Waspada
Waspada » Bangunan Reot Berlantai Tanah Dihimpit Bangunan Beton Mewah
Headlines Sumut

Bangunan Reot Berlantai Tanah Dihimpit Bangunan Beton Mewah

RUMAH Aziz dan Ainun. Waspada/Ali Anhar Harahap
RUMAH Aziz dan Ainun. Waspada/Ali Anhar Harahap

MADINA (Waspada): Sungguh miris melihat kondisi yang dialami Abdul Aziz, 24, warga Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang saat ini sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari para Dermawan.

Abdul Aziz tinggal bersama istrinya Ainun Mardiyah, 25, dan memiliki 2 orang anak yang tinggal di sebuah gubuk reot tepatnya di Jalan Lintas Barat sebelum persimpangan Hotel Sunan Kabupaten Madina.

Kondisi Rumah tersebut sangat memprihatinkan, atap yang ditutupi dengan seng bekas dan berlantaikan tanah, apabila cuaca panas maka di dalam rumah hawanya sangat panas.

Bila hujan datang, air akan masuk kedalam rumah dikarenakan seng nya bocor dan sudah lapuk.

Mirisnya lagi, Rumah Aziz ini dihimpit oleh dua rumah yang berbanding terbalik dengan rumah yang ditempatinya.

Rumah beton yang mewah menghimpit rumah Aziz.

Pekerjaan Aziz sehari-harinya adalah sebagai kuli bangunan dengan gaji Rp80 ribu per hari dan Ainun istrinya sebagai tukang cuci dengan gaji yang tidak menetap.

Terkadang istrinya hanya bergaji Rp300 ribu per Bulan.

Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun tidak menentu, terkadang jika tidak ada pekerjaan bangunan, Aziz terpaksa memulung barang bekas.

Hasilnya pun tidak menentu, terkadang Aziz hanya bisa berpenghasilan Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per hari dari hasil memulung.

Kepada penulis, Sabtu (12/9) Ainun Mardiyah mengatakan bahwa rumah reot yang ditempatinya sudah menjalani usia 2 tahun.

Mereka mengontrak tanah dan mendirikan bangunan sendiri seadanya.

“Kami sudah 2 tahun mengontrak tanah disini, dengan ukuran tanah 3×4 meter, Kami mengontrak Rp200 ribu per Tahun, Bangunannya terbuat dari kayu sempengan dan seng bekas dari sisa bangunan orang,” keluh Ainun pada saat dijumpai langsung ke tempat kediamannya.

“Suami saya bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji Rp80 ribu per hari namun kerjanya tidak menetap” ungkap Ainun sambil bersedih.

Ainun juga menuturkan jika keluarganya tidak pernah sama sekali mendapatkan Bantuan seperti Bantuan Sosial Tunai (BST) dari pemerintah setempat.

Hanya saja keluarganya mendapatkan bantuan sembako.

“Belakangan ini saya lihat ada bantuan tunai dampak Covid-19, saya tidak pernah dapat, namun pihak kelurahan memberikan saya bantuan sembako dari Provinsi itupun sudah 2 kali mengajukan berkas,” pungkasnya.

Terpisah Fauzi Lurah Panyabungan II saat dihubungi via seluler mengatakan tidak mengetahui tentang kondisi yang di alami warganya.

Beliau berjanji akan meninjau warganya tersebut dan akan mengupayakan memasukkan nama warganya tersebut ke dalam data penerima bantuan sosial tunai (BST).

“Saya tidak mengetahui keluarga tersebut, hari Senin saya akan turun ke lokasi tersebut dan untuk kedepannya akan dimasukkan kepada daftar penerima bantuan” pungkas Fauzi.

Ainun sangat berharap semoga kedepan keluarganya bisa dapat dimasukkan dalam data penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) tersebut.

“Saya sangat berharap semoga keluarga kami didata dan dimasukkan dalam daftar penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) itu, tutut Ainun. (Cah)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2