Waspada
Waspada » DPRD Pertanyakan Robohnya DPT Berbiaya Rp3.4M
Headlines

DPRD Pertanyakan Robohnya DPT Berbiaya Rp3.4M

KOMISI C DPRD Palas didampingi staf BPBD Palas, Sabtu (1/2) tinjau pertanyakan robohnya proyek DPT berbiaya Rp3.4M diterjang arus sungai akhir tahun 2019 lalu. Waspada/Ist
KOMISI C DPRD Palas didampingi staf BPBD Palas, Sabtu (1/2) tinjau pertanyakan robohnya proyek DPT berbiaya Rp3.4M diterjang arus sungai akhir tahun 2019 lalu. Waspada/Ist

PADANGLAWAS (Waspada): DPRD Palas Pertanyakan kualitas robohnya bangunan dek penahan tebing (DPT) bantaran sungai galanggang kecamatan Barumun yang berbiaya Rp3.4m tahun 2018, pada akhir tahun 2019.

Karena saat kunjungan lapangan DPRD Palas dari Komisi C, Sabtu (1/2) pertanyakan robohnya proyek DPT bantaran sungai Galanggang berbiaya Rp3.4m yang dikerjakan PT Asa Cipta Sarana itu dan ditemui berbagai kejanggalan.

Diantara kejanggalan yang ditemukan termasuk besi kerangka bangunan yang digunakan tidak sesuai dengan postur bangunan.

Seperti kata Raja P Nasution, ST, wakil ketua komisi C DPRD Palas, secara kasat mata saja kalau kita perhatikan besi yang digunakan tidak sesuai dengan postur bangunan yang begitu berat.

Fungsi dek penahan itu jelas untuk menahan terjangan arus sungai, termasuk ketika pasang atau meluap. Sementara jika dilihat lebih detail konstruksi bangunan, jangankan untuk menahan tebing dan debit air, untuk menanggung beban bangunannya saja dikhawatirkan tidak akan mampu.

Raja P Nasution yang didampingi Sekretaris Komisi C, Elfin H Harahap bersama anggota H Puli Parisan Lubis mengungkapkan, bagaimana konsultan perencana proyek maupun pengawasannya, patut dipertanyakan.

Kita juga khawatir jika tidak segera diperbaiki dek penahan sungai gelanggang, bisa memakan korban karena biasa digunakan anak anak untuk bermain dan mandi.

Kita berharap jangan sampai nanti memakan korban, kata Raja. Sedang anggota komisi C lainnya Ike Taken Hasibuan, ST, MT juga menyayangkan proyek dek penahan tebing sungai galanggang.

Menurut Ike secara teknis ada beberapa hal yang mestinya dilakukan pada konstruksi tersebut. Diantarnya, termasuk pada bagian belakang turap diurug dengan material urugan.

Sehingga beban horizontal dari arus air tidak murni hanya diterima oleh konstruksi bangunan turap. Selain itu pada umumnya konstruksinya juga dibuat miring keluar, bukan tegak lurus dengan permukaan tanah.

Dari fisik bangunannya saja khususnya terkait pembesiannya, pantas dipertanyakan. Jangan-jangan konsultan perencananya tidak menghitung beban yang akan diterima bangunan konstruksi tersebut. Atau mungkin ada spek yang dilanggar pada saat pelaksanaan, jelas Ike. (a33)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2