DEMO ANARKIS DI DPRD SUMUT

Demo Anarkis Di DPRD Sumut

  • Bagikan
SALAH seorang peserta aksi, Fadly, menyampaikan orasinya disaksikan anggota DPRD Sumut, Faisal, saat berlangsungnya unjukrasa yang berakhir anarkis di DPRD Sumut, Kamis (8/10). Waspada/Partono Budy
SALAH seorang peserta aksi, Fadly, menyampaikan orasinya disaksikan anggota DPRD Sumut, Faisal, saat berlangsungnya unjukrasa yang berakhir anarkis di DPRD Sumut, Kamis (8/10). Waspada/Partono Budy

MEDAN (Waspada): Aksi demo yang menolak UU Ciptaker berakhir anarkis di gedung DPRD Sumut, Kamis (8/10). Aparat kepolisian terpaksa melepaskan tembakan air mata dan membubarkan kerumuman massa.

Demo yang berujung anarkis di DPRD Sumut ini tampaknya tersulut aksi-aksi pelemparan batu oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Semula ratusan peserta aksi secara santun menyampaikan orasinya di depan gedung dewan, yang disaksikan ratusan polisi dibantu sejumlah mobil barikade dan kendaraan taktis.

Mereka menyebut UU Ciptaker. yang resmi disahkan 5 Oktober lalu di DPRD ini, sangat membelenggu nasib buruh dan pekerja, karena sebagian besar pasalnya merugikan para pekerja.

Aksi yang semula berjalan tenang tiba-tiba menjadi anarkis. Amatan Waspada, sekira pukul 11.35 WIB, terlihat batu melayang ke arah gedung DPRD Sumut dari arah kiri dan disambut dengan sorak-sorai peserta aksi.

Melalui pengeras suara, petugas dengan santun meminta jangan main lempar batu, namun seruan ini tidak ditanggapi.

Suasana makin tak terkendali, karena selain lemparan batu semakin kencang, peserta aksi juga mengeluarkan ejeken dan kata kata tak senonoh kepada DPRD Sumut.

Petugas dibantu mobil pengurai massa dan water cannon terpaksa melepaskan tembakan gar air mata dan mengejar pelaku pelemparan.

Akibat peristiwa ini, dua polisi, seorang polwan terluka. Sementara belasan provokator berhasil diamankan. Kemudian, kaca di sisi kiri dan kanan gedung dewan terlihat pecah akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya.

Salah seorang provaktor yang diamankan diketahui bukan bagian dari peserta aksi. Kepada petugas, dia mengaku mendapat bayaran Rp 10.000 untuk melempar batu.

Sesalkan

Wakapolrestabes Medan Irsan Sinuhaji yang ikut menyaksikan aksi demo ini menyesalkan terjadinya anarkis. “Kita akan proses semua pelaku dan mencari motifnya,” ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Sumut Parlaungan Simangunsong kepada Waspada juga menyesalkan aksi yang berujung anarkis. “Ini saya kira sudah tidak sehat lagi,” ujarnya.

Pihaknya meminta menelusuri siapa yang menyuruhnya. “Sebab jika aksi anarkis begini, maka akan sulit pesan yang ingin diperuangkan,” sebutnya.

Parlaungan bersama anggota dewan lain, Anita Lubis, Faisal, dll yang semula ingin bertemu dengan pengunjukrasa terhalang akibat tembakan gas air mata yang makin gencar ke arah pengunjukrasa.

Hingga pukul 13.00, mereka akhirnya bertemu dengan pengunjukrasa dan berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka ke DPR RI.

Menurut anggota dewan, Faisal, dari PAN, partainya bersama partai lain di DPR RI memang menyetujui disahkannya UU Ciptaker, namun disertai dengan catatan. Diakui, dari 400 halaman yang sudah dibacanya, ada pasal-pasal yang perlu direvisi.

Faisal juga menyesalkan undang-undang tersebut terkesan tergesa-gesa disahkan, dan tidak melibatkan masyarakat sipil, kaum intelektual dan pakar.

Kendari demikian, politisi PAN ini meminta buruh dan pekerja tidak terprovokasi dengan adanya berita simpang siur yang mengadu domba.

“Kami ingin UU CIpta kerja direvisi, dipelajari, ditelaah ulang dan apabila ada point-poin yang merugikan masyarakat dan buruh kemudian agar diperbaiki,” katanya.

Faisal menyebutkan, pihaknya akan terus berkonsultasi dengan DPR-RI karena mereka yang punya wewenang dalam UU Ciptaker ini, terkait poin-poin yang merugikan para pekerja buruh dan masyarakat. (cpb)

  • Bagikan