Waspada
Waspada » Bentrok Berujung Maut Di Cafe Mie Aceh
Headlines

Bentrok Berujung Maut Di Cafe Mie Aceh

KUASA hukum Mahyudi dari Kantor Law Office H. Syarwani, SH & Associates, saat memberikan keterangan bentrok berujung maut yang menewaskan Abadi Bangun, di cafe Mie Aceh kepada wartawan, Minggu (2/2). Waspada/Rama Andriawan
KUASA hukum Mahyudi dari Kantor Law Office H. Syarwani, SH & Associates, saat memberikan keterangan bentrok berujung maut yang menewaskan Abadi Bangun, di cafe Mie Aceh kepada wartawan, Minggu (2/2). Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Polisi dinilai keliru menetapkan Mahyudi dan temannya sebagai tersangka bentrok berujung maut yang menewaskan Abadi Bangun, di cafe Mie Aceh Pasar Baru dan Delicious Coffe pada Jumat (31/1) lalu.

Pasalnya, tersangka memukul korban menggunakan kayu karena berusaha mempertahankan dirinya menghindari tebasan parang yang diacungkan oleh Abadi Bangun ke arahnya, namun ia justru dipenjara.

Kuasa hukum Wahyudi dari Kantor Law Office H. Syarwani, SH & Associates, Hafiz Zuhdi SH didampingi Estu Edi Swasono SH dan Surya Pramana SH, mencoba meluruskan kronologi kejadian sebenarnya yang dialami kliennya.

Saat ini, Mahyudi selaku pengelola cafe bersama dua karyawannya, Mursalin dan Agussalim resmi ditetapkan tersangka oleh Polrestabes Medan.

“Saat kejadian secara spontan Mahyudi menahan sabetan parang dengan tangan kirinya, hingga membuat telapak tangannya terluka. Karena merasa nyawanya terancam Mahyudi langsung mengambil kayu broti yang kebetulan berada di tempatnya berdiri dan mengayunkannya satu kali kearah leher sebelah kanan Abadi hingga terjatuh,” ujar Hafiz kepada wartawan Minggu (2/2).

Dikatakannya, saat datang ke cafe, pesanan nasi goreng yang diminta korban sudah diberikan. Namun, karena tidak dibayar.

Agussalim selaku karyawan meminta waktu sebentar agar disampaikan ke Mahyudi selaku pengelola. Namun Abadi emosi dan melempar bungkusan nasi goreng ke wajah Agussalim lalu pergi.

Tidak sampai di situ saja, selang beberapa menit Abadi kembali mendatangi cafe bersama dua temannya, dan melakukan pelemparan batu ke steling mie Aceh.

Belum siap membersihkan pecahan kaca steling yang pecah, ternyata Abadi datang lagi membawa parang dan mengacungkannya serta berteriak bernada ancaman meminta dipertemukan dengan pemilik di cafe mie, hingga akhirnya terjadilah bentrok berujung maut tersebut.

“Dia kan (Mahyudi) membela diri agar nyawanya tidak melayang. Janganlah orang kami yang jadi korban malah jadi tersangka. Dia hanya sekali memukul, selebihnya kan bukan tanggungjawab dia,” ucapnya.

Pembelaan diri

Sebab, kata Hafiz, usai pemukulan, belakangan diketahui, orang-orang yang ada di lokasi termasuk beberapa karyawan secara spontan juga ikut meluapkan emosinya kepada Abadi dengan ikut memukul dan menendang karena dianggap membahayakan pengunjung dan karyawan.

Dalam kasus ini, kata Syarwani menambahkan, sangat menyayangkan pihak kepolisian dalam penerapan pasal yang dipersangkakan kepada ketiga tersangka. Sebab, perbuatan yang dilakukan ketiganya adalah murni pembelaan diri.

“Terlebih lagi kejadian tersebut diawali oleh perilaku Abadi yang datang ke lokasi dengan itikad tidak baik dan arogansi dengan melakukan pengancaman dan intimidasi kepada karyawan,” pungkas Syarwani.

Pencantuman Pasal 338, lanjutnya, dianggap memberatkan para tersangka. Sebab, unsur penganiayaannya tidak terpenuhi. Bukti permulaannya juga tidak ada.

Niat pelaku juga tidak ada, hanya refleks dan spontanitas. Mahyudi hanya ingin melindungi karyawannya, karena ia duluan dibacok.

Bahkan, tewasnya korban juga baru diketahui Mahyudi saat diperiksa polisi. Ia meminta kepolisian bersikap profesional melakukan penyelidikan terhadap kasus itu.

Hingga saat ini Mahyudi, Mursalin dan Agussalim masih ditahan di Mapolrestabes Medan. Ketiganya dipersangkakan melanggar Pasal 338 subs Pasal 170 ayat (2) ke 3e Jo. Pasal 351 ayat (3) KUHPidana. (cra)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2