Aceh Sukses Gelar Ilmiah Bedah Saraf Bertaraf Internasional - Waspada

Aceh Sukses Gelar Ilmiah Bedah Saraf Bertaraf Internasional

  • Bagikan
Kiri Atas: Prof Franco Servadei, Presiden WFNS. Kanan Atas: Ketua MPR RI, Bambang Soesetyo SE MBA. Kiri bawah: Presiden Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia, Prof DR Dr Abdul Hafid Bajamal SpBS(K). Kanan bawah: Suasana Workshop. Waspada/Ist
Kiri Atas: Prof Franco Servadei, Presiden WFNS. Kanan Atas: Ketua MPR RI, Bambang Soesetyo SE MBA. Kiri bawah: Presiden Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia, Prof DR Dr Abdul Hafid Bajamal SpBS(K). Kanan bawah: Suasana Workshop. Waspada/Ist

BANDA ACEH (Waspada): Aceh sukses menggelar acara ilmiah bedah saraf bertaraf internasional, demikian siaran pers yang diterima Waspada, Senin (2/8).

Dalam siaran pers itu disebutkan, dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan, Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) mengadakan kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Workshop yang diselenggarakan secara Daring dari Aceh, dari aula Kantor Gubernur Aceh, 24 hingga 25 Juli 2021.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Perspebsi, dengan menunjuk Perspebsi Cabang Aceh sebagai panitia pelaksana. Acara akbar ini berlangsung sukses, dengan opening ceremony yang diawali dengan pembacaaan ayat suci Alquran dan Lagu Indonesia Raya serta mars Perspebsi.

Opening dimulai oleh kata sambutan dari ketua panitia DR dr Imam Hidayat MKes SpBS FINPS, lalu Presiden Perpebsi, Prof DR Dr Abdul Hafid Bajamal SpBS(K). Selanjutnya Prof Franco Sevadei, Presiden Federasi Bedah Saraf Dunia (WFNS, World Federation of Neurosurgery) yang berkebangsaan Italia menyatakan selamat dan kegembiraannya atas acara tersebut, meskipun komunitas Bedah Saraf dunia sedang mengalami cobaan akibat pandemi Covid-19.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesetyo SE MBA dalam sambutannya. Acara lalu dibuka secara daring oleh Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah MT langsung dari laut Sabang di atas Kapal Motor Penyeberangan Aceh Hebat (KMP Aceh Hebat) tanpa ada hambatan.

Acara ini disaksikan oleh ahli bedah saraf yang berasal dari seluruh Indonesia, para undangan yang berasal dari Kementerian Kesehatan (drg Farichah Hanum, MKes/Ditjen Yankes), DPR Aceh (dr Purnama SB SpOG/Komisi V), Direktur RSUZA (dr Isra Firmansyah SpA) serta IDI Wilayah Aceh dan Kota Banda Aceh.

Pertemuan ilmiah bergengsi ini diisi oleh dokter dan profesor bedah saraf dalam dan luar negeri antara lain Malaysia, Dubai, Arab Saudi, USA, India, Swiss, Jerman, Jepang. Beberapa tokoh bedah saraf dunia ikut meramaikan acara ini seperti Saleem Abdul Rauf, guru besar Bedah Saraf Amerika yang telah menjadi visiting profesor di lebih 100 negara, dan Debora Garozzo, Ketua Organisasi Bedah Saraf di Dubai yang telah berkecimpung di subspesialisasi Peripheral Nerve Surgery selama lebih dari 30 tahun.

Ketua Panitia DR dr Imam Hidayat SpBS FINPS berterimakasih atas antusiasme seluruh peserta, kesediaan para panelis/moderator baik dalam maupun luar negeri, juga terhadap dukungan masyarakat dan Pemerintah, dukungan dari lembaga legislatif dan tentunya Perpebsi Pusat.

Perlu diketahui PIT Bedah Saraf ini adalah yang pertama kalinya turut dihadiri oleh pejabat negara yakni Ketua MPR RI, pertama kali dilakukan daring, dan pertama kalinya diadakan di Aceh.

Selain dapat lebih mengenalkan budaya Aceh di dunia dan Indonesia, Imam berharap suksesnya kegiatan ini menjadi api semangat baru bagi ahli Bedah Saraf Indonesia khususnya Aceh agar tetap berkarya dan up to date meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Imam juga menyampaikan acara besar ini seyogianya dilaksanakan tahun 2020 silam secara tatap muka, namun tertunda karena pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia sehingga harus dilaksanakan secara virtual.

Dalam pembukaan dan kata sambutan, Gubernur Aceh dan Presiden Bedah Saraf Indonesia serta Ketua MPR RI turut menyampaikan belasungkawa mendalam terhadap gugurnya ahli Bedah Saraf Indonesia semasa pandemi yang telah mencapai tujuh orang.

Ketua MPR RI Bambang Soesetyo SE MBA juga meminta agar pemerintah Indonesia memperhatikan fasilitas RS di Indonesia agar bisa setaraf dengan negara tetangga, dan perlunya dilakukan penyesuaian tarif BPJS khususnya terhadap operasi Bedah Saraf demi terpenuhinya pelayanan di seluruh daerah di Indonesia.

Demikian pula halnya dengan Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah, MT yang bersemangat mendukung kegiatan ini. Gubernur berterimakasih karena Aceh telah dipilih sebagai tuan rumah acara ilmiah ini. “Di Indonesia saat ini memiliki sekitar 400 orang ahli bedah saraf, dan di Aceh hanya memiliki enam orang ahli bedah saraf, sementara RSUDZA yang merupakan pusat rujukan harus melayani 23 kabupaten di seluruh Aceh, jumlah pasien yang ditangani jauh lebih banyak. Di Aceh, kasus cedera kepala dan stroke umumnya meninggal dunia karena keterlambatan rujukan. Selain itu, fasilitas RS rujukan belum memiliki standar pelayanan optimal dalam pelayanan Bedah Saraf. Kita patut bersyukur Perspebsi tidak tinggal diam melihat fakta masih sedikitnya tenaga kesehatan di bidang Bedah Saraf. Semoga pertemuan ini mampu menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi perkembangan dunia medis di tanah air,” demikian tutur Nova.

Ketua Panitia DR dr Imam Hidayat MKes SpBS (K) mengatakan, kegiatan tersebut diikuti langsung oleh 350 peserta selama dua hari. Mereka mendapat 80 paparan topik yang dibawakan oleh 77 pembicara dari dalam dan luar negeri. Kegiatan PIT kali ini dirangkai dengan kegiatan lain yakni pelatihan (Workshop) berskala nasional tanggal 25 Juli 2021, simposium mini pada 26 Juli 2021 dan Bakti Sosial 28 Juli 2021.

Tiga pelatihan telah diadakan yakni Workshop Neuronavigasi untuk ahli bedah saraf di Indonesia dengan instruktur dr Zainy Hamzah SpBS dan dr Syafrizal Abubakar SpBS (K). Workshop Penanganan Emergensi Kasus Bedah Saraf, untuk Dokter Umum Indonesia oleh instruktur dr T Yose MA MKed SpBS, dr T Jauhardin SpBS, dan dr Nasrul Musadir SpS (K). Workshop Keperawatan Kasus Bedah Saraf untuk Perawat di Indonesia oleh instruktur Enny Mulyatsih MKep Sp KMB dkk dari HIPENI (Himpunan Perawat Neurosain Indonesia).

Simposium mini dilakukan bekerjasama dengan IDI Pidie, dengan pembicara utama dr Syafrizal Abubakar, SpBS (K) dari Jakarta dan dr T Jauhardin SpBS ahli bedah saraf di RSUD Kota Sigli. Bakti sosial dilakukan berupa penanaman pohon dan pemberian bantuan pada Dayah Darussaudah di Tangse, Kabupaten Pidie pada hari berikutnya oleh Perspebsi Cabang Aceh.

Untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan ini dua Pengurus Pusat Perspebsi ikut turun langsung ke Aceh, yakni dr Zainy Hamzah SpBS dan dr Syafrizal Abubakar SpBS (K), seorang dokter bedah saraf senior di Indonesia yang berdarah Asli aceh.

“Saya sebagai orang Aceh turut bangga. Kami sangat senang acara PIT Bedah Saraf berlangsung sukses, harapan kita bersama, bedah saraf di Aceh ke depannya dapat menjadi contoh pelayanan terbaik bagi daerah lain di Indonesia agar angka kematian akibat kasus bedah saraf di seluruh Indonesia dapat ditekan,” demikian Syafrizal.

PENYERAHAN plakat penghargaan dari Ketua panitia kepada Pemerintah Aceh diwakili oleh Asisten III Sekda Aceh, DR Iskandar AP SSos MSi. Waspada/Ist
PENYERAHAN plakat penghargaan dari Ketua panitia kepada Pemerintah Aceh diwakili oleh Asisten III Sekda Aceh, DR Iskandar AP SSos MSi. Waspada/Ist

Sementara Sekretaris Perspebsi Aceh dr Iskandar SpBS menyampaikan, saat ini Aceh memiliki angka kematian yang cukup tinggi pada kasus bedah saraf, terutama cedera kepala dan stroke perdarahan.

“Di sisi lain, untuk melayani 5,3 juta penduduk, hanya ada enam tenaga ahli bedah saraf di Aceh saat ini. Empat diantaranya di RSUDZA (dr Bustami SpBS, dr Imam Hidayat SpBS, dr Iskandar SpBS dan dr T Yose SpBS), lainnya di RS Kesdam Iskandar Muda (Letkol Ckm dr Bayu Dewanto SpBS) dan RSUD Cik DiTiro Sigli (dr T Jauhardin SpBS),” sebutnya.

Diharapkan ke depannya Pemerintah bersama Perpebsi Aceh dapat mewujudkan ketersediaan tenaga ahli bedah saraf di seluruh daerah di Aceh, dengan fasilitas yang optimal. Saat ini Perspebsi Aceh berkomitmen melakukan pengembangan subdivisi Bedah Saraf (sub-spesialisasi) yang meliputi neuro-fungsional, neuro-spine, neuro-pediatrik, neuro-vascular, neuro-trauma, saraf perifer, dan neuro-onkologi di Aceh. “Salah satunya menggiatkan acara ilmiah dan update keilmuan seperti acara ini”, ucap Iskandar. (m14/cdk)

  • Bagikan