Waspada
Waspada » Ahli Geologi: Longsor Sembahe Pergerakan Bumi Jutaan Tahun Lalu, Penanggulan Banjir Medan Cuma Masalah Niat
Headlines Sumut

Ahli Geologi: Longsor Sembahe Pergerakan Bumi Jutaan Tahun Lalu, Penanggulan Banjir Medan Cuma Masalah Niat

JAKARTA (Waspada) : Ahli Geologi Indonesia, Ir. Jonathan I. Tarigan mengungkapkan longsor yang terjadi di Sibolangit hingga memutus akses jalan Nasional Medan-Berastagi, Kamis (3/12) malam salah satu faktor utamanya dapat dipicu adanya aktivitas Neotektonik.

Menurut satu satunya ahli gempabumi Sumatera Utara ini,
Neotektonik adalah kegiatan pergerakan bumi/tanah yang berlangsung dalam rentang waktu sejarah kehidupan manusia.

“Kira kira, sejak puluhan tahun yang lalu. Kalau disebut tektonik saja, itu bisa berarti kejadian pergerakan bumi jutaan tahun lalu,” kata Jonthan saat ditanya Waspada terkait aktivitas Neotektonik juga diakibatkan kerusakan alam faktor manusia, Sabtu (5/12).

Menurut Jonthan yang akrab disapa Pak Jo, mengatakan kegiatan tektonik adalah proses alam murni dalam rangka alam atau bumi membangun keseimbangan baru. “Gerakan tanah di jalur Sembahe Sibolangit ini lebih kepada jatuhan-fall dari pada lengser atau sliding,” kata Pak Jo.

Banjir Medan

Beberapa tahun silam, Pak Jo pernah berbincang dengan Waspada terkait Neotektonik ini sewaktu waktu akan menuju Kota Medan? Apakah ada rentang waktu yang cukup mendekati? Bila perbaikan ekosistem alam sekitar kawasan longsor atau Tanah Karo tidak cepat ditangani?

“Begini, kita pisahkan antara neotektonik (tektonik baru) dengan gerakan tanah. Neotektonik itu merupakan aktivitas kegempaan yang bersumber dari dalam bumi. Gerakan tanah lebih cenderung disebabkan oleh terganggunya keseimbangan permukaan tanah,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, gerakan tanah bisa disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sementara vegetasi/hutan penutup sudah kritis. Kondisi demikian bisa menimbulkan gerakan tanah. Ada beberapa jenis gerakan tanah, gerakan tanah yang bergerak vertikal disebut jatuhan (fall), gerakan tanah dalam arah horisontal disebut sliding yang dalam bahasa Indonesia bisa beraneka sebutannya, “bisa merayap atau nendatan, bisa gelincir, bisa longsor”.

“Banjir bandang lain lagi ceritanya. Kerusakan hutan penutup (forest cover) bisa mengkondisikan terjadinya longsor tetapi tidak ada hubungannya dengan aktivitas neotektonik,” tambahnya.

Sedangkan ancaman terhadap Kota Medan kata Jonathan adalah banjir. Ada dua jenis banjir yakni, pertama banjir perkotaan (urban flood) banjir yang terjadi di tengah kota atau di kawasan perkotaan Medan. “Penyebab banjir utamanya karena drainase perkotaan tidak atau kurang berfungsi,” katanya.

Yang kedua, banjir bersumber dari luapan air di sungai-sungai yang melintasi Kota Medan. “Air berlebihan mengalir di sungai sungai, bisa disebabkan oleh curah hujan yang ekstra tinggi tanpa ada kerusakan hutan penutup di daerah resapan air pada daerah aliran sungai (DAS) tersebut, seperti yang terjadi di tahun 1958 atau 1959 itu.Banjir luapan sungai bisa pula terjadi karena DRA (Daerah Resapan Air) dari ekosistem sungai tersebut sudah kritis,” terangnya.

Artinya, belum ada efek atau akibat/pengaruh Neotektonik dari pusaran Sambahe?

“Jadi, penanggulangan banjir Kota Medan itu tidaklah sulit. Cuma niat saja yang tidak ada,” pungkas Pak Jo.(j02)

Foto

Ahli Geologi Indonesia, Ir. Jonathan I. Tarigan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2