CCUS: Strategi Mengurangi Emisi Karbon

  • Bagikan

Oleh Dr Ir Dandi Bachtiar, M.Sc.

Teknologi CCUS sudah menjadi salahsatu agenda pemerintah Indonesia dalam kebijakan nasional pengurangan emisi karbon. Uji coba pertama sekali dilakukan sejak 10 tahun yang lalu melalui kerjasama riset ITB dan Lemigas

Para pemimpin dunia telah berkumpul di Glasgow pada awal November 2021 tahun lalu dalam forum COP-26 untuk memastikan kembali komitmen akan pentingnya isu perubahan cuaca dan pemanasan global. Semua pihak sudah semakin menyadari bahwa pemanasan global ini dipicu oleh emisi karbon yang massif.

Dalam pertemuan tersebut sejumlah pemimpin dunia memaparkan langkah-langkah yang sudah diambil selama ini, dan apa rencana ke depan yang perlu dilaksanakan dalam memastikan agar kenaikan suhu bumi dapat dicegah. Semua negara di dunia perlu menjalin kolaborasi yang intens dan sistematis dalam mencari solusi untuk masalah pemanasan global ini.

Terlepas dari sikap nyinyir para aktivis lingkungan terhadap para pemimpin dunia yang menurut mereka hanya lip service belaka, apresiasi tetap patut diberikan atas niat baik para top leader untuk mau hadir berkumpul di Glasgow kemarin. Setidaknya pertemuan tingkat tinggi dan komprehensif ini akan selalu terjaga dan terekam dalam memori sehingga atensi terhadap pengurangan emisi karbon tidak menjadi surut.

Bagi Indonesia momen ini menjadi sangat penting untuk menunjukkan kepada dunia akan keseriusan berkontribusi mencari solusi pemanasan global ini. Indonesia dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa yang terbesar ke-4 di dunia sudah dipastikan punya pengaruh besar akan setiap kebijakan yang diambil.

Untuk menggerakkan pertumbuhan ekonominya Indonesia jelas butuh konsumsi energi yang tinggi. Jika sumber energi selama ini masih terus didominasi oleh energi fosil, maka produksi emisi karbon Indonesia juga meningkat terus secara siknifikan.

Upaya pengurangan emisi karbon dunia sekarang ini dilakukan dalam dua jenis strategi. Pertama, menggantikan peran energi fosil (minyak, gas dan batubara) dengan energi baru dan terbarukan (energi surya, air, angin dan panas bumi) yang tidak memancarkan emisi karbon.

Targetnya adalah emisi karbon dapat berkurang dan berkontribusi untuk mencapai net zero carbon. Namun ini butuh biaya besar, karena pengembangan energi baru dan terbarukan masih terus dilakukan untuk mencari kondisi idealnya.

Sehingga strategi ini dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi guncangan finansial dan faktor-faktor kemampuan teknologi. Indonesia telah menyusun road-map kasar bauran energi 23% penggunaan energi terbarukan di tahun 2025, 41% pada tahun 2040, dan akhirnya full 100% di tahun 2060.

Strategi kedua adalah menangkap karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, menyimpannya, dan atau menggunakannya dalam bentuk lain. Artinya upaya ini mencoba mengalihkan sejumlah karbon yang diproduksi oleh pembangkit energi fosil dengan cara menyimpan dan menguburkannya di tempat yang jauh di dasar bumi dan memastikan karbon itu tetap terperangkap selamanya di dalam perut bumi. Teknologi ini disebut CCUS singkatan dari Carbon Capture, Utilization and Storage (Tangkap, Gunakan dan Simpan).

Strategi kedua ini sangat sesuai dilakukan dalam masa transisi. Yaitu ketika penggunaan energi fosil masih berlangsung dan secara bertahap digantikan oleh energi terbarukan, maka emisi karbon yang dihasilkan perlu diperangkap dan disimpan agar tidak menyebar ke udara bebas.

Indonesia memberi perhatian kepada kedua strategi ini dalam porsi yang sama. Artinya kedua opsi strategi ini patut menjadi pilihan yang dapat dilakukan secara serentak. Pada satu sisi, bumi Indonesia begitu kaya akan sumber-sumber energi terbarukan.

Ini perlu dikembangkan dan dieksploitasi sepenuhnya untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Di sisi lain, cadangan sumber energi fosil Indonesia masih cukup tersedia, walau kuantitasnya akan semakin menurun sejalan dengan waktu jika terus dikonsumsi.

Teknologi CCUS sudah menjadi salahsatu agenda pemerintah Indonesia dalam kebijakan nasional pengurangan emisi karbon. Uji coba pertama sekali dilakukan sejak 10 tahun yang lalu melalui kerjasama riset ITB dan Lemigas.

Dan terus berkembang hingga ini. Beberapa bentuk kerjasama riset dengan pihak asing juga dilakukan. Beberapa agenda sudah disusun dan dapat dicatat di sini lapangan Arun menjadi salahsatu pilihan utama dalam program CCUS Indonesia.

Strateginya adalah dengan menginjeksi gas CO2 yang diproduksi dari ladang-ladang PT Medco E&P Malaka ke ladang Arun dengan harapan memberi efek kepada peningkatan produksi ladang Arun (Kementrian ESDM, 2021).

Bagi kita di Aceh, perkembangan ini patut menjadi berita baik dan angin segar. Ladang Arun sebagai lahan bekas tambang gas terbesar di dunia, kini sudah purna bakti alias pensiun.

Peralatan besar kilang pencairan gas Arun yang dulunya begitu megah, kini terancam menjadi besi tua dan terbengkalai tidak berfungsi lagi. Dengan adanya kebijakan CCUS yang akan dilakukan di lapangan Arun, akan membuka peluang wilayah ini kembali bergeliat ekonominya.

Aktivitas industri akan kembali tumbuh sejalan dengan aktifnya peralatan-peralatan besar dalam menjalankan proyek CCUS ini. Lapangan Arun menyisakan ruang kosong yang besar sekali bekas tempat gas yang telah diambil dari dalam perut bumi Arun.

Kini ruang kosong itu dimanfaatkan sebagai tempat simpanan gas CO2 terbesar di dunia pula. Gas CO2 yang ditangkap dari berbagai proses yang menghasilkan emisi karbon diinjeksikan ke dalam perut bumi dan disimpan di sana selamanya.

Teknologi CCUS juga dipakai untuk EOR (Enhanced Oil Recovery) atau injeksi karbon ke dalam sumur-sumur tambang migas yang sudah tua akan menekan gas dan minyak yang masih tersisa ke atas dan menjadi sumber migas baru.

Sehingga teknologi CCUS sangat menjanjikan, karena selain dapat mengurangi jumlah karbon di udara, sekaligus dapat digunakan untuk memproduksi kembali minyak dan gas bumi. Ide CCUS sangat inovatif dan memberi solusi ganda akan masalah pemenuhan energi dan pengurangan emisi karbon juga.

Sehingga patut kita sambut gembira ide untuk menerapkan teknologi CCUS di bekas lapangan Arun. Bagi Aceh, terdapat keuntungan yang berlipat ganda dan memberi efek positif terhadap banyak aspek. Mudah-mudahan ini dapat menjadi berkah baru kepada masa depan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Penerapan teknologi CCUS memberi peluang kepada pemberdayaan sumber daya manusia di Aceh untuk terlibat sepenuhnya dalam pengembangan dan operasionalnya. Mulai dari tingkat bawah sehingga level manajerial.

Kalangan akademik di kampus juga dapat berperan di bidang riset dan pengembangan ke depan. Kampus memiliki kesempatan lebih besar dalam mencetak tenaga-tenaga trampil yang akan dipakai untuk mengelola CCUS.

Dari segi ekonomi patut diakui akan menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi. Ekonomi sekitar CCUS akan bertumbuh dan menggeliatkan aktifitas masyarakat sekitar. Karena industri di Arun kembali hidup dan berputar. Ini akan menjadi pemicu kepada tumbuhnya sektor-sektor ekonomi baru yang lebih luas dan variatif.

Semua pihak yang berkepentingan di Aceh patut mendukung rencana besar CCUS ini. Dukungan tidak saja dilakukan dengan menerima begitu saja teknologi yang datang dari pihak luar Aceh, namun juga dalam bentuk yang kritis.

Seperti melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap dampak-dampak yang dapat terjadi sebagai akibat penerapan teknologi CCUS. Pihak institusi pendidikan tinggi lokal sangat ditunggu peranannya untuk terlibat dalam proyek ini secara proporsional.

Penulis adalah Dosen Jurusan Teknik Mesin dan Industri USK.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.