Waspada
Waspada » 90 Mahasiswa Aceh Di Sudan Butuh Perhatian Khusus Pemerintah
Headlines Internasional

90 Mahasiswa Aceh Di Sudan Butuh Perhatian Khusus Pemerintah

Keadaan Kota di Sudan sepi sejak dilakukan lockdown. 90 mahasiswa Aceh di Sudan butuh perhatian. Waspada/Ist
Keadaan Kota di Sudan sepi sejak dilakukan lockdown. 90 mahasiswa Aceh di Sudan butuh perhatian. Waspada/Ist 

SUDAN (Waspada): 90 Mahasiswa Aceh di Sudan butuh perhatian khusus dari pemerintah. Demikian siaran pers Kekeluargaan Mahasiswa Aceh di Sudan yang diterima Waspada Senin (20/4).

Sudan selain sedang menghadapi instabilitas politik juga menerapkan penjagaan ketat untuk memutuskan  penyebaran virus Corona (Covid-19).

Setiap hari diberitakan bahwa korban yang terpapar semakin bertambah, meskipun sejak 18 Maret 2020 pemerintah sudah memberlakukan lockdown bandara.

Juga memberlakukan jam malam untuk pembatasan aktivitas warga.

Malah sekarang meningkat menjadi lockdown total dan dilarang keluar rumah sejak Sabtu 18 April 2020.

Serta keadaan darurat dengan menerapkan sanksi denda SDG 5.000 sampai SDG 20.000 atau berkisar Rp. 700.000 sd Rp. 2.800.000.

Sementara Ketua Kekeluargaan Mahasiswa Aceh Muammar menjelaskan, kondisi Sudan sejak terjadinya kudeta terhadap presiden Omar Bashir dilanjutkan oleh pemerintahan transisi, tidak stabil.

Sehingga kerap terjadi demonstrasi, bentrok antara loyalis pemerintahan lama dengan transisi serta adanya upaya pembunuhan terhadap perdana menteri dan pejabat pemerintahan transisi, sebut Muammar.

“Akibat dari ketidakstabilan politik dan ekonomi serta wabah COVID-19 mengakibatkan harga barang melambung tinggi.”

Para pedagang mengambil celah memainkan harga sehingga sulit dijangkau masyarakat, kata Muammar.

Bahkan lanjutnya, terjadi kelangkaan bahan bakar kendaraan dan gas LPG untuk dapur.

Kadang mereka harus menggunakan arang untuk masak sehingga 90 mahasiswa Aceh di Sudan butuh perhatian.

Kondisi demikian mengakibatkan kerawanan keamanan sehingga semakin meningkatnya kasus pencurian dan perampokan terjadi baik pada masyarakat umum maupun mahasiswa.

Krisis

“Krisis ini diperparah dengan merebaknya wabah COVID-19 yang semakin meluas bahkan terjadi rasisme terhadap warga asing khususnya Asia, disebabkan wabah ini awal munculnya di Asia, Wuhan China,” tulis rilis tersebut.

Ia menegaskan, jika penyebaran virus corona terus bertambah maka pemerintah Sudan akan sangat kewalahan menghadapi dan mengatasi pandemi ini karena keterbatasan tenaga medis dan peralatan kesehatan.

Rilis itu juga menyebutkan semenjak ditetapkan pasien pertama positif pada Maret 2020, Pemerintah Sudan dan pihak universitas meliburkan seluruh aktivitas kampus hingga batas waktu yang tidak ditentukan, hal ini sangat berdampak pada keberlangsungan proses pendidikan dan keberadaan mahasiswa asing di Sudan, tanpa terkecuali. +

“Kami mahasiswa dan mahasiswi dari Aceh saat ini berjumlah sekitar 90-an orang yang terhimpun dalam organisasi Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Sudan dengan ketuanya Muammar Hanafiah Lc, mahasiswa program magister jurusan Hadis pada International University of Africa.

Kampus ini merupakan dominasi terbanyak mahasiswa Aceh, di samping kampus lainnya di berbagai jenjang pendidikan dari S1, S2, dan S3 baik di dalam maupun luar Khartoum sendiri, seperti Bakht Al Rudha University di Dueim, University of Gezira di Wad Madani, Khartoum International Institute For Arabic Language, dan Omdurman Islamic University,” sebut Akmaluddin, Sekretaris Kekeluargaan Mahasiswa Aceh di Sudan.

Menurut Muammar, pihaknya juga sudah mengirimkan surat kepada Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan pimpinan DPRA untuk memohon perhatian dan bantuan akibat dari krisis dan dampak pandemik yang dirasakan para mahasiswa Aceh.

“Kami harapkan kepada Pemerintah Aceh dan DPRA dapat menyahutinya dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua,” tutupnya Tgk Akmaluddin, S.Hum selaku sekretaris KMA.(cb07)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2