“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena dosa-dosa itu akan berhimpun pada seseorang, sehingga akan membinasakannya” (HR Ahmad)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya, “Dosa apa yang paling besar?”Maka Nabi menjawab, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dialah yang menciptakanmu!”Saya berkata lagi, “Itu memang besar.”Kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “membunuh anakmu karena kamu khawatir akan ikut makan bersamamu.”Kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu” (HR Bukhari).
Dalam riwayat Imam Ahmad ditambahkan bahwa Allah menurunkan ayat yang membenarkan hal itu, tepatnya ayat, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)” (QS Furqan: 68).
Ayat ini kemudian menjadi isyarat bahwa syirik, pembunuhan dan zina adalah tiga puncak atau pentolan maksiat. Dimana masing-masing memiliki benih yang darinya tumbuh cabang dosa dan ranting maksiat.
Ibnul Qoyyim dalam Fawaidul Fawaid mengatakan bahwa benih maksiat itu ada tiga hal. Beliau berkata, “Benih dari maksiat baik yang kecil maupun yang besar ada tiga, ketergantungan hati kepada selain Allah (ta’alluq qalbi bighairillah), mengikuti nafsu amarah (tha’atul quwwah al-ghadhabiyah) dan mengikuti nafsu syahwat (tha’atul quwwah asy-syahwaniyah).
Ketiganya adalah kesyirikan, kezaliman dan kekejian. Klimaks dari ketergantungan hati kepada selain Allah adalah dosa syirik, klimaks mengikuti amarah adalah membunuh dan klimaks mengikuti nafsu syahwat adalah berzina.
Adapun benih maksiat yang pertama ialah Ta’aluq qalbi bighairillah. Keterpautan hati kepada selain Allah yakni menggantungkan harapan, kepercayaan, permintaan serta kecenderungan kepada makhluq atau selain Allah. Manusia sering memiliki keinginan dan kemauan untuk memperoleh capaian-capaian di luar kebiasaan. Sehingga dalam mencapai keinginan kerap menggantungkan harapan pada pihak lain.
Sayangnya, sebagian manusia menggantungkan harapannya kepada selain Allah. Ingin sembuh cepat, lari ke jimat. Ingin segera bertemu jodoh, pergi ke dukun. Ingin kaya, pakai penglaris dan sebagainya.
Dari pangkal pertama ini pula muncul cabang-cabang kesyirikan besar juga ranting kesyirikan kecil seperti riya’ (ingin terlihat baik di mata makhluk), Sum’ah (ingin didengar baik), ujub (bangga diri), tathayur (dugaan sial karena sesuatu) dan lain-lain.
Benih kedua, yakni tha’atul quwwah al-ghadabiyah. Saat seseorang mengikuti desakan amarah maka hatinya akan terbakar oleh rasa hasad, benci, putus asa dari rahmat Allah maupun dosa hati lain.
Begitupula lisan jadi tidak terkontrol atas apa yang diucapnya dengan kata kotor, celaan, hinaan bahkan kata-kata kufur. Marah juga yang membuat manusia mudah melakukan kezaliman, memukul, merusak dan puncaknya melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar.
Benih ketiga, tha’atul quwwah asy-syahwaniyah. Yakni ingin mereguk nafsu syahwat, baik berupa kelezatan makanan, minuman maupun terhadap lawan jenis (seks) dan objek-objek hubbusyahwat yang tergambar dari firman Allah,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS Ali Imran: 14).
Benih ini pula yang akan memunculkan dosa-dosa seperti mencuri, merampok, makan makanan yang haram, begitupula melihat pemandangan yang haram, berkhalwat dengan lawan jenis yang tak halal, dan puncaknya zina yang merupakan dosa besar.
Oleh karena itu, setiap muslim harus mewaspadai benih kemaksiatan yang ada. Jangan sampai benih itu dibiarkan atau dipupuk sehingga menjelma menjadi sebuah ‘dahan pohon’ yang besar.
Allah SWT berfirman, “Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. asy-Syura: 36-37).
Adapun benih kebaikan yang bisa ditanamkan dalam diri terdapat dalam ayat di atas adalah Pertama, memperkuat tauhid dan tawakkal hanya pada Allah. Kedua, memelihara kesucian diri dengan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan keji.
Ketiga, tidak menuruti amarah dan sudi menjadi pemaaf. Sebagaimana pesan Nabi tatkala dimintai nasihat, beliau berkali-kali mengatakan, “Laa Taghdhab! Wallahua’lam. WASPADA
(Pengurus Mathla’ul Anwar Sumatera Utara)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.