pesan Anda terbuka untuk publik suatu hari, Anda harus menghapus WhatsApp dari ponsel Anda,” cetus Durov ketika itu.

Durov menyebut WhatsApp adalah semacam ‘Kuda Troya’ yang dimanfaatkan untuk memata-matai foto dan data penggunanya.

Ia juga melontarkan rasa tidak percaya terhadap sang induk, Facebook.

“Facebook telah menjadi bagian dari program pengintaian jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Naif berpikir bahwa perusahaan ini akan mengubah kebijakan setelah akuisisi,” paparnya.

Ia mengaku heran WhatsApp terus bermasalah soal keamanan sedangkan Telegram tidak.

“Telegram, aplikasi yang mirip dalam hal kerumitan, tidak pernah mengalami masalah dalam skala berat seperti WhatsApp dalam 6 tahun sejak peluncurannya,” klaim dia.

Menurutnya, celah yang terus muncul dari WhatsApp adalah sebagai akibat dari kompromi antara Facebook dengan pemerintah atau lembaga intelijen. (the verge/indian express/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2