Asosiasi Pemdes Se -Taput Tolak Kunjungan Anggota DPRDSU Di Desa

  • Bagikan
Kondisi pasar tradisional Tarutung yang setiap hari pekan yakni hari Rabu dan Sabtu sangat ramai dikunjungi masyarakat dan pedangan dari luar Taput.Tampak warga tidak pakai masker. Waspada/Parlin Hutasoit
Kondisi pasar tradisional Tarutung yang setiap hari pekan yakni hari Rabu dan Sabtu sangat ramai dikunjungi masyarakat dan pedangan dari luar Taput.Tampak warga tidak pakai masker. Waspada/Parlin Hutasoit

Tarutung, (Waspada) : Untuk mencegah penyebaran virus Covid – 19, ratusan Kepala Desa (Kades) yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dengan tegas menyatakan menolak para anggota DPRD Sumut yang berdomisili di zona merah untuk berkunjung ke pedesaan dengan dalih reses dan semacamnya.

Selain itu, Asosisasi para Kades Se-Taput ini juga meminta Pemerintah Daerah ataupun Tim Gugus Tugas Covid -19 melakukan kajian menyangkut keberadaan pedagang dari luar Taput dan masyarakat di pasar tradisional yang setiap hari pekan sangat ramai.

“Jangankan anggota DPRDSU, semua yang datang dari luar Taput, apalagi yang berdomisili di zona merah wajib di karantina 14 hari.Sudah ada tempatnya.

Lagi pula setiap apa saja kegiatan yang dilakukan di desa harus dilapor dan sepengetahuan Kepala Desa (Kades) maupun Tim Gugus Tugas Covid – 19.

Bagi kami yang tinggal di pedesaan, tidak peduli dengan surat tugas untuk kunjungan reses dewan lantas dapat mengumpulkan massa. Yang kami perlukan hati nurani dan niat tulus untuk membantu masyarakat desa terdampak Covid- 19.

Jikapun ada bantuan dapat saja disalurkan melalui Tim Gugus Tugas ataupun relawan desa. Semuanya pasti tersalurkan. Banyak perantau ataupun pejabat asal Taput berdomisili di Jakarta menyalurkan bantuan tidak harus turun ke Taput.

Tidak perlu ada unsur politis untuk bantuan sosial covid -19. Yang perlu hati nurani untuk kemanusiaan. Dampak Covid – 19 sudah banyak masyarakat desa yang sangat susah hidupnya.

Maka jangan buat kami dihantui ketakutan atas kunjungan bapak – bapak ke desa kami”.

Demikian ditegaskan Ketua Apdesi Kabaupaten Tapanuli Utara (Taput) Ruben Lumbantobing didampingi puluhan Kades di Tarutung, Rabu (13/5).

Ruben Lumbantobing yang juga Kepala Desa Hutatoruan I Kecamatan Tarutung itu, juga menegaskan, para Kades se- Taput sudah sepakat untuk mematuhi aturan Pemerintah (Tim Gugus Tugas) dalam memutus mata rantai penyebaran covid – 19.

Sehingga disetiap desa sudah berjalan maksimal posko – posko covid – 19. Semua tamu harap melapor dan didata petugas dari mana datang.

“Jika dari zona merah yakni Jakarta, Medan wajib dikarantina 14 hari. Itupun harus melalui pemeriksaan yang ketat dari petugas medis dan kami lapor ke Tim Gugus Tugas Kabupaten.

Jadi semua sudah ada aturannya kami jalankan di desa. Tanpa terkecuali siapapun itu. Maka kami himbau agar bapak –bapak dewan terhormat itu mengurungkan niatnya untuk kunjungan reses ke Taput.

Jika ada bantuan dapat disalurkan melalui Tim Gugus Tugas Covid – 19 Kabupaten ataupun melalui timnya di Taput dengan catatan tidak boleh mengumpulkan massa. Kami yakin bapak –bapak dewan terhormat itu paling mengetahui aturan itu”ujar Ruben Lumbantobing.

Ruben menyebut, kunjungan reses ke daerah pemilihan sangat berpotensi mengumpulkan massa.

“Tanpa bermaksud menjustifikasi kondisi kesehatan para anggota DPRD Sumut itu, bahwa mereka tinggal di Medan yang termasuk zona merah penyebaran virus Covid – 19.

Siapapun yang yang datang dari Zona merah ke Taput, harus di karantina 14 hari. Tempat karantina sudah ada disediakan Pemkab Taput.

Bahkan disetiap Kelurahan dan desa sudah ada posko covid – 19 untuk memantau pergerakan setiap orang yang keluar masuk.

Aturan itu berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali. Rakyat Taput bersama Pemerintah daerah sudah secara bersama untuk memutus penyebaran Covid – 19 di Taput”tegasnya.

Dia menyebut,hendaknya sebagai wakil rakyat dapat menyerap kondisi yang terjadi dengan pandemi covid – 19, kendatipun harus mengorbankan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Ruben mengungkapkan, dampak Covid – 19 kondisi perekonomian warga desa sudah morat marit dan banyak membutuhkan uluran tangan para dermawan.

Banyak yang pengangguran. Bahkan para pengrajin tenun “Ulos Batak” sudah mengeluh. “Keluarga yang menggantungkan hidupnya dari hasil tenun tidak dapat bertahan lagi.

Ulos yang ditenun ke pasar tradisionil tidak laku lagi. Maka sangat butuh bantuan” ungkap Ruben.

Pasar Tradisional

Ruben juga meminta Pemerintah Daerah untuk melakukan kajian menyangkut keberadaan pasar tradisional di Taput, yang setiap hari pekan sangat ramai dikunjungi masyarakat.

“Kita kuatir penyebaran bisa saja di pasar. Apalagi pedagang yang datang dari luar Taput. Ini sangat riskan. Kami harapkan agar dibuat aturan yang jelas dan ketat sehingga penyebaran covid – 19 dapat berjalan maksimal.

Virus Corona tidak mengenal kelompok, suku, ras, agama, pejabat, anggota dewan, pedagang. Siapa saja dapat terinveksi. Maka kita harus ketat. Siapapun itu orangnya”tegas Ruben.

Secara terpisah Kades Sosunggulon Kecamatan Tarutung, Togi Hutabarat juga mengatakan, di desanya sangat ketat penjagaan untuk mengantisipasi penyebaran virus covid – 19.

“Posko desa siaga 24 jam untuk mendata setiap orang yang masuk ke desa. Tanpa terkecuali. Masyarakat desa sangat kuatir dengan virus covid – 19. Siapapun yang datang, apalagi dari zona merah (Medan dan Jakarta) wajib kami karantina.

Di desa kami tidak ada lagi yang namanya pesta – pesta atau pengumpulan massa. Jadi jangan usik ketenangan warga desa.

Kalaupun ada bantuan dapat disalurkan melalui tim gugus tugas Taput ataupun relawan desa. Kami siap menyalurkannya”ujar Tagar Hutabarat.

Tagar menyebut, desanya menolak kunjungan siapapun yang datang dari zona merah penyebaran covid – 19. Baik itu dari Jakarta, Medan dan daerah lainnya.

Siapapun itu, kami karantina 14 hari. Untuk apa kunjungan anggota DPRD Sumut itu dengan mengumpulkan massa dalam situasi pandemi saat ini.

Jelas kami tolak didaerah kami. Itu kesepakatan dan hasil musyawarah desa”tegasnya.(a09)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *