Waspada
Waspada » Dua Kurir Sabu 21 Kg Divonis Mati
Headlines

Dua Kurir Sabu 21 Kg Divonis Mati

SIDANG pembacaan vonis kedua terdakwa di Ruang Cakra V PN Medan, Selasa (15/12). Dua kurir sabu 21 kg divonis mati. Waspada/Rama Andriawan
SIDANG pembacaan vonis kedua terdakwa di Ruang Cakra V PN Medan, Selasa (15/12). Dua kurir sabu 21 kg divonis mati. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Dua terdakwa kurir narkotika jenis sabu seberat 21 kg divonis mati oleh Hakim Ketua Syafril, dalam persidangan online di Ruang Cakra V Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/12) sore.

Kedua terdakwa, Syamsul Bahri alias Syamsul warga Dusun III, Desa Air Teluk Hessa, Kec. Air Batu, Kab. Asahan dan Ponisan Warga Jl. Bambu, Desa Selat Tanjung Medan, Kec. Datuk Bandar Timur, Kota Tanjungbalai. Keduanya dinyatakan bersalah menjadi perantara jual beli sabu.

“Mengadili, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Syamsul Bahri alias Syamsul dan terdakwa Ponisan dengan pidana mati,” ucap Syafril Batubara.

Dalam amar putusannya, hakim sependapat dengan JPU Nurhayati Ulfia menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Keduanya, melakukan percobaan atau permufakatan jahat menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram.

“Hal yang memberatkan, terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam hal memberantas peredaran narkotika,” kata hakim.

Sementara, hakim berpendapat tidak ada ditemukan hal yang meringankan, sehingga dua kurir sabu 21 kg itu layak divonis mati.

Menanggapi putusan tersebut, kedua terdakwa melalui penasihat hukumnya dari LBH Sankra Tita Rosmawati SH menyatakan pikir-pikir apakah mengajukan banding atau terima.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim sama dengan tuntutan JPU Nurhayati Ulfia yang sebelumnya menuntut kedua terdakwa dengan pidana mati.

Tergiur Upah

JPU Nurhayati Ulfia menyebutkan terdakwa Syamsul nekat menjadi kurir sabu karena tergiur upah Rp15 juta, bila berhasil mengantarkan sabu tersebut ke Medan, dengan penerima atas nama Jokowi dan MY ani alias Romi.

Terdakwa Syamsul bersama rekannya Ponisan (berkas terpisah) awalnya dihubungi Daeng (DPO) pada Februari 2020. Daeng meminta terdakwa Syamsul untuk mengantarkan sabu tersebut ke Medan.

Kemudian terdakwa Syamsul bertemu dengan Daeng di Jl. Selat Lancang, kemudian Daeng mengatakan ada kerjaan membawa sabu ke Medan dengan iming upah Rp15 juta. Sebelum berangkat, terdakwa Syamsul juga diberikan uang jalan sebesar Rp1 juta dan akan ditemani oleh Ponisan.

Terdakwa Syamsul berangkat menuju tempat pengambilan sabu sedangkan Daeng mengikuti sambil jalan kaki dan memberikan petunjuk melalui telepon. Setelah situasi di lokasi aman, dua orang lelaki memberikan tiga tas berisi sabu.

Lalu terdakwa Syamsul dan Daeng bergerak menggunakan mobil menuju ke Jl. Selat Lancang, di tepi jembatan ia bertemu dengan Ponisan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Sedangkan Daeng tidak ikut.

Pada saat melintas di depan rumah makan Afrika Jl. Lintas Sumatera Perkebunan Tanah Datar, Kec. Talawi, Kab. Asahan, mobil yang dikendarai terdakwa Syamsul bersama dengan Ponisan dihadang petugas BNN.

Petugas langsung melakukan penggeledahan terhadap mobil, dari bawah jok bangku tengah para saksi dari BNN menemukan barang bukti berupa satu buah tas warna orange yang di dalamnya berisi sepuluh bungkus plastik berisi sabu dengan total berat 21.011gram. (m32).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2